Manggarai, Nama yang Terpatri di Sanubari

  • Bagikan
whatsapp image 2021 07 09 at 02.17.13
Wae Rebo. Foto/twitter/getaway_id

Oleh Timoteus Marten

Apa jadinya sesuatu atau seseorang jika tak punya nama? Binatang saja mempunyai nama. Nama melekat dalam entitas ‘sesuatu’ benda atau makhluk. Nama kerap diidentikkan dengan identitas; penanda ciri. Nama diberikan dengan tujuan tertentu sesuai ciri, sejarah, kenyataan dan harapan.

Saya tidak terlalu panjang lebar menjabarkan tentang arti di balik nama yang umum. Saya berpikir, bahwa banyak referensi terpercaya untuk menjadi pegangan dalam mengulas tentang nama. Ini hanya semacam catatan pengantar sebelum saya melaju lebih jauh.

Beberapa waktu lalu, saya dan beberapa teman berdiskusi tentang sejarah dan arti di balik nama Manggarai. Manggarai berada di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ini bukan diskusi ilmiah seperti di universitas-universitas atau akademi. Namun, lebih pada semacam obrolan di warung kopi, yang entah arahnya ke mana.

Dalam konteks tentang Manggarai, obrolan kami semakin terarah mengingat kami adalah perantau yang berbudaya. Karena itu, kami harus mengenal dan mengetahui asal-usul dan segala macamnya tentang kami sebelum belajar, mengetahui dan mengenal budaya orang lain.

Kami adalah orang Manggarai diaspora. Menyebar di belantara dunia dengan aneka profesi dan pekerjaan. Ada yang menetap lama dan ada yang kembali pulang.

large goodnewsfromindonesia gnfi desa wae rebo bintang ntt 508c49c1be2540726e7f34584c43c19f
Wae Rebo, salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Manggarai. Foto: goodnewsfromindonesia

Apakah Manggarai itu? Atau siapakah Manggarai itu? Atau mengapa Manggarai? Deretan pertanyaan tersebut membuat saya menulis catatan kecil ini.

Banyak referensi ilmiah dan sumber lisan yang sahih bila mencari arti di balik nama Manggarai. Saya hanya menulis sedikit pemahaman tentang tanah yang membesarkan saya dalam budaya dan tradisi Katolik, persaudaraan dan kekeluargaan yang kental.

Mengutip kata Frangky Sahilatua dalam lagu Aku Papua-nya; tanah yang membesarkan aku bersama angin dan daun.

Seorang guru besar dalam sejarah gereja, Pater Edyy Kristiyanto, OFM dalam bukunya ‘Khresna Mencari Raga; Mengenang Kehadiran Fransiskan (di) Indonesia’, terbitan Lamalera, Yogyakarta, 2009, halaman 239, mengutip penuturan peminat sejarah Manggarai, Vincente Kunrath menyebutkan dua kata bahasa Bima, mangga (sauh) dan rai (melari).

Dalam sebuah pelayaran ke daerah itu, tak disebutkan tahun berapa, empat pelaut asal Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat, yaitu Mangge Maci, Nanga Lere, Tulus Kuru dan Jenali Woha. Empat pria yang dipimpin Mangge Maci ini diutus untuk menaklukkan wilayah ujung barat Pulau Flores itu.

Namun, ketika perahu merapat ke daratan, karena terburu-buru dan terpesona dengan keindahannya, mereka lupa menurunkan sauh. Perahu bergoyang-goyang dan berjalan sendiri. Sontak kaget dan seorang di antara mereka berteriak: Mangga Rai… Mangga Rai…

Banyak versi tentang sejarah nama Manggarai. Namun, setelah saya baca dari berbagai tulisan, soal sauh, pelaut, jangkar, perahu dan berlabuh di daerah yang subur, bergunung-gunung dan hijau punya kesamaan. Orang Manggarai biasa menyebut tanahnya dengan Nucalale. Nuca bisa jadi nusa (pulau). Lale adalah salah satu jenis pohon yang tumbuh di daerah Manggarai.

Belum ada sumber yang menyebutkan asal-muasal penyebutan Nucalale. Namun dari nama ini bisa ditafsirkan bahwa pemberian nama ini diduga karena banyaknya pohon Lale (Artocarpus Elastic).

Manggarai, ujung barat Pulau Flores ini merupakan daerah yang sangat luas dan sangat subur. Daerah yang bergunung-gunung, memiliki areal hutan yang luas memungkinkan untuk ditumbuhi aneka jenis tumbuhan dan pepohonan.

Manggarai juga disebut ‘Bumi Congkasae’. Kata Congkasae berasal dari kata Congka yang berarti menari dan Sae adalah salah satu jenis tarian tradisional Manggarai. Biasanya Congkasae berbarengan dengan tarian caci dan upacara adat lainnya seperti penti (berupa syukuran).

whatsapp image 2021 07 09 at 01.53.57
Tarian caci, salah satu kesenian daerah Manggarai. Foto: gettyimages

Congkasae biasa dibawakan laki-laki atau perempuan yang sudah berpengalaman dan memahami irama hentakan kaki dan goyangan tangan.

Tana Ledong Dise Empo Mbate Dise Ame adalah ucapan yang lazim untuk daerah yang kini menjadi tiga kabupaten, yaitu, Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur ini. Sebutan ini biasa didengar dalam ungkapan sehari-hari.

Seniman-seniman Manggarai biasanya menulis syair-syair lagu dengan sebutan Tana Ledong Dise Empo Mbate Dise Ame untuk Manggarai tercinta ini. Secara harfiah, tana (tanah), ledong (peninggalan) dise (mereka punya), empo (leluhur/nenek moyang), mbate (warisan) dan ame (bapak).

Ame adalah bahasa Manggarai dialek di daerah sekitar Kuwus dan Pacar, Manggarai Barat. Umumnya di Manggarai dikenal dengan sebutan ema untuk bapak.

Dalam percakapan sehari-hari, orang Manggarai menyebut Neka Oke Kuni Agu Kalo (jangan tinggalkan warisan dan tanah leluhur). Bisa jadi kuni adalah tali pusat. Plasenta. Tanah Manggarai adalah tanah dimana tali pusat dikuburkan. Persis di dekat rumah.

Ada dugaan bahwa kuni adalah sebutan puni (pohon pakis). Puni biasanya dipakai sebagai tiang pancang rumah atau pondok. Kalo (pohon dadap) adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh di daerah tropis.

Orang Manggarai biasanya menanam pohon dadap di sekitar kampung dan lingko (kebun komunal). Selain itu, terutama dan pertama-tama kalo ditanam di tengah compang (mesbah) untuk persembahan kepada leluhur dan Mori Kraeng (Tuhan Allah). Kalo tumbuh di tengah compang yang berupa susunan batu. Menjulang tinggi dan rimbun. Indahnya berteduh!

Compang erat kaitannya dengan kampung halaman, sebab compang ada di natas (halaman di tengah-tengah kampung) dan berhadapan dengan rumah adat (mbaru gendang/mbaru tembong).

Saya sangat yakin, bahwa masih banyak sidang pembaca yang lebih memahami tentang Manggarai. Karena itu, tulisan ini tidak lebih lengkap dan sahih terutama karena keterbatasan referensi. Jikalau ada data tambahan pembaca yang bersumber dari referensi yang dipercaya, akurat dan data yang kuat, maka tulisan ini setidaknya lebih bernas.

Pada dasarnya, ini semacam rutit-ratit untuk sekadar bernostalgia dan mencari arti di balik sebuah nama tanah kelahiranku, tana dading. Ini juga semacam flashback dan catatan kritis bagi generasi muda Manggarai yang kian hari melupakan identitasnya sebagai dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bahasa menterengnya adalah istilah pengaruh globalisasi.

Bagaimanapun derasnya perkembangan globalisasi, heterogenitas relasi sosial, akulturasi budaya, identitas ke-Manggarai-an kita tetap dijaga. Namun, saya tidak meragukan proses yang cukup lama, dari lahir hingga dewasa, yang mendarah daging, menjadikan kita beradap hingga tak bisa goyah.

Manggarai adalah nama yang terpatri dalam sanubari. Saya teringat pepatah Latin: Nosce Te Ipsum (kenalilah dirimu). Dan ungkapan bahasa Manggarai: Neka Oke Kuni Agu Kalo. Kurang lebih dalam versi lain: jangan lupa diri.

Timoteus Marten tinggal di Jayapura

  • Bagikan