Merefleksi Pertemuan ASEAN 2011 dan Persiapan NTT

  • Bagikan
whatsapp image 2021 05 29 at 07.34.36
Pius Rengka. Foto/Andry.

Oleh: Pius Rengka

Pertemuan Bali akhir tahun 2011 di Denpasar, kerap disebut sebagai Konferensi ASEAN. Konferensi itu, merupakan langkah konsolidasi negara-negara yang tergabung dalam komunitas ASEAN.

Disebut komunitas ASEAN (terdiri dari 27 negara) karena makna pertemuan itu sebagai perumusan satu kesatuan langkah strategis menghadapi dinamika sosial politik dan ekonomi negara-negara Uni Eropa yang terdiri dari 21 negara dan dinamika budaya global.

Sudah diramalkan banyak kalangan, bahwa dunia bakal menjadi satu kesatuan global, menjadi satu kampung besar global. Tidak lagi mengenal batas negara (borderless) karena perkembangan teknologi komunikasi yang kian cepat dan liar. Tidak hanya borderless state, tetapi juga borderless information, kata Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dalam percakapan dengan detakpasifik.com dua pekan silam.

Konferensi ASEAN di Bali 2011, memberi isyarat sangat serius terutama kepada semua negara anggota komunitas. Bahwa persaingan global tak lagi dapat dihindari. Kita terlibat kecuali dengan cara mengambil langkah cepat serempak mempersiapkan diri sesama anggota komunitas. Artinya, tak ada manfaatnya lagi kita mengambil jarak dengan cara menghindari pergaulan internasional, apalagi melakukan blockade ekonomi dan sosial. Cara terbaik ialah terlibat dalam pergaulan dan memahami arti penting berhubungan satu dengan lainnya dalam skala negara.

Komunitas ASEAN sendiri, dijadwalkan pencanangannya sebagai satu kesatuan komunitas tepat 1 Januari 2015, enam tahun silam. Yang dimaksudkan dengan komunitas ASEAN, tentu saja, menyentuh sedikitnya tiga gatra inti perjuangan kepentingan bersama. Tiga gatra inti itu masing-masing Komunitas Politik ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Budaya ASEAN.

Klik dan baca juga:  Denyut Nadi Selatan Pasifik Perairan Sawu Bakal Kian Ramai

Akibatnya, terminologi “kedaulatan” akan segera relatif. Implikasi selanjutnya, banyak regulasi akan ikut berubah atau diubah sesuai dengan nafas dinamika politik komunitas ASEAN dan perkembangan yang, boleh disebut spektakuler. Hal serupa pun terjadi dengan sebaran tenaga kerja. Para profesional dari negara mana pun akan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain dalam komunitas ASEAN. Alat budaya yang paling sederhana adalah bahasa. Maka niscaya jika didorong sekuat tenaga agar warga di tepi selatan Pasifik dituntut dan dituntun untuk sanggup berbicara dengan sedikitnya dua bahasa di luar bahasa ibu.

Piagam ASEAN sesungguhnya merumuskan apa yang disebut dengan rule based and people oriented. Maksudnya, sesama ASEAN akan merumuskan bersama kepentingan sesama anggota komunitas tanpa harus meniadakan unsur identitas kultural yang lain. Orientasinya pada kepentingan manusia.

Makna utama dari Bali Declaration on ASEAN Community in Global Community of Nations adalah bahwa Indonesia menerima semua pergaulan politik dunia. Dalam teori hubungan internasional makna ini dimengerti sebagai suatu keniscayaan karena tak ada satu negara pun yang bebas dari pengaruh asing di dunia ini.  Yang diperlukan ialah tindakan politik atau kebudayaan yang menegaskan pentingnya political stability, economic growth, military outreach and diplomacy.

Maka, human capital as a high capital agar mewujud menjadi apa yang dikenal dengan growing together (tumbuh bersama). Demi kepentingan growing together itulah korupsi niscaya memang perlu diberantas habis karena isu ini akan membelenggu kepentingan sesama negara anggota. Maka diserukan, koruptor adalah musuh semua orang. Meski diakui, pilihan yang tepat tidak selalu bermakna sebagai pilihan yang terbaik.

Klik dan baca juga:  4 Hari Lagi Deklarasi Jajak Pendapat Periodesasi Jabatan Presiden Digelar di NTT

Hingga hari ini, 2021, sejarah komunitas ASEAN tidak pudar. Tetapi komunitas ASEAN justru malah kian menguat menggeliat. Geliat komunitas ASEAN kian menemukan titik kulminasinya ketika direncanakan ASEAN Summit akan digelar di Labuan Bajo tahun 2023 mendatang. Negara anggota akan hadir di tanah Flores bagian barat itu dan merumuskan kepentingan lanjutan komunitas ASEAN terutama dalam kepentingan geliat ekonomi kawasan Pasifik Selatan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Indonesia, khususnya Provinsi NTT menyiapkan diri menyongsong ASEAN Summit? Bagaimana pula perilaku politik yang diperlukan dalam kerangka komunitas ASEAN itu?

Mempersiapkan Diri Maksimal

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, dalam hampir semua percakapannya seputar pertemuan ASEAN 2023 itu, selalu menyentuh politik orientasi kepentingan rakyat NTT. Dikatakannya, makna penting ASEAN Summit bagi NTT adalah persiapan diri secara maksimal. Artinya, meski badai Covid-19 dan badai Seroja menghajar NTT, tidak lalu berarti kita kehilangan ikhtiar untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Karena itulah semua pemimpin daerah (bupati dan wali kota) didorong untuk segera bergerak cepat, tepat dan cerdas mengatasi masalah daerah  paska badai Seroja, sebab hanya dengan cara demikian sajalah NTT dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik dalam konteks komunitas ASEAN.

Klik dan baca juga:  Perubahan Dramatis tetapi Tak Terduga Pasti

“Justru dalam selimut badai serupa ini kita harus melakukan semua hal penting dan bermanfaat bagi kepentingan rakyat NTT melalui media pertemuan internasional yang direncanakan berlangsung tahun 2023 itu. Dalam konteks itu bupati dan walikota harus bekerja cepat, tepat dan cerdas,” ujar Viktor Laiskodat.

Kunjungan kerja Gubernur dan rapat koordinasi di daerah tujuan keliling Flores dan Sumba serta Pulau Timor, katanya, merupakan jawaban untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Pada situasi dunia sedang redup menyusul gelombang badai Covid-19 di seluruh dunia, justru saat itulah NTT harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Wujud persiapan itu antara lain menyiapkan seluruh sumber daya yang mungkin antara lain menyiapkan kawasan Labuan Bajo dan fasilitas akomodasi yang menginternasional.

Maka sejumlah calon hotel bintang lima harus didesak untuk mulai melakukan ground breaking. Fasilitas publik dan jaringan komunikasi dan listrik disiapkan, antara lain membangun jaringan listrik dengan kekuatan energi baru dan terbarukan di Sumba Tengah yang diperkirakan akan dimulai akhir tahun ini dan menelan biaya ratusan triliun. Pada proyeksinya, jaringan listrik dapat tuntas dikerjakan akhir 2022 atau medio 2023, sesaat sebelum ASEAN Summit dan G-20 berlangsung.

 

  • Bagikan