Pendidik yang Edupreneurship

  • Bagikan
Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M.Pd (Foto: Istimewa)

Oleh Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M.Pd – Kepala SMPK Frateran Ndao

Pengantar

“Tanpa belajar takkan ada perubahan. Tanpa perubahan berarti mati”.

“Untuk menulis dengan baik, ekspresikan diri anda seperti orang biasa, tetapi berpikirlah seperti orang bijak”… Aristoteles

Menjadi pendidik yang edupreneurship, tentunya merupakan sebuah ekspektasi yang seharusnya bagi setiap para pendidik. Namun, faktanya tidaklah demikian, masih banyak para pendidik yang hanya menggunakan yang sudah ada dari pada menghasilkan sesuatu yang baru- yang merupakan hasil karyanya atau produknya. Kata edupreneurship, sepertinya juga masih sangat asing ditelinga kita. Sebab mungkin yang sering kita dengar adalah kata entrepreneurship.

Saya akan membagikan dari apa yang saya baca dan menuangkanya lewatan tulisan ini tentang edupreneurship dan entrepreneurship. Edupreneurship adalah gabungan dari dua suku kata yaitu education (pendidikkan) dan preneurship (kewirausahaan).

Kewirausahaan (preneurship) adalah proses menciptakan sesuatu nilai yang berbeda, dengan mencurahkan waktu dan upaya yang diperlukan, memikul resiko-resiko finansial, psikis dan sosial yang menyertai, serta menerima penghargaan/imbalan/apresiasi dan kepuasan pribadi.

Sasaran tulisan ini bukan pada pendidikan kewirausahaan, tetapi fokusnya adalah pada educator/teacher/pendidik, sebagai pelaku preneurship. Dalam artian bagaimana seorang educator/teacher/pendidik dapat menjadi seorang pendidik/guru yang kreatif dan produktif dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). Pendidik yang memiliki jiwa preneurship diharapkan bisa menular kepada peserta didik sehingga mereka pun memiliki jiwa edupreneurship ataupun jiwa entrepreneurship dalam kapasitasnya sebagai peserta didik.

Istilah entrepreneurship diperkenalkan kali pertama oleh Richard Cantillon, seorang ekonom Irlandia yang berdiam di Prancis pada abad ke-18. Dia mendefinisikan entrepreneurship sebagai, “the agent who buys means of production at cerium prices in order to combine them into a new product. Dia menyatakan bahwa entrepreneur adalah seorang pengambil resiko. Tidak lama kemudian J B Say dari Prancis menyempurnakan definisi Cantillon menjadi, “one who brings other people together in order to build a single productive organism”. Artinya entrepreneur menempati fungsi yang lebih luas yaitu seorang yang mengorganisasikan orang lain untuk kegiatan produktif.

Pembelajaran Dengan Sentuhan Edupreneurship

Pembelajaran dengan sentuhan edupreneurship sangatlah penting mengingat perkembangan IPTEK begitu cepat yang menuntut pendidik/guru harus selalu up to date. Apalagi memasuki era revolusi 4.0 dunia pendidikkan, maka seorang pendidik dituntut, untuk memiliki kualifikasi dan kompetensi.

Ada 5 kompetensi, yaitu: (1) Educational competence. (2) Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa peserta didik memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) dengan teknologi atas hasil karya inovasi. (3) Competence in globalization, dunia tanpa  sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan problem nasional.

(4) Competence in future strategis, dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-reseacrh, joint-resources, staff mobility dan rotasi, dsbnya. (5) Conselor competence, mengingat ke depan masalah peserta didik bukan kesulitan memahami materi ajar, tetapi lebih terkait masalah psikologis, stress akibat tekanan keadaan yang makin kompleks dan berat. Jadi, para pendidik/guru tidak boleh gagap teknologi, dan ini menjadi syarat pendidik/guru di era pendidikkan 4.0. Dan dengan menguasai IT seorang pendidik/guru dengan mudah berkreasi dalam Proses Belajar Mengajar (PBM).

Klik dan baca juga:  SMPK Frateran Ndao Telah Memulai Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Seorang pendidik/guru tidak boleh kalah dengan peserta didik, karena bisa jadi peserta didik lebih dahulu tahu informasi pengetahuan via internet daripada paru guru. Harapannya setiap pendidik/guru harus terlebih dahulu menyerap informasi serta mampu menyalurkan kompetensi yang dimiliki.

Di sinilah sang pendidik/guru diuji keberhasilannya dalam PBM bagi peserta didik. Berbagai kiat dan kreativitas pendidik/guru harus dikembangkan secara optimal dan maksimal. Tanpa kreativitas yang produktif dari pendidik/guru, maka keberhasilan mencetak sebuah kualitas sangatlah sulit diraih.

Jujur atau tidak, kenyataannya masih banyak pendidik/guru yang belum kreatif dan produktif. Padahal banyak cara untuk bisa menumbuh kembangkan kreativitas dan produktivitas dari seorang pendidik/guru. Jadi, tidak hanya sebatas membelajarkan seperti bentuk ceramah umum di depan kelas.

Seorang pendidik harus bisa menjadi seorang preneurship yang handal di bidang pendidikkan namanya edupreneurship. Seorang pendidik/guru tidak perlu berdagang di sekolah, tetapi cukup menjadi pendidik/guru yang sarat kreatif dan produktif. Pendidik kreatif adalah pendidik/guru yang tak pernah puas dengan apa yang disampaikannya, kepada peserta didik. Dia berusaha menemukan cara-cara baru untuk menemukan potensi atau bakat unik peserta didiknya.

Baginya, setiap tahun harus ada kreativitas yang dikembangkan dalam dirinya, sehingga materi yang disampaikannya tak melulu itu-itu saja setiap tahunnya. Salah satu cirinya adalah mampu merancang/mengemas kegiatan PBM secara efektif dan berkualitas. Seorang pendidik harus sadar betul bahwa setiap tahun akan menemui peserta didik yang tidak sama dengan tahun sebelumnya.

Di sinilah kreativitas pendidik/guru tersebut, akan disalurkan pada peserta didiknya. Seorang pendidik harus kreatif dalam menyampaikan bahan ajarnya, sehingga sampai ke alam pikiran peserta didik dengan cara-cara menyenangkan, sebab hanya dengan kreativitas ini, seorang pendidik bisa melakukan itu. Pendidik produktif adalah pendidik/guru kreatif yang tidak pernah puas dengan pembelajaran yang dilaksanakannya, dia selalu melakukan refleksi diri melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terhadap PBM di kelas.

Melalui cara kolaborasi teman sejawat, supervisi pembelajaran atau juga angket evaluasi diri dari peserta didik, dia akan memperbaiki kekurangannya dalam PBM dan semua kekurangan ataupun kelebihannya itu, akan dituliskannya. Hal tersebut, yang membuatnya menjadi produktif. Pendidik/guru produktif akan menuliskan apa yang diajarkannya dan mengajarkan apa yang dituliskannya.

Menanamkan sikap edupreneurship akan menumbuhkan kebiasaan (habituasi) para pendidik/guru, untuk menyukai bidang tulis menulis. Menghasilkan tulisan yang kreatif, menarik dan memiliki nilai “komersial” juga pasti akan mendapatkan apresiasi. Selain itu, pendidik/guru akan mampu menumbuhkan jiwa entrepreneurship (kewirausahaan) yang dapat ditularkan kepada peserta didik melalui metode/model pembelajaran.

Melalui tahap sedikit demi sedikit, dengan mulai menyukai tulis menulis berbagai metode/model pembelajaran bagi peserta didik, maka lama kelamaan akan bisa menjadi seorang edupreneurship (pendidik yang mempunyai roh kewirausahaan) yang handal yang senantiasa selalu belajar terus dan terus belajar.

Klik dan baca juga:  Pancasila Rumah Kita

Pada akhirnya akan merubah pendidik/guru dari sekadar user (pengguna) buku pelajaran menjadi seorang writer/producer (penulis/penghasil) materi pembelajaran yang dikuasainya, berupa modul atau bahan ajar yang lainnya. Pembelajaran merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kompetensi berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan.

Oleh karena itu, pendidik/guru yang kreatif akan dapat menangkap peluang itu dan membuatnya menjadi pendidik/guru produktif. Mempunyai banyak ide-ide segar yang membuatnya menemukan sistem pembelajaran dengan berbagai metode/model.

Bahkan, pendidik/guru yang memiliki jiwa edupreneurship mampu membuat media pembelajarannya sendiri, untuk membantu para peserta didiknya menerima materi pelajaran dengan baik. Pendidik/guru yang tidak pernah kehabisan ide kreatif dan membuatnya menjadi semakin produktif, telah menjadikannya pendidik/guru yang preneurship. Dia adalah seorang edupreneurship sejati. Ingatlah pula, bahwa setiap peserta didik merupakan individu yang unik dengan potensi kemampuan yang berbeda-beda.

Howard Gardner psikolog dan ilmuwan dari Harvard University mengemukakan sebuah dimensi baru tentang kecerdasan manusia. Kecerdasan itu adalah matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetis, kecerdasan musikal ritmis, kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalistik.

Pendidik/guru yang kreatif merupakan pendidik/guru yang mampu menemukan kecerdasan setiap peserta didiknya, juga akan menjadi pendidik/guru yang produktif, karena apa yang ditemukannya menjadi bahan pembelajaran yang menarik.

Kalau hal ini sudah tertanam dalam jiwa seorang pendidik/guru, maka edupreneurship atau pendidikan kewirausahaan tinggal disisipkan sebagai bumbu yang membuat peserta didik akhirnya mampu mandiri dan bermental pengusaha. Tumbuhnya mental pengusaha akan membuat pendidik/guru maupun peserta didik tak akan pernah menyerah dalam kondisi apa pun.

Maka pantaslah kita bertanya sudahkah kita menjadi seorang pendidik/guru yang mampu merubah mind set diri dari bermental ”pegawai” menjadi bermental ”pengusaha?”
Bila jawabannya sudah, maka sekolah tak akan melahirkan lulusan yang menjadi pengangguran terdidik. Oleh karena itu, pendidik/guru harus memiliki ilmu edupreneurship yang membuatnya terlatih menjadi pendidik/guru kreatif dan produktif. Disinilah peran pendidik/guru  mempunyai andil besar menciptakan generasi berkualitas.

Menciptakan Entrepreneurship di Sekolah

Entrepreneurship (kewirausahaan) adalah penerapan kreatifitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang, setiap hari. Mental dan karakter entrepreneurship harus ditanamkan sejak dini, dengan demikian, maka mental “the winner” menjadi pengusaha akan terpatri dalam benak peserta didik.

Penanaman entrepreunership di sekolah, melalui kegiatan weekend enterpreuner, yang mana dalam setiap semester diadakan bazar kelas, setiap kelas diberi modal yang sama, dengan modal yang sama itu diminta untuk mengalokasikan modal, agar modal tersebut bertambah. Caranya dengan membuka stand bazar, boleh menjual aneka barang atau aneka jasa, misalnya pernak-pernik berupa alat tulis, dll. Setiap kelas menjual aneka barang dan jasa yang berbeda. Barang atau jasa yang diperdagangkan merupakan icon setiap kelas per semesternya. Misalnya semester pertama, ada kelas yang jual martabak, kelas bakso, mpekmpek dan beberapa kreasi jualan lainnya.

Klik dan baca juga:  Menakar Budaya Literasi pada Satuan Pendidikan

Sekolah juga dapat mengembangkan tanaman produktif musiman (sayur-sayuran), pengolahan sampah organik, apotek hidup, herbal mini, kantin/kios kejujuran peserta didik di lingkungan sekolah. Dengan demikian, peserta didik dapat belajar kehidupan nyata, melalui entrepreneur di sekolah.

Karena itu, jiwa entrepreneur harus juga dimiliki oleh seorang leader dan pendidik/guru. Dengan begitu, leader dan pendidik/guru harus mendukung atau mensupport kegiatan yang bernuansa dan bernafaskan entrepreneur bagi peserta didik karena itu berarti menghidupkan roh entrepreneur  dalam diri peserta didik sebaliknya tidak mendukung berarti melemahkan serta mematikan jiwa entrepreneur dalam dirinya. Ingat kebiasaan entrepreneur sejak dini khususnya di sekolah, akan memacu pola pikir peserta didik menjadi lebih berkembang, maju, melejit dan siap lahir dan batin menjadi generasi-generasi agent of change, yang mampu berkompetitif.

Penutup

“Jika sejak pagi ini kita dapat melangkah dengan penuh keyakinan, dalam doa dan pengharapan, maka kita sudah meraih separuh kemenangan”.

“Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya”… Stephen King

Sebuah refleksi diri, saat ini kiranya masih banyak diantara kita pendidik/guru yang belum kreatif dan produktif. Kita hanya menjadi pendidikk/guru yang sebatas membelajarkan saja. Padahal banyak sekali yang bisa kita kembangkan dari mata pelajaran yang kita ampu.

Bahkan pendidik/guru bisa menjadi seorang entrepreneurship yang handal di bidang pendidikan yang namanya edupreneurship. Kita tak perlu hanya jual ide di kelas/sekolah, tetapi hendaknya ide itu, kita aplikasikan menjadi produk. Salah satu cirinya adalah kita mampu merancang kegiatan pembelajaran yang efektif, menyenangkan dan berkualitas. Edupreneurship hanya ditujukan kepada pendidik/guru kreatif yang produktif.

Pendidik/guru kreatif adalah pendidik yang tak pernah puas dengan apa yang disampaikannya, kepada peserta didik. Dia berusaha menemukan kiat-kiat baru untuk membelajarkan peserta didik. Baginya, setiap tahun harus ada kreatifitas yang dikembangkan dalam dirinya, sehingga materi yang disampaikannya tak sebatas itu saja setiap tahunnya.

Pendidik/guru produktif adalah pendidik/guru kreatif yang tidak pernah puas dengan pembelajaran yang dilaksanakannya. Dia selalu melakukan refleksi diri, melihat kelebihan dan kekurangannya saat PBM. Pendidik/guru produktif akan menuliskan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang dituliskan.

Konsisten dan komitmen dalam mensetiai untuk menulis membuatnya menjadi pendidik/guru yang produktif. Salah satu contoh yang paling mudah adalah buku pelajaran yang diampunya sudah dibuatnya sendiri berupa modul bahan ajar dengan perbaikan terus menerus.

Edupreneurship akan menumbuhkan kebiasaan pendidik/guru untuk menulis, mulailah dengan menulis yang sederhana untuk mading misalnya. Selain itu pendidik/guru akan mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan untuk dapat ditularkan kepada peserta didik melalui metode/model pembelajaran.

Pada akhirnya akan mengubah pendidik/guru dari sekedar user (pengguna) buku pelajaran, menjadi seorang writer/producer kecil (penulis/penghasil) buku berupa modul bahan ajar yang dikuasainya. Selamat dan salam edupreneurship.

Tuhan memberkati kita yang mau berubah mindsetnya.

  • Bagikan