Viktor Laiskodat Kunjungi Wologai, Kampung Adat di Flores Berusia 800 Tahun

  • Bagikan
Viktor Bungtilu Laiskodat di Kampung Adat Wologai, Ende.

Ende, detakpasifik.com – Kampung adat Wologai pada Rabu (26/5/2021) mendadak ramai. Di gerbang kampung, berjarak sekitar seratus meter dari pintu masuk utama Kampung Wologai, dua kelompok penari melenggak-lenggok, bergemulai diiringi bunyi suling dan gendang menyambut kedatangan rombongan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Kampung adat Wologai di Desa Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende memang menjadi salah satu tempat yang dikunjungi Viktor Bungtilu Laiskodat saat melakukan kunjungan kerja sepekan di daratan Flores.

Viktor dan rombongannya tiba sekitar pukul 11.00 WITA setelah menempuh perjalanan dengan jarak +37 kilometer dari Kota Ende. Ia diantar para penari menuju mulut kampung adat Wologai yang diperkirakan telah berusia 800 tahun.

Rumah adat Kampung Wologai berbentuk kerucut dengan atap ilalang dan ijuk yang didirikan di atas pondasi batu.

Di mulut kampung, di sebuah tangga kecil dari susunan batu rombongan Gubernur NTT untuk kali kedua berhenti. Mereka harus melalui ungkapan selamat datang yang disampaikan dalam tutur adat oleh mosa laki, tetua adat kampung Wologai.

Klik dan baca juga:  Menengok Pesan Viktor Laiskodat Terhadap Penyaluran Beras di Masa PPKM

Tim detakpasifik menyaksikan upacara penyambutan itu dengan sebaik-baiknya. Semuanya terlihat sakral  dan menakjubkan.

Usai diterima secara adat, Viktor selanjutnya diarahkan masuk ke dalam rumah inti kampung adat itu. Di rumah adat ini, Viktor dipakaikan atribut adat dan menjadi penanda ia telah diterima sebagai bagian dari keluarga besar Wologai.

Viktor lalu ditemani mosa laki mengelilingi kampung adat ini. Cara memutar untuk berkeliling di dalam area kampung ini juga tidak sembarangan. “Harus ke arah kiri pa putarnya sehingga nanti sampai pas di tangga keluar,” ujar Adolfus Riku, warga kampung adat Wologai.

Setelah keluar dari kampung adat ini, Viktor menyempatkan diri berpose di bawah pohon beringin yang tumbuh persis di bagian kanan pintu masuk kampung. Warga Kampung Wologai percaya pohon beringin itu ditanam para leluhur dan usianya seturut usia kampung adat itu.

Klik dan baca juga:  Kolaborasi Pemerintah dan Gereja Majukan NTT
Viktor Laiskodat berpose di bawah pohon beringin di mulut Kampung Wologai, Ende.

Satu hal yang paling unik dari kampung adat Wologai adalah arsitektur seluruh bangunannya yang berbentuk kerucut. Selain itu, yang diperbolehkan masuk ke dalam kampung ini hanya orang yang memakai ragi, sebutan untuk sarung adat setempat. Namun, bagi pengunjung yang datang tidak perlu khawatir karena di tempat ini ada banyak ragi yang dipajang untuk anda sewakan sementara.

Kampung adat Wologai dihuni 6 suku di antaranya, Bisi Koja, Sao Sokoria, Sao Rini, Sao Atawolomena, Sao Ata Nua Ro’a dan Sao Wilogale. Menurut Adolfus Riku, kampung adat ini dulunya ramai setiap hari sebelum merebaknya pandemi Covid-19.

Klik dan baca juga:  Pengelolaan Rumput Laut Diminta Tanpa Bahan Kimia

“Dulu sebelum Covid ramai setiap hari, bisa 50 pengunjung yang datang. Tapi sekarang tidak ada sama sekali, baru Pak Gubernur hadir ini ramai lagi,” ujarnya.

Para mosa laki kampung adat Wologai.

Viktor Laiskodat saat itu mengaku bangga dengan kondisi kampung adat Wologai yang tetap dijaga kelestariannya.

Menurutnya, dua jenis destinasi wisata yang diminati para wisatawan adalah destinasi alam dan budaya. “Ini tempat yang spesial di NTT. Wologai ini memenuhi syarat sebagai pariwisata alam dan budaya,” katanya.

Dalam kunjungan Viktor di kampung adat ini dilakukan juga penyerahan dana CSR oleh Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho kepada Bupati Ende, Achmad Djafar untuk keperluan pembangunan MCK di Kampung adat Wologai dan penyerahan dana bantuan sosial dari Pemerintah NTT sebesar 25 juta kepada BUMDES KITA di kampung adat ini.* (JP)

  • Bagikan