Polres Mabar Didesak Tindak Tegas Provokator

  • Bagikan
whatsapp image 2021 10 16 at 02.41.24
Agustinus Albu, Ketua Forum Pemuda Terlaing (FPT).

Labuan Bajo, detakpasifik.com – Ketua Forum Pemuda Terlaing (FPT), Agustinus Albu, geram melihat rekaman video yang beredar di media sosial sejak tanggal 14 Oktober 2021. Dalam rekaman video tersebut nampak 11 orang berdiri setengah melingkar. Di depan terdapat tumpukan batu menyerupai “compang” yang biasa ada di tengah kampung.

Seorang berinisial DP berseru sambil mengepalkan tangan bersama sepuluh orang lain yang mengenakan kain tenun songke (tengge songke): “Membela tanah leluhur kami dari siapa saja yang mau mencuri tanah leluhur kami. Kami akan pertaruhkan segalanya termasuk pertumpahan darah. Kami tidak takut pada siapa pun.” (Kutipan dari rekaman video).

Pernyataan itulah membuat Ketua FPT geram.

“Pernyataan itu tidak lepas dari konteks acara peresmian Terminal Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu yang diresmikan Presiden Jokowi pada hari Kamis, tanggal 14 Oktober 2021. Tak jauh dari tempat pernyataan itu diserukan. Apakah orang itu mau mengatakan bahwa tanah Terminal Pelabuhan itu merupakan tanah yang dicuri dari leluhur mereka? Di mana tanah leluhur mereka itu? Tempat mereka berdiri membuat pernyataan itu adalah  tanah Lingko Nerot yang merupakan tanah ulayat Masyarakat Adat Terlaing. Siapa pencuri sebenarnya?  Tanah Lingko Nerot  itu bukan tanah ulayat Mbehal. Begitu juga tanah tempat Terminal Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu. Sebagian tanah itu merupakan tanah ulayat Masyarakat Adat Terlaing, dan sebagiannya lagi tanah ulayat Masyarakat Adat Lancang. Kami yang punya hak ulayat atas tanah tersebut dengan senang hati menyambut Terminal Pelabuhan itu. Kok, manusia entah darimana itu teriak-teriak mencuri tanah leluhur mereka. Mestinya  mereka malu karena berdiri di tanah ulayat Terlaing. Jadi, siapa sebenarnya pencuri? Yang dipertaruhkan di situ bukan pertumpahan darah, tetapi hilangnya rasa malu mereka. Itu yang bikin kami pemuda Terlaing geram,” kata mantan Kepala Desa Batu Cermin itu.

Klik dan baca juga:  Si Komodo, Maskot API Awards 2020 Curi Perhatian Peserta

Baca juga: Peresmian Terminal Multipurpose Wae Kelambu: Penghargaan dan Pengakuan Masyarakat Adat

“Kami sebagai pemilik tanah Lingko Nerot sangat menyesal dengan pernyataan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab tersebut,” lanjut Agus.

Lebih lanjut Agus Albu mendesak Kapolres Mabar untuk menyelidiki rekaman video itu dan semua yang terlibat.

“Rekaman video itu sudah banyak beredar di medsos, dan menimbulkan keresahan masyarakat di Manggarai Barat serta dapat memicu konflik dalam masyarakat. Saya juga minta Kapolres Mabar untuk melakukan tindakan hukum yang tegas kepada provokator seperti ini dalam masyarakat. Siapa saja silahkan mencari makan di Manggarai Barat, khususnya di Labuan Bajo. Tetapi jangan jadi provokator yang memicu konflik dalam masyarakat Manggarai Barat yang selama ini hidup tenang dan damai. Jika tidak ada tindakan tegas dari pihak Polres Mabar terhadap provokator seperti ini, ya terpaksa kami Pemuda Terlaing sebagai bagian dari elemen Pemuda Manggarai Barat akan mengusir orang seperti ini dari Manggarai Barat,” tegas Agus. (dp)

  • Bagikan