Program TEKAD Berdayakan Masyarakat Desa

  • Bagikan
whatsapp image 2021 12 19 at 07.40.20
Kiri ke kanan, Wakil Koordinator Monev TEKAD Prov NTT Frencys Bill Parera, Koordinator TEKAD Kab Manggarai Adi Raja, perwakilan Bapeda Kab Manggarai Erlin Nangkur dan Kepala Desa Belang Turi Elias Janggur.

Ruteng, detakpasifik.com – Pada Jumat, 17 Desember 2021, Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Provinsi NTT melakukan kunjungan di Kabupaten Manggarai.

Kunjungan itu dilakukan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan program TEKAD dalam memberdayakan masyarakat desa melalui pendekatan keluarga.

Wakil Koordinator Tim Monev Provinsi NTT Frencys Bill Parera mengatakan, TEKAD dirancang untuk mempercepat pembangunan ekonomi di desa dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, dan selanjutnya, berkontribusi meningkatkan ekonomi keluarga di desa.

“Menumbuhkan ekonomi yang cepat, berkelanjutan, menciptakan dan memperluas kesempatan ekonomi serta memastikan akses yang lebih luas bagi semua lapisan masyarakat,” katanya.

Kunjungan ini, lanjut Bill, memonitoring dan mengevaluasi secara rutin dan periodik dalam memberikan umpan balik terhadap kinerja para fasilitator, baik pada tingkat kabupaten, kecamatan maupun kader di tingkat desa.

“Senang sekali hari ini, kami boleh melihat secara langsung tahapan proses yang dilaksanakan (P3EK). Kami harap semangat bapak/ibu terus berlanjut dan terciptanya kemandirian masyarakat,” ungkap Bill dihadapan warga di Desa Belang Turi.

Koordinator TEKAD Kabupaten Manggarai Adi Raja menyampaikan, pada wilayah Kabupaten Manggarai, kini tengah melakukan persiapan pada tahap Perencanaan Partisipatif Pembangunan Ekonomi Kampung (P3EK). Setelah sebelumnya dilakukan start up, pelatihan/pembekalan para fasilitator kabupaten-kecamatan dan bimbingan teknis oleh Dinas PMD Provinsi NTT.

Klik dan baca juga:  Akhir Tahun Mencatat Sejarah

Di desa, para fasilitator yang telah menerima pelatihan pun telah memberikan bimbingan kepada para kader di tingkat desa.

“Sebelum P3EK kami melakukan pelatihan/pembekalan. Tapi ada lagi proses yang sudah kami lakukan yaitu analisis sosial yang dilakukan per dusun. Output dari kegiatan ansos itu didapatkan keluarga sasaran program TEKAD. Yang telah kami lakukan transek dari rumah ke rumah, by name by adress,” ungkap Adi.

Dikatakan, seluruh tahapan persiapan program TEKAD dibahas secara langsung oleh masyarakat sendiri. Pihaknya hanya akan menjalankan sesuai hasil musyawarah di desa.

“Saya juga telah melakukan setidaknya 2 kali sosialisasi dan saya yakin ini pasti ada hasilnya. TEKAD pasti ada kontribusinya,” kata Adi meyakinkan.

Kepala Desa Belang Turi Elias Janggur menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan Tim Monev Provinsi NTT. Ia berharap, dengan adanya program TEKAD dapat memajukan ekonomi masyarakat di desanya.

Klik dan baca juga:  Pemerintah Kembali Turunkan Harga RT-PCR

Dalam membahas P3EK, kata Elias, dia telah mengundang setidaknya 30 perwakilan masyarakat desa dan dihadiri setengah undangan yang disebarkan.

Dia merasa senang, di tengah kesibukan masyarakat desa mengurusi lahan persawahannya, tetapi tetap hadir dan bekerja sama menyiapkan program TEKAD, yang nantinya menjadi masukan penting dalam rancangan RPKDes dan APBDes di tahun 2022.

“Kami bertekad untuk memanfaatkan potensi yang ada di desa, seperti di bidang pertanian dan peternakan, dan secara khusus memberdayakan pemuda, perempuan dan kaum difabel,” jelas Elias.

Kerja kolaboratif

Fasilitator TEKAD Kabupaten (FASKAB) Paskal Maran menerangkan, pelaksanaan program berdayakan desa itu tidak bisa berjalan sendiri. Faskab sudah melancarkan pelaksanaan tahapan TEKAD, tetapi dalam pemenuhan program itu membutuhkan kolaborasi dari instansi terkait dan non-government organization (NGO) untuk berdayakan desa. Seperti mengadakan pendidikan pelatihan pada kelompok tani: bagaimana membuat pupuk organik cair, dan pembukaan ‘pariwisata desa’ oleh dinas pariwisata.

Program ini memiliki kekuatan karena masyarakat diberi ruang secara bebas untuk mengusulkan secara langsung program sesuai keadaan yang sebenarnya, dan dirasakan oleh masyarakat itu sendiri.

Klik dan baca juga:  Digitalisasi, Cara Cepat dan Tepat Mengejar Ketertinggalan NTT

Adapun kendala yang dihadapi Paskal, yaitu saat masyarakat mengikuti kegiatan di luar seperti kegiatan sosial budaya yang terhitung menyita waktu yang banyak. Dia mengakui, keadaan itu disebabkan kehidupan sosial di desa yang sangat melekat dan kuat pengaruhnya.

“Namun, kita tetap harus datang ulang-ulang dan lakukan penyadaran,” kata Paskal di sela Monev Tim TEKAD Provinsi NTT.

Sementara itu, Lexy Jebarus, warga desa Belang Turi kepada detakpasifik.com mengungkapkan program TEKAD sangat membantu desanya. Program ini semakin membangun kerja sama yang baik antara masyarakat dan pemerintah desa terutama dalam membahas ekonomi desa.

“Kami harap terus melakukan sosialisasi agar masyarakat desa memahami bagaimana program-program pembangunan desa itu,” kata Lexy.

Di Desa Belang Turi, sebut Lexy, memiliki potensi pariwisata. Yaitu Golo Wodong dan Lodok Rentung. Dua potensi ini kalau dikembangkan, desa pariwisata dapat tercipta dan membuka peluang masyarakat lokal untuk menawarkan barang dan jasanya.

 

(dp)

 

 

  • Bagikan