Ruteng Selayang Pandang: Makin Dipandang Kian Terpandang

  • Bagikan
Pius Rengka.

Kota Ruteng adalah “Mama dan Bapa” yang mengandung dan mengantar anak-anaknya pergi ke tempat jauh meski harus dirundung malang dalam tiap jejak langkahnya. Kota Ruteng selayang pandang, kian dipandang justru kian “terpandang”.

Oleh Pius Rengka

Tahun 1963. Usia saya merangkak 8 tahun ketika perjalanan Nul, Kedaluan Riwu menuju Ruteng ditempuh jalan kaki.

Tak ada oto yang melintas. Kuda pun jarang. Tetapi, sepanjang perjalanan langkah kaki kami begitu enteng dan pasti. Mandi peluh usai mendaki jalan berbukit. Bunyi burung bagai seruling tongkeng berganti bertalu mengiringi perjalanan kami melalui hutan lebat di Rongket. Pohon berjanggut, tumbuh menjulang meraih langit biru. Burung aneka jenis dan warna terbang bebas.

Nul adalah dusun kecil di Kedaluan Riwu. Letaknya tak jauh dari kampung Pongkor, Pandang dan Lamba. Kraeng Dalu kala itu, Bapa Dampung. Saya menyapanya Om. Salah satu anak cantik Om Dampung, adalah Enu Mia Dampung. Perawakan tinggi, hitam manis, selalu ramah menerima para tamu. Santun bertutur. Dia tersenyum seolah-olah tak bakal pernah punah. Baik sekali.

Wibawa Kraeng Dalu Riwu itu sungguh penuh. Bijak bestari. Tetapi, jangan salah kira. Saat dia memutuskan sengketa antarwarga, Kraeng Dalu Dampung senantiasa setia pada kata-kata pantas, tetapi tandas dan tegas. Beliau riang, juga gampang dijumpai. Dia duduk melingkar dengan sesama warga, bersimpuh di tikar yang sama memecahkan segala perkara. Om Dampung menetaskan perkara sulit dengan cara amat sangat enteng, bijak sebagaimana biasa.

Beliau tinggal di Kampung Lento. Lento 5 km dari Nul. Untuk mencapai Lento, kami harus melewati anak Sungai Wae Redong nan jernih dan berlimpah (dulu saya sangat lama menduga kalau di sungai itulah Moses, turunan Israel, disembunyikan Ibunya demi jauh dari ancaman maut Firaun Mesir). Dan, ada Watu Naru.

Tatkala tanta gila Aratia naik musim, dia berteriak sesukanya tanpa menjaga harmoni koloni. Caci maki, sumpah serapah dan menghina habis-habisan seisi kampung. Masa gila Aratia, cukup lama, tetapi pakai musim pula.

Jika bulan purnama tiba, Aratia meronta berteriak sejadi-jadinya. Dan, malam hari dia melancong hingga nun jauh entah ke mana. Sebagai anak kecil, apalagi anak guru sekolah dasar masih ingusan, saya takut mengkerut sejadi-jadinya tepekur di sudut tempat tidur diam tanpa bicara dalam kelam malam. Saya mendengar teriakan Aratia.

Pengalaman Nul, sungguh berkesan. Perkenalan pertama saya dengan agama Katolik pun mulai dirajut di situ. Ayah saya Geradus Rengka adalah seorang guru. Dia piawai berkisah tentang segala kejadian di Kitab Kejadian, seolah-olah dia sendirilah terlibat di semua peristiwa itu.

Itulah sebabnya hingga kami eksodus dari SDK Nul, saya selalu mengira, Gunung Sinai itu adalah Poco Lia dekat kepungan Kampung Uwu, Mawe dan Ndilek. Kisah tentang Musa menerima 10 perintah Allah di Gunung Sinai, persis berakhir tatkala kami tiba di kaki gunung Poco Lia itu, sembari jari telunjuk Bapa Geradus Rengka, menunjuk ke pucuk puncak Poco Lia. Kisah eksodus bani Israel keluar dari perbudakan Mesir, berakhir di kaki gunung Poco Lia.

Pindah ke Rejeng

Kami pindah ke SDK Rejeng, Kedaluan Lelak. Bapa berceritera. Perjalanan menuju Ruteng melewati Bealaing, dan hutan Rongket. Dia menambahkan, hutan Rongket lebat sekali. Di situlah, para penyamun merampok. Sebagai anak kecil, mendengar ceritera itu, menimbulkan rasa takut bukan main.

“Saya harap kita tiba di situ siang hari. Kita berjalan lebih cepat agar kita melewati hutan Rongket saat masih ada matahari,” ujarnya sambil melihat saya jalan beriring dengan adik-adik saya N Rengka Yohanes (6 tahun), Antony Rengka (4 tahun), dan si bungsu yang masih harus dilancok (dipikul melingkar leher pemikul) Marcel Rengka (2 tahun).

Mama mengandung 8,5 bulan. Dia pun jalan kaki. Terseok-seok lamban. Kadang dia menunggang kuda kiriman family dari Kampung Gonggong, Lelak. Tetapi, kuda yang ditunggang itu kerap jalan keluar jalur jalan, entah karena sensitif melihat ular yang melintas.

Kondisi jalan Bealaing Ruteng, buruk. Tetapi tak ada pilihan lain. Itulah satu-satunya jalan oto. Saya berharap kami dapat naik oto yang bakal datang. Tetapi tidak.

Satu-satunya hiburan perjalanan ialah harapan agar kami segera melihat Kota Ruteng. Saya mau melihat Baba dan Nona yang sering diceriterakan orang. Katanya, Baba dan Nona itu, bakok-bakok (putih-putih), reba di’a (ganteng) dan molas (cantik). Juga kaya. Ceritera itu sungguh telah merasuk masuk jauh ke relung folder ingatan kami. Terutama saya.

Klik dan baca juga:  Viktor Itu Gubernur Viral, Fenomenal, Kontroversial Tetapi Desisif

Kami tiba pukul 18.00 Wita di Ruteng. Di gerbang timur Ruteng, Bapa Geradus bertindak seperti Musa. Sambil tangannya diangkat ke atas, dia mengumumkan bahwa Kota Ruteng sudah dekat.

Hati saya sungguh riang. Ruteng pun akhirnya kami lewati. Tetapi, saya belum sempat melihat Baba dan Nona. Lampu listrik Kota Ruteng tidak ada. Semburat cahaya muncul dari celah rumah jabatan bupati. Siraman sinar lampu gas menyembul dari celah rumah papan para Baba. Anjing melolong bergantian. Kami menginap di Woang, di rumah Om Mantri Rikus. Kami tinggal tiga minggu di Woang karena Mama melahirkan adik saya Ferdin Rengka.

Pagi keesokannya, saya bergegas pergi dengan seorang keluarga. Saya ke Kota Ruteng. Bagaimana sesungguhnya wajah kota itu? Bagaimana bentuk Baba dan Nona yang dikabarkan sebelumnya sebagai orang putih bersih mata sipit, rambut air dan kaya. Bagaimana pula rupa polisi yang selalu menenteng senjata supaya dilihat rakyat itu? Bagaimana pula bentuk roti bakar dan apa kiranya isi tokong (toko) milik Baba dan Nona?

Semua pertanyaan ini merangsang hasrat ingin tahu saya. Dada saya pun berdegup kencang sebegitu rupa sehingga jalan Woang Ruteng sama sekali tak terasa sakit meski jalan serba berbatu.

Melihat Ruteng

Di Ruteng itulah pertama kali saya melihat Oto Rongkeng, Oto Jip, Motor Fit, dan melihat anjing milik Baba yang gemuk-gemuk. Aroma gorengan merebak dari sela-sela tokong sungguh membakar rasa lapar. Tetapi, kami jalan terus, tanpa alas kaki karena belum tahu pakai sendal.

Saya melihat pohon-pohon cemara berbaris rapi di tepi jalan. Daun-daun jatuh ke jalan. Saya melihat Gereja Katedral. Saya mengagumi gereja besar itu. Saya melihat patung Yesus Kristus tangan mendepa dekat rumah Baba Ike.

Saya berjalan di tepian karena khawatir kalau-kalau gerep le oto (dilindas mobil) saya. Saya takut lewat depan kantor polisi. Saya ingat ceritera orang kampung kalau polisi itu jahat bukan main karena tukang tembak ayam milik orang.

Jumlah oto di Ruteng lebih dari satu, tetapi lebih banyak oto besar (truk). Satu di antaranya Oto Rongkeng. Kelak hari saya tahu, Oto Rongkeng itu adalah oto pengangkut kayu-kayu besar dari poco (hutan) yang telah ditumbangkan oleh pengusaha. Oto Rongkeng menjadi saksi bisu kisah pembabatan hutan di Manggarai. Kayu-kayu keras dan besar menjadi bantalan jembatan-jembatan yang diatapi daun alang-alang agar jembatan tidak lekas lapuk.

Waktu terus berlalu. Saya melihat air nan jernih mengalir deras ke dataran rendah melalui got-got di kota. Di sebelah barat kantor polisi ada slembak (kolam renang). Konon slembak itu, berfungsi sebagai kolam renang, tetapi juga untuk merendam para pencuri yang ditangkap.

Air Wae Locak mengalir deras dan jernih. Jembatan terbuat dari kayu. Kami berjalan ke arah timur, melihat sekolah SGA (Sekolah Guru Atas). Saya melihat gedung APK (akademi pendidikan kateketik). Pokoknya, sepanjang hari itu hingga senja, saya jalan sampai ke rumah misi.

Saat itu, orang menyebut misi begitu saja. Rasanya di situlah tempat berhimpun orang kudus. Tetapi di situ juga ada banyak tukang kayu yang disebut ambaks. Orang misi piara babi besar, piara sapi juga. Susunya kemudian diperah diminum orang biara.

Jalan di Kota Ruteng, berbatu. Saya melihat Pastor Belanda menunggang motor besar. Saya terpukau. Kemudian hari saya tahu pastor itu adalah Pater Roosmalen, SVD.

Peristiwa masuk Kota Ruteng adalah peristiwa gembira maha hebat. Pengalaman asyik yang menyenangkan. Begitulah selama tiga minggu di Woang, saya pergi pulang pesiar ke tokong dan ke amba (pasar). Di amba itulah saya melihat tokoh kunci amat berpengaruh dan populer bernama Mambelu (tukang tagih pajak di pasar).

Waktu terus berlalu. Kami tinggal dan sekolah di Rejeng. Tetapi, saya selalu datang ke Ruteng, entah menemani manstaat ambil gaji para guru SDK di Kantor Vedapura (Fedapura?) belakang Gereja Katedral.

Gaji Bapa selain dipakai untuk membeli minyak tanah dan minyak kelapa, garam dan seikat ikan tembang kering atau ikan cara, tetapi juga membeli roti bakar atau sebombon. Mama saya selalu berpesan, “eme manga seng koem to’ong neka hemong weli roti agu sebombong koem awo Baba (jika ada uang kecil jangan lupa beli roti dan gula-gula di toko). Saya suka sebombong lidi, warna merah.

Di Ruteng saya melihat Baba Cenget, tukang foto. Baba Tete, Baba Celi. Baba Ike disebut-sebut sebagai Baba paling kaya di Ruteng. Om Polus Kantor dan Om Polus Mahu juga disebut-sebut sebagai orang kaya.

Klik dan baca juga:  Frans Lebu Raya Telah Berangkat ke Sana

Kemudian hari saya tahu Om Polus Kantor adalah saudagar kopi dari Bealaing, ayah dari Ir David Kantor. Om Polus Mahu pemilik Oto Siapa Kira. Oto “Siapa Kira” saya kira karena Om Polus Mahu mau mengatakan kepada khalayak siapa pernah menduga akan ada orang kaya dari Woang.

Waktu terus berlalu. Kota Ruteng gelap. Listrik bermesin generator hanya ada di misi. Bruder Pius, asal Maumere, sangat terkenal di masa itu. Dia hitam sekali, tetapi giginya putih bersih. Ada Bruder Wonggor. Tinggi putih. Saya takut bertemu dia karena matanya biru. Para pastor selalu pakai jubah. Mereka rajin bervir, terutama sore hari.

Ruteng adalah tempat burung-burung. Burung-burung liar berterbangan dari pohon ke pohon. Burung merpati milik para Baba juga terbang di seputar tokong. Pemandangan sungguh indah. Pohon beringin masih di situ sejak lama. Rindang sekali. Di situlah tempat burung-burung besar membangun sarang. Tak ada pengganggu.

Ganti Bupati

Namun, waktu teruslah mengalir dan berlalu. Bupati Carolus Hambur diganti. Bapa Frans Sales Lega memimpin Manggarai (1968-1978). Pembangunan pun bergemuruh. Listrik tenaga air dibangun di Wae Garit. Bandara Udara Satar Tacik dibangun. Pesawat Zamrud kemudian uji coba mendarat di Ruteng. Pilotnya Mr Jack.

Tatkala kabar tersiar pesawat akan mendarat di Satar Tacik menyusul siaran Radio Pemerintah Daerah (RPD) ribuan masyarakat dari segala penjuru meluap memenuhi tepi lapangan. Saya bersama ratusan orang dari kampung-kampung menyerbu Ruteng. Jalan kaki.

Ribuan orang berlari menginjak padi sawah orang Karot tatkala dengungan pesawat terdengar. Lautan manusia pergi ke Bandara Satar Tacik ingin menyaksikan bagaimana pesawat Zamrud berwarna biru tua itu mendarat.

Kota Ruteng seperti disihir menjadi kota mati. Penghuninya lebih memilih pergi ke Satar Tacik menyaksikan aksi pesawat Zamrud landing di sana. Tak ada kabar buruk setelahnya apakah orang Karot marah ketika padi sawah mereka diinjak lautan manusia. Tua muda, laki perempuan. Tampak seorang ibu paru baya, lupa pakai kutang berlari mendahului rombongan kami.

Jalan raya pun dibangun rakyat gotong royong. Meski jalan belum beraspal, tetapi Kota Ruteng berubah pesat. Waktu terus dihitung berlalu, tetapi masyarakat terus berbenah diri dan berubah.

Bendungan Wae Sele pun dibangun. Lembor mulai bersawah. Tanah lingko di Daleng dan sekitarnya digarap petani hingga kemudian sejarah budaya persawahan Lembor mulai menggeliat. Menyusul setelahnya, Pemerintah mengeluarkan kebijakan translok. Karena itulah banyak orang Lelak pindah ke Lembor dan membentuk komunitas sendiri di Golo Karot, 1 km dari Nangalili.

Waktu terus berlalu dan berubah. Manusia pun ikut berubah. Pemimpin pun diganti. Tetapi sekolah-sekolah bertambah banyak. Sejak kepemimpinan Bapa Bupati Lega, tiap Agustusan pastilah diselenggarakan pertandingan sepak bola antarpelajar sekota Ruteng atau pertandingan antardinas dan lembaga.

Meski sepakbola sering diwarnai tawuran, tetapi suasana dan kondisi Kota Ruteng kian berkembang dan berubah. Awal mula di Ruteng tak ada sekolah negeri. Yang ada ialah SMA Swadaya, SPG Ruteng, SMA Aquinas, SMA Karya.

Satu-satunya perguruan tinggi di kota ini hanyalah Akademi Pendidikan Kataketik (APK) yang kini telah bertumbuh kembang menjadi Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng. Saya kira universitas ini nantinya bakal menjadi salah satu universitas swasta terbaik di Flores bahkan mungkin di NTT.

Begitu pun pertandingan sepak bola antardesa. Berkelahi sudah semacam ritus musiman. Bola tidak lagi disepak, tetapi betis lawan tanding yang ditendang. Bahkan menendang dua bola kecil yang bergantung di antara selangkangan.

Maka pertandingan sepaka bola berubah menjadi perang semua melawan semua. Pertandingan sepakbola lalu semacam panggung, tetapi juga arena pantulan paling telanjang tentang cara berpikir para pemainnya.

Sepak bola merupakan arena tempat di mana dan dari mana kita menyaksikan cara dan mutu berpikir para pemain bola. Pemain bola di posisi kiri karena dia dianggap ahli tendang pakai kaki kiri, begitu pun posisi kanan. Menukar posisi artinya menukar kesialan. Posisi bek (back) juga selalu pasti diisi oleh pemain berbetis tangguh dan bertubuh gempal kuat dan tinggi. Sepatu yang dipakai bergamber paku. Tetapi waktu berubah dan dalam waktu manusia ikut berubah.

Sejak jaman Bapa Lega caci antarsekolah dasar seluruh Manggarai diselengarakan terpusat di Ruteng sebagai cara manusia Manggarai merawat kebudayaannya. Saya kira Bapa Lega adalah tokoh kebudayaan Manggarai yang patut selalu dikenang.

Klik dan baca juga:  Merefleksi Pertemuan ASEAN 2011 dan Persiapan NTT

Sejak itu pun Kota Ruteng mulai bercahaya lantaran listrik Wae Garit telah berfungsi. Orang kota nonton film layar lebar di lapangan Motang Rua. Lautan manusia memadati lapangan meski udara dingin menusuk hingga ke sumsum. Televisi hitamputih pun kemudian hari masuk meraup perhatian massa, saya kira dimulai awal tahun 1979.

Begitulah Kota Ruteng berubah, berubah dan terus berubah. Jumlah manusia kian banyak. Jumlah sekolah pun makin banyak. Sehingga Ruteng dikenal sebagai kota pelajar. Nyaris hampir semua orang pandai yang tidak memilih sekolah di Seminari Kisol, pastilah memilih Ruteng sebagai tempat mereka bersekolah.

Selera manusia di Kota Ruteng pun ikut berubah. Perihal selera dapatlah dibahas rinci, karena selera tidaklah netral adanya. Pilihan selera sekaligus terpantul peringkat posisi dan disposisi manusianya. Dalam konteks Marx mungkin disebut kelas, tetapi dalam term Bourdieu disebut dominasi. Di dalam selera makan, misalnya, pilihan jenis makanan dan cara makan menentukan kelas sosial dan seterusnya. Begitu pun soal penampilan.

Pemimpin diganti dan berganti lagi. Selera pemimpin pun berganti-ganti. Bangunan makin hari makin banyak dan bentuknya pun berubah. Pasar rakyat berubah, rumah makan kian jamak dan menumpuk.

Limbah rumah makan dijebloskan begitu saja masuk got, sementara saluran air telah mengering. Air mengering karena hutan kian tipis sejak masifikasi pembabatan hutan oleh lembaga-lembaga terhormat. Maka Kota Ruteng menumbangkan pohon-pohon di kota dan diganti dengan mendirikan hutan-hutan tembok.

Kita sama menyaksikan, jalan telah diaspal, tetapi kayu di hutan telah berkurang, burung-burung telah berlari menjauh bahkan cenderung punah. Air Wae Locak kian mengering, slembak (Bahasa Belanda zwembad) pun telah punah diganti pasar rakyat. Bunga elok kian jauh, hutan tembok kian padat. Lalu, apa yang harus dibuat?

Waktu terus berlalu dan dalam waktu manusia ikut berlalu. Manusia bertambah, sampah pun berlimpah. Kelakuan manusia kian tak terkendali. Sampah dibuang begitu saja di mana-mana. Lalu Kota Ruteng, kini termasuk salah satu kota terkotor di tanah air. Maka dengan begitu Kota Ruteng membawa serentak dua wajah dan masalah sekaligus.

Wajah pertama, adalah wajah perkembangan peradaban fisik yang menampilkan keangkuhan teknologi. Wajah kedua, adalah raut muka muram kemunduran tatkala makhluk-makhluk hidup lain kian punah seiring pergi punahnya beberapa jenis kayu hutan.

Kota Ruteng tak hanya menghadapi sikap sendiri yang ambivalen, tetapi juga dikepung kebimbangan bersikap multivalen.

Berbenah? Mungkin, tetapi? Tetapi apa? Bagi saya melihat Ruteng hari ini adalah melihat sejarah selayang pandang peradaban, serentak dengan itu memantulkan cahaya relasi antarmanusia sambil mengarungi lautan hubungan manusia dan alam itu sendiri yang kian memanggil kita berpikir pulang.

Sampai di sini, saya mengerti jika Kota Ruteng memang mempesona, berubah tak hanya melalui utasan lintasan sejarah. Tetapi alur sejarah yang sama membuka lembaran buku perjalanan peradaban manusianya dan lingkungannya. Peradaban dari mana diperoleh melalui interaksi antarindividu atau relasi tiap individu pembentuk struktur sosial di dalamnya.

Kota Ruteng adalah “Mama dan Bapa” yang mengandung dan mengantar anak-anaknya pergi ke tempat jauh meski harus dirundung malang dalam tiap jejak langkahnya. Kota Ruteng selayang pandang, kian dipandang justru kian “terpandang”.

Sekali waktu, di kelas ilmu politik di Fisip Unwira, saya bergurau kepada para mahasiswa. Jika kalian ingin melihat kumpulan orang ganteng cantik dan pintar sekaligus di NTT, maka datanglah cukup hanya ke dua kota.

Pertama, datanglah ke Kota Kupang. Kota Kupang adalah tempat manusia dari semua etnik berkumpul di sini. Orang-orang pintar dari semua etnik ke Kupang untuk belajar dan bekerja. Para pemikir NTT ada banyak di kota ini.

Kedua, datanglah ke Ruteng, karena di sana semua orang cerdas dari seluruh penjuru tiga Manggarai belajar di sana. Orang ganteng dan cantik Manggarai raya datang ke Ruteng untuk bergaul dan menukar peradaban menyalin pergaulan sambil meniru budaya pop di mana-mana.

Mahasiswa sekalas ribut. Kelas riuh. Tetapi demi mendiamkan mereka, saya berkata, tetapi dua kota ini pun telah disemai pangkat peradaban sebagai dua kota terkotor di tanah air. Jadi, makin pandai ganteng cantik pintar, belum paralel dengan kelakuan harian. Mahasiswa tepuk tangan karena mereka maklum. Saya pun pulang sambil menahan tertawa. Begitulah.

 

 

(dp)

  • Bagikan