NTT  

Wakil Gubernur NTT, Yosef Nae Soi: Saya Membaca Maka Saya Tahu

whatsapp image 2022 05 09 at 13.12.04
Bedah buku "Jalan Sambil Berjalan" karya Robert Bala, Ph.D di Auditorium Universitas Widya Mandira Kupang, Sabtu, (7/5/2022).

Kupang, detakpasifik.comPepatah Latin menyebutkan lego ergo scio. Artinya, saya membaca maka saya tahu. Pepatah Latin ini, sesungguhnya hendak mengajarkan kepada manusia tentang spirit dan modal utama manusia dalam ziarah kehidupannya di dunia ini agar manusia sanggup menjadi bagian dari komunitas masyarakat intelektual.

Masyarakat intelektual adalah masyarakat akademik, masyarakat ilmiah. Artinya, manusia senantiasa membahas segala sesuatu berdasarkan ilmu pengetahuan. Bukan berdasarkan emosi, apalagi berdasarkan kecenderungan pilihan politik.

Pernyataan itu dikemukakan Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi saat beliau membuka acara diskusi bedah buku berjudul “Jalan Sambil Berjalan” karya Robert Bala, Ph.D di Auditorium Kampus Unwira, Kupang, Sabtu (7/5/2022).

Buku setebal 266 halaman ini dibedah oleh Pater Philipus Tule, Ph.D (Rektor Universitas Katolik Widya Mandira), dan tokoh awam Katolik NTT, Drs. Frans Skera dan dihadiri sedikitnya 150 peserta baik peserta luring maupun online via zoom meeting. Penulis buku Robert Bala, Ph.D hadir bersama istri.

Robert Bala memberi latar belakang mengapa karya misionaris Amans Laka, SVD itu patut dan layak ditulis dalam bentuk buku. Apa yang dilakukan Pater Amans Laka, SVD di Argentina merefleksikan makna tindakan pastoral. Sebagai pastor dia tidak hanya asyik berpastoral di altar, tetapi berpastoral ke medan laga ke kehidupan konkret manusia miskin.

Amans Laka, memberi contoh pastoral pertanian yang membebaskan kaum tertindas. Karenanya, untuk mengenang jasa Pater Amans Laka, SVD, Pemerintah Argentina menyematkan nama Emans Laka sebagai nama salah satu jalan raya di Buenos Aires Argentina. Dari Indonesia hanya ada dua orang yang namanya dijadikan nama jalan di negara lain yaitu Presiden Jokowi dan Pater Amans Laka, SVD.

Menurut Wagub NTT, sesuai judul buku yang dibedah ini, “Jalan Sambil Berjalan”, darinya banyak hal yang patut direnungkan dan dicermati. Karena menurut wagub, memang banyak jalan, tetapi banyak orang juga tidak sadar bahwa dirinya sedang berjalan. Semua manusia, dapat saja berjalan (sanggup berjalan) dan dapat jalan (solusi), tetapi tidak semua bisa berjalan (membawa dampak). “Jalan yang dijalani itu harusnya membuahkan hasil yang membawa akibat pada progres dan ada output yang dirasakan oleh banyak pihak,” ujar mantan anggota DPR RI dua periode ini.

Menilik pada isi buku yang mengisahkan atau menulis kesaksian tentang karya pastoral Pater Amans Laka SVD di daerah perutusan di Argentina, Wagub Josef Nae Soi mengatakan, sebagai pribadi maupun sebagai pemerintah, dirinya berterima kasih kepada ordo Societas Verbi Devini (SVD) karena SVD telah banyak berjasa bagi pengembangan intelektual manusia NTT.

Klik dan baca juga:  Gubernur NTT Menyerukan PSSI Dibangun dengan Paradigma Peradaban Baru

“SVD telah mencurahkan banyak perhatian dan berjasa bagi kepentingan pencerahan intelektual masyarakat NTT. Saya pribadi merasa berutang budi kepada SVD. Saya bangga dengan SVD. Saya berutang budi dengan SVD,” tandas Wagub NTT.

Menurut Wakil Gubernur NTT, semua manusia terpelajar NTT, mestinya melakukan segala sesuatu secara sistematis sebagai cara mengatasi masalah hidup ini. Misalnya, pertama kita melihat masalah atau realitas sosial, kemudian kita menganalisis realitas sosial itu dan kemudian kita berbuat sesuatu untuk mengubah realitas buruk yang kita hadapi itu.

“Saya pikir, masing-masing kita menghayati panggilan hidup kita dengan dasar yang sangat jelas. Bagi saya, keajaiban yang menarik ialah keajaiban nasib manusia. Tujuan hidup saya adalah milik yang mengutus saya. Dalam konteks pemerintah sebagai wakil gubernur, maka tujuan kerja saya adalah milik dari mereka yang mengutus saya ke kursi Wakil Gubernur NTT. Itulah sebabnya saya dan Pak Viktor bekerja serius mengatasi masalah yang dihadapi rakyat NTT,” jelasnya bernada filosofis.

Pater Amans Laka, SVD adalah seorang pastor dari ordo Societas Verbi Divini (SVD). Dia tamat Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero, Maumere, Flores. Amans Laka anak ke 6 dari 9 bersaudara. Amans Laka lahir di Kota Kefamenanu dari pasangan Bernardus Laka dan Arnoldina Bete.

Reflekmatis

Menurut Pater Dr. Philipus Tule, SVD apa yang dilakukan Amans Laka, SVD di Argentina dan Cuba semacam reflekmatis tentang panggilan iman seorang pastor dalam perutusannya di medan dunia. Amans Laka menghadirkan gereja di tengah umat yang menderita.

“Sebagai mantan murid di Seminari Tinggi Ledalero, saya berbangga. Guru mengharapkan muridnya lebih besar daripada gurunya. Begitulah Pater Amans Laka, SVD ketika saya merujuk pada karya pastoralnya di negara Argentina dan Cuba,” ujar Rektor Unwira ini.

Menurut Pater Philip Tule, konteks historis negara-negara di Amerika Latin mengundang semua misionaris untuk melakukan aksi pastoralnya dari altar ke lapangan. Pater Amans Laka telah sanggup memperlihatkan kepada kita semua tentang pentingnya pendidikan tanpa tekanan.

Pater Amans Laka telah memperlihatkan model pendidikan kepada para petani yang dapat mengubah keadaannya dengan cara-cara yang benar dan tepat. Gereja katolik tidak hanya dipanggil untuk membebaskan manusia dari penderitaan, tetapi juga mengajak dan mendidik para orang kaya agar mereka sanggup membagi rezekinya kepada kaum tertindas.

Klik dan baca juga:  Wagub NTT: Tidak Ada Lagi Bilang Kau Suku Mana dan Agama Apa, No Way!

“Ladang pendidikan dan ladang pertanian harus menjadi ladang teologi pastoral. Pendidikan penyadaran atau pedagogy of no oppressed bertolak belakang dengan pendidikan dengan tekanan atau pedagogy of oppressed,” ujar Rektor Unwira ini.

NTT patut berbangga dengan kehadiran Amans Laka, SVD di tengah pergulatan sosial politik di Argentina. Pater Amans adalah ambassador NTT (Indonesia). Ia sebagai utusan bangsa dan delegatus pendidikan pertanian di negeri perutusannya.

Refleksi  untuk NTT, ialah bahwa NTT tidak kurang manusia berkualitas baik. Ada manusia NTT menjadi manusia langka di tanah air. Hanya ada dua manusia hidup yang namanya telah dipakai sebagai nama jalan di negara asing justru karena karya mereka untuk kepentingan banyak orang. Dua orang itu adalah Jokowi dan Pater Amans Laka, SVD.

Produk SVD

Sementara itu, tokoh awam Katolik NTT, Frans Skera, berpendapat bahwa banyak pejabat di NTT adalah produk dari pendidikan sekolah yang dikelola SVD yang menyebar di Timor dan Flores. Frans Skera menyebutkan, pengalaman dan karya pastoral Pater Amans Laka, SVD merepresentasikan pentingnya pendidikan di dan dari rumah. Pendidikan di dalam keluarga sebagai fundasi dasar yang kokoh untuk pengembangan anak manusia.

Frans Skera melukiskan, bahwa keluarga Pater Amans Laka, SVD adalah keluarga yang berpola hidup sederhana, meski orangtuanya (ayahnya) pejabat penting di Kabupaten Timor Tengah Utara, Kefamenanu, NTT. Keluarga Pater Amans adalah keluarga terpelajar di Kefamenanu. Maka, pengalaman Pater Amans Laka adalah bagian dari proses sejarah panjang pendidikan terhadap seorang anak manusia.

Pada masa kini, tantangan terbesar adalah bagaimana pembentukan karakter berbasis mutu pendidikan, disiplin dan dedikasi di tengah jebakan perkembangan ilmu pengetahuan yang memproduksi teknologi komunikasi yang kian cepat.

Sekolah-sekolah Katolik, harus tetap pada jati dirinya sebagai institusi pembentuk karakter yang tangguh dan kuat meski badai perubahan kian mengguncang.

Pater Amans Laka, salah satu contoh fenomenal yang menjelaskan bahwa sekolah tak hanya berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan agar peserta didik mengetahui ilmu pengetahuan, tetapi juga sekolah merupakan tempat di mana para peserta didik dilatih untuk mengetahui cara menerapkan ilmu pengetahuan di medan tugas masing-masing di dunia ini.

Klik dan baca juga:  Seminari Tinggi Ledalero Mengutus 43 Orang Frater ke Tempat Praktik Pastoral

Menurut Frans Skera, Pater Amans, SVD telah berhasil menerapkan pastoral pertanian di Argentina. Pastoral pertanian itu merepresentasikan basis pengalaman hidupnya di Timor, NTT.

Kritikus sosial ini berpendapat, NTT seharusnya menjadi tempat pertanian unggul. Tetapi, tampaknya  pemerintah kurang memberikan perhatian serius. Pemerintah post El Tari, Ben Mboi dan Fernandez, terjadi semacam patahan sejarah.

Di era kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat, pertanian memang sudah mulai diperhatikan. Tetapi perhatian pemerintah kepada pertanian belum masif dan fokus. Hal itu tampak melalui alokasi anggaran pembangunannya. Sementara kendala lain ialah perihal koordinasi dengan kabupaten. Tampak koordinasi masih pincang sehingga tidak adanya keserempakan gerakan pembangunan terutama pada program prioritas pembangunan yang sama.

Akibatnya, misi otonomi tidak tampak jelas. Otonomi nyaris gagal. Tujuan utama otonomi adalah pemberdayaan ekonomi rakyat. Lalu pertanyaannya, mengapa anak-anak muda lebih memilih naik ojek dan pergi ke Malaysia, tetapi tidak mengolah tanah sebagaimana dilakukan Pater Amans Laka? Pater Amans Laka adalah contoh tokoh yang larut dalam fenomena sosial, tetapi dia tidak hanyut di dalamnya.

Frans Skera menyerukan agar Pemerintah NTT (provinsi maupun kabupaten/kota) fokus mengatasi masalah pertanian, karena ekonomi rakyat NTT berbasis pertanian. Ke depan mesti dirancang serius agar pertanian dikelola beriringan dengan pengelolaan air di semua wilayah pertanian.

Diskusi buku “Jalan Sambil Berjalan” berhasil lancar diselenggarakan berkat kerja panitia yang dipimpin pengamat sosial nan kritis, Isidorus Lilijawa. Diskusi bedah buku dihadiri antara lain Prof. Dr. Philip de Rosari, Pater Yulius Yasinto, SVD, Politisi PDIP Epi Seran, para dosen Unwira, para pastor dan suster, anggota keluarga Pater Amans Laka, SVD, para mahasiswa Unwira dan staf khusus Gubernur NTT, Pius Rengka. Diskusi bedah buku dimoderatori salah satu wartawan cerdas NTT, Tony Kleden, mantan frater STFK Ledalero sahabat Amans Laka, SVD.

Buku “Jalan Sambil Berjalan” dijual dengan harga Rp100.000/eksemplar. Menurut rencana, hasil penjualan buku disumbangkan untuk misi perutusan para imam di wilayah perutusan mereka di luar negeri. Para imam SVD telah mengirim misionarisnya ke berbagai negara di seluruh dunia sesuai tema persoalan negara masing-masing.

Informasi yang diperoleh menyebutkan, imam SVD jebolan STFK Ledalero, telah dikirim ke negara-negara di Amerika Latin, Amerika Utara, Afrika, Australia, Eropa Barat dan Timur dan negara-negara di Samudra Pasifik lainnya.

 

(dp/pr)