Kepemimpinan Politik dan Kegelisahan Transisional

whatsapp image 2022 04 18 at 22.02.04
Pius Rengka (Dok: Ist)

Bukankah Jefri Riwu Kore adalah salah satu kandidat terbaik (saat ini) dari Partai Demokrat…

Oleh Pius Rengka

Belum lama ini, Kris Matutina, politisi PKN, menulis status pendek di laman Facebook-nya. Persisnya begini: Independen versus Partai Politik…di tahun 2024. Hingga tulisan ini ditayangkan, telah 31 orang pembaca menandai status singkat ini dengan gelombang perasaan berbeda-beda.

Status Kris Matutina, disambut pembaca dengan macam-macam komentar. Sebagaimana biasa, komentar di layar media sosial, selalu berwatak bebas, tanpa diskriminasi sekat intelektual yang jelas, bahkan tanpa garis tegas jenjang jejaring status sosial, tetapi juga jenis komentar dan isi komentar, terpantulkan dengan sangat jelas block politik penghuni di Kota Kupang sekaligus.   

Block politik terpantulkan dengan amatlah sangat jelas, menyusul kesan bahwa seolah-olah status Kris Matutina itu terhubungkan langsung dengan imajinasi nasib politik Jefri Riwu Kore ke depan. Lebih mencengangkan saya ialah mengapa pikiran asosiatif para pembaca status Kris Matutina begitu kuat terhubungkan kalau Jefri Riwu Kore dipastikan mencalokan diri melalui jalur independen? Bukankah Jefri Riwu Kore adalah salah satu kandidat terbaik (saat ini) dari Partai Demokrat, meski posisinya sebagai ketua partai berlambang Mercy itu, diganti oleh Leo? Bukankah Demokrat tidak berminat mencalonkan kandidatnya yang terbaik untuk kompetisi elektoral? Tetapi, rupanya, pikiran asosiatif tentang status Kris Matutina, Ketua Partai Kesatuan Nusantara itu telah sanggup membimbing pembaca semata-mata ke arah Jefri Riwu Kore. Karena itulah block politik terbelah.  

Block politik pertama, sebagaimana biasa, adalah grup juru horeee, grup tempik sorak di sekitar Jefri, block pendukung ekstrem Jefri Riwu Kore. Ciri pendukung ekstrem ialah kelompok yang serba berpikir pokoknya. Mereka sangat terganggu dengan diskursus dialektika politik Hegelian abad 19 Masehi. Mereka tidak suka dialektika, mereka antidiskursus berbeda, kecuali menyanjung dan cenderung menyembah Jefri. Mereka langsung sensitif tancap gas menyambut status itu dengan diksi jelas.

Mungkin saja, Kris Matutina ada di barisan kelompok ini juga. “Jefri Riwu Kore harus dua periode” begitu inti narasi kelompok ekstrem nihil kritis itu. Alasan kelompok hura dan hore ini, cukup terang. Bahwa kepemimpinan Jefri Riwu Kore telah membuahkan hasil. Apa hasil itu? Perubahan. Perubahan apa? Ya perubahan Kota Kupang kian terang benderang, jalan kota dirajut cahaya lampu warna warni kerlap kerlip, yang, sebelumnya belum pernah sanggup dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya.

Untuk membuat kelompok pendukung ekstrem ini agak sedikit perlu diingatkan, saya menulis tiga komentar sangat pendek juga. Tetapi menyimpan aneka makna. Pertama, saya tulis begini: Jika air mancur di bundaran PU berfungsi, air minum lancar dan lampu jalan tidak mati hidup, saya kira tidak ada alasan cukup untuk Pak Jef tidak terpilih. Kedua, saya tulis begini: Saya kira telah banyak perubahan terjadi selama Pak Jefri pimpin kota ini. Kota pun kian hijau, jalan lingkungan dibereskan dan para sahabat mendapat perhatian cukup besar dan merata. Relations of power (sebetulnya dimaksudkan relasi kuasa) terjaga, baik struktural maupun konfigurasi kekuatan sosial politik lainnya.

Saya malah berpikir kelasnya Pak Jefri itu di level yang lebih luas dari sekadar Kota Kupang. Ketiga, saya tulis begini: Sekarang adalah saatnya untuk merapikan semua administrasi politik agar tidak ada gangguan politik karena ulah kita para pendukung, baik di sektor birokrasi maupun di sektor-sektor non pemerintah/state.

Reaksi saya atas status Kris Matutina ini sesungguhnya berniat sangat positif yaitu untuk menolong mengingatkan para kaum ekstrimis agar kelompok garis keras (ekstrem) perlu tetap awas untuk tiap tahapan kepemimpinan Jefri Riwu Kore, karena sejumlah peristiwa politik masih menyisahkan ceritera kurang sedap. Misalnya, ceritera tentang pemilihan bupati di Sabu Raijua, relasi kuasa dirinya dengan anggota legislatif di kota, dan gosip yang cukup meluas di seputar distribusi pengerjaan proyek di Kota Kupang.

Saya sendiri dapat dipastikan tidak ambil pusing apakah gosip itu realistis atau bukan, tetapi realitas gosip di media sosial, terutama di sebuah kelompok terkesan sangat kuat anti Jefri, karena sangat amat sering saya membaca tentang hal ini. Sebagai bagian dari orang dalam kelompok pro Jefri, saya berpikir dialektika politik dan diskursus dan gosip politik, pasti akan kian mendidih post Agustus 2022.

Maka kaum ekstrimis, termasuk para penasihat yang tampaknya telah teridentifikasi jelas, perlu sedikit dewasa untuk tidak menyerang pihak lain secara membabi-buta (apalagi memproduksi akun palsu untuk memalsukan identitas diri dan memalsukan para pengide pribadi yang ada di balik grup akun palsu itu), hingga gelap mata. Titik terang untuk Jefri Riwu Kore, menurut saya masih telah sangat jelas, baik untuk urusan positif maupun untuk urusan lain yang belum terkurung gosip.

Klik dan baca juga:  Tahun 2022, Tahun Padat Politik

Saya sendiri pasti akan tetap setia membela Jefri Riwu Kore sampai titik darah terakhir yaitu normatif Agustus 2022, dan manakala jika diajak untuk ikut bergabung dalam kelompok pendukung ideologis. Tetapi saya pasti tidak boleh dimasukkan ke dalam kelompok juru horeee dan tukang hura, tanpa akal sehat. Saya pun tidak serta merta masuk dalam kelompok pujian seperti pujian kita terhadap Sang Maha Pengada, Te Deum Laudamus = KepadaMu kami puji.

Tiga tulisan saya menanggapi status Facebook Kris Matutina itu, jelas membantu untuk sedikit menarik nafas sekaligus menarik jarak dari dukungan ekstrem ke sudut dialektika kekuasaan politik. Kekuasaan politik mendayung lingkup struktural sekaligus konfigurasi kekuatan sosial politik lain di sekitarnya.

Block politik kedua, adalah kelompok ekstrem jenis lain lagi. Block politik ini juga secara gegap gempita tidak mengakui sedikit pun progres pembangunan di Kota Kupang. Mereka menilai seluruh bentuk pembangunan di Kota Kupang dan seisinya hanya menguntungkan “kaumnya” Jefri Riwu Kore sendiri.

Block politik ini menilai banyak proyek di masa kepemimpinan Jefri Riwu Kore dikerjakan oleh sekelompok “orang dalam” yang ditengarai dikoordinasi oleh seseorang pelincah yang belum lama ini video dirinya sedang mengaso di sebuah penginapan dengan mitra bisnis diskusinya. Bahkan kelompok ini merinci apa saja kelemahan Jefri Riwu Kore. Block politik ini pun amat sangat gigih melakukan kritik dengan basis data yang, menurut mereka sendiri akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kelompok block politik kedua ini sangat terkonsolidasi melalui sejumlah akun palsu (juga) yang isinya sangat kuat mengimbangi akun palsu yang dipakai oleh kelompok ekstrem sebelumnya. Block politik ini juga berpikir dengan metode yang similar dengan block politik ekstrem pertama. Tetapi, tampaknya, atau kesan saya, block politik ekstrem yang kedua, jauh lebih taktis dan cerdas dibanding kelompok ekstrem pertama, karena dari narasi yang mereka produksi, hanya memberi sedikit kata-kata, tetapi memperlihatkan beberapa gambar.

Sebagai misal, ketika mereka kritik perihal penghijauan Kota Kupang, dengan enteng mereka tayangkan gambar aksi tebang pohon-pohon yang dilakukan kaki tangan kontraktor tanam kayu di salah satu tempat di sekitar Kota Kupang ini, lengkap dengan kendaraan angkutannya. Narasi yang diproduksi pun sangat pendek, tetapi tayangan foto adalah sesuatu yang sangat bermakna. Dalam konteks jurnalisme, foto adalah si bisu yang mengungkapkan sejuta kisah di baliknya. Kelompok ekstrem kedua ini juga menambahkan informasi tentang harga satuan tiap pohon. Angkanya cukup fantastik, tetapi semuanya, saya lihat baik adanya.

Mereka (kelompok block politik kedua ini) tidak membuat tafsir atas gejala. Mereka mendeskripsikan fakta (kata mereka) tentang perjalanan nasib pohon-pohon yang ditebang itu dan nasib akibat daerah yang pohonnya ditebang. Begitu pun ketika kaum ekstrem kedua ini, memberi catatan untuk reputasi Jefri Riwu Kore, atas representasi kondisi lampu di bundaran PU dekat Hotel Amaris itu. Mereka bertanya hal sepotong, lalu menunjukkan gambar lampu sambil memperlihatkan keadaan mancur tanpa air. Mereka tidak menuding siapa-siapa, tetapi mereka menunjukkan keadaan.

Aliran filsafat yang mereka suka, barangkali, adalah filsafat ontologi (Plato) dan fenomenologi (Edmund Husserl). Mereka pun (terkesan) seperti bersekutu dengan para anggota legislatif dan beberapa jurnalis, tentang kisah bundaran PU yang diduga berairmancur itu. Narasi yang dipakai pun tak panjang amat. Saya melihat taktik narasi block politik kedua ini, cukup fenomenal tetapi juga momentual. Artinya, block politik kedua ini, menyiram percikan fenomena, tetapi sekaligus menjaga momentum dengan sangat taktis.

Lalu siapa sesungguhnya mereka itu? Ada dua tafsir. Pertama, kedua block politik ini (block politik pertama dan block politik kedua, yang sama-sama ekstrem) dimainkan oleh satu dalang yang sama. Karenanya, Jefri Riwu Kore, harus tetap awas dengan orang-orang yang diduganya paling dekat dengannya dan keluarganya, tetapi justru orang-orang itu adalah orang yang sesungguhnya ingin mengetahui Jefri Riwu Kore dari dalam, dan kemudian aktor yang sama memproduksi informasi keluar ke kedua block politik.

Klik dan baca juga:  Paradoks Labuan Bajo dan Takdir Rakyat Manggarai Barat

Rasanya, saya cukup tahu siapakah itu gerangan. Sayangnya, sepengetahuan saya, dia masih sungguh sangat naif. Sang dalang selalu gemar bermain dua kaki, baik untuk kepentingan sanjungannya maupun untuk pilihan pragmatis praktis nasib sejarah politiknya sendiri. Artinya dalang selalu punya ceritera, tetapi juga sanggup menciptakan pemain figuran dan jenis musik yang hendak dimainkannya.

Kedua, dua block politik memang didalangi oleh dua kelompok berbeda. Kelompok pembela Jefri Riwu Kore (block politik pertama) adalah asli pemain inti yang selama ini ada di seputar tepi kiri kanan Jefri Riwu Kore. Diduga, anggota block politik ini menggunakan fasilitas negara dengan amat sangat baik. Baik untuk melancarkan kepentingan Jefri Riwu Kore, maupun agenda tersembunyi untuk sekadar tarik badan.

Selama kepemimpinan Jefri Riwu Kore, diduga block politik ini mendapatkan bonus insentif politik dan ekonomi. Karena itu, sebagai balasannya aneka jenis sanjungan pun berhamburan di udara politik Kota Kupang dan diksi-diksi yang dipakai kaum ini hanya seputar sanjungan amat murah, tetapi juga kurang deskriptif.

Block politik kedua, adalah kaum ekstrem anti Jefri Riwu Kore. Mereka juga gelap mata, seolah-olah tak secuil pun prestasi Jefri Riwu Kore di kota ini. Mereka tidak melihat bedah rumah murah yang dilakukan Jefri Riwu Kore sebagai bagian dari kemurahan hati nan tulus dan agung. Bedah rumah murah itu juga sebagai anasir sifat kenabian Jefri Riwu Kore, yang bersumber dari cahaya ideologis option for the poor.

Kelompok block politik kedua ini secara ekstrem menyanjung sejarah serta seisinya. Mereka mempresentasikan dan mere-representasi narasi gagal paham pemerintahan yang dilakukan Jefri Riwu Kore. Mereka pun seolah menciptakan dan mempertajam konflik diam-diam antara Wali Kota Jefri Riwu Kore dengan Wakil Wali Kota Herman Man. Padahal sejatinya, kedua tokoh ini masih sangat mesra menjalin hubungan luar dalam, dengan pembagian tugas sangat jelas dan pasti disinari cahaya baik hati.

Bahkan delegasi tugas yang amat sangat jelas itu memungkinkan kepergian (atau sejenis kehilangan sementara) Jefri Riwu Kore ke tempat lain selalu membuahkan kejelasan delegasi tak hanya kepada wakil wali kota, tetapi juga kepada dinas lain yang berurusan dengan tugas dan fungsi wali kota yang baik hati itu.

Kelompok ini juga menyiram gosip tak enak didengar perihal kasus-kasus hukum. Intinya, ini kelompok memang gemar mengkapitalisasi narasi serba anti Jefri, meski caranya sangat elegan semisal, menunjukkan foto tebang pohon-pohon itu. Saya sendiri sangat ingin sekali “berkelahi intelektual” dengan kelompok ini, tetapi saya tidak mau berkelahi dengan dunia maya melalui akun palsu.

Pertanyaannya mengapa saya menafsir begitu? Jawabannya sederhana, perspektif analisis konteks dan bentuk narasi, pola dan konten ceritera similar. Intinya, pertama, perang dua block politik ini untuk sementara hanyalah sandiwara belaka. Kedua, Block politik sesungguhnya diramalkan akan kian ganas, justru sesaat setelah Agustus 2022.

Temukan konteks   

Status Facebook Kris Matutina itu, tentu saja, menemukan konteksnya di dalam ruang politik sirkulasi elit Kota Kupang. Mengapa? Karena Agustus 2022, Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore, bakal meningggalkan kursi kepemimpinannya di kota ini. Jefri Riwu Kore, harus sanggup merajut benang sejarah imajinasi penduduk di Kota Kupang ini, agar relasi Jefri dengan para konstituen tidak putus dan terputus-putus di tengah jalan bersimpang.

Diharapkan, roh kepemimpinan Jefri Riwu Kore bergentayangan meninggalkan kesan dan pesan politik yang menyenangkan, dan sesedikit mungkin untuk banyak kepala rakyat Kota Kupang. Dengan kata lain, tim sukses (block politik pertama) kerja keras dan mati-matian abu naik untuk menjaga memoria di tengah ingatan masyarakat kurang tulus agar mereka tidak mengidap sakit amnesia politik.

Kita, memang, sama mencatat, ada cukup banyak waktu sela yang dapat diubah oleh nasib sejarah politik itu sendiri. Sejarah politik adalah dua hal dalam satu perkara, atau satu perkara dalam dua matra perspektif berbeda.

Sejarah adalah kenangan politik. Sedangkan politik adalah aktual tindakan. Aktual tindakan kemudian membuahkan sejarah di kelak hari. Jefri Riwu Kore pasti akan berkutat di dua soal ini, entah dengan metode lama door to door supaya dor atau menggunakan narasi dari tim yang melemah karena pasti digeser oleh kekuatan baru.

Ingat, catatannya, banyak dari tim ekstrem telah secara tidak sengaja melukai kelompok yang sudah terluka. Mereka itu pun sudah tercatat dalam buku khusus untuk kepentingan khas. Untuk menjelaskan soal ini, kita mungkin boleh menafsir melalui siapa gerangan kiranya orang yang menjadi penjabat wali kota selama nyaris tiga tahun memimpin kota ini nantinya?

Klik dan baca juga:  Baru Berusia 6 Tahun PT Jamkrida NTT Raih Penghargaan Prestisius

Dari kabar angin, diperoleh informasi ada dua orang yang paling mungkin dipertimbangkan seturut pemerintah struktural. Satu adalah mantan jaksa. Kedua, salah satu karo atau kadis penting di provinsi. Jika yang dikirim adalah mantan jaksa, maka dapat diduga bahwa ada agenda pembersihan di baliknya yaitu untuk kepentingan menelisik sesuatu atau beberapa hal hukum dari rezim sebelumnya.

Tetapi jika yang ditunjuk adalah satu Karo (Kepala Biro) atau Kadis (Kepala Dinas) provinsi, maka penunjukan itu menggendong agenda untuk memulihkan relasi-relasi kuasa yang selama ini terkesan bopeng historis. Tetapi juga mungkin, beliau (Karo atau Kadis) akan bertugas antara lain untuk mensegerakan air mancur di kota lekaslah bernyanyi sambil diiringi gerombolan burung bersiul-siul di hutan kota, mengkonsolidasikan cara agar sampah tak lagi bertumpuk, tertibkan kios-kios yang dibangun di tanah milik pemerintah dst… juga membiasakan lampu jalan bernyala sepanjang malam tanpa harus nyala Senin Kamis sebagaimana biasa. Juga memastikan, birokrat tak lagi dihantui demam bayangan setan kecurigaan siapa blok siapa dan orang siapa, juga meluruskan kerja para pejabat yang terlanjur hidup dalam sekat-sekat imajinasi perkauman, dan tentu saja, meluruskan langkah pas untuk berkomunikasi politik dengan legislatif secara bijak, dewasa dan anti kekanak-kanakan.

Kepemimpinan politik  

Uraian saya di atas, sesungguhnya hendak berbicara tentang kualitas kepemimpinan politik (political leadership) di kota. Clarene N. Stone, dalam Political Leadership in Urban Politics, menyebutkan interaksi tanpa tujuan tidak membutuhkan kepemimpinan.

Kepemimpinan berkisar pada tujuan, dan menjadikannya sebagai inti dari hubungan pemimpin-pengikut (Stone, C., 1995). Interaksi pemimpin dan yang dipimpin sangat complicated. Akibatnya, pembentukan tim percepatan atau tim suka cepat-cepat, diperlukan untuk meluruskan cara dan konten interaksi pemimpin dengan masyarakat yang beragam, dan bagaimana semua hal ini seharusnya dikerjakan.

Meski tujuan pembangunan telah sangat jelas dan biasanya gampang dikerjakan di atas kertas, tetapi tatkala implementasi di lapangan biasanya dan selalu begitu, selalu akan ruwet dan sulit diwujudkan. Perwujudan menjadi sulit jika kepemimpinan pemimpin sangat lemah dan rapuh. Apalagi jika pemimpinnya minus imajinasi. Lebih celaka lagi jika pemimpin hanya meruwetkan diri masuk dalam block politik atau malah terbimbing oleh kepentingan para aktor di block politik.

James MacGregor Burns, dikutip Stone (1995), kepemimpinan sebagai proses mobilisasi resiprokal yang bersumber pada kekuatan ekonomi, politik dan kekuatan sumberdaya lain untuk merealisasikan tujuan secara merdeka dan secara mutual dilakukan oleh pemimpin dan mereka yang dipimpin. Dari penjelasan ini, jelaslah bahwa relasi antara pemimpin dan yang dipimpin ditentukan sangat banyak oleh kemampuan kepemimpinan pemimpin (termasuk gaya kepemimpinan/leadership style), bukan ditentukan oleh kehendak kelompok kecil followers.

Bercermin pada pikiran Burns dan Stone, maka pemimpin itu tidak selalu mengikuti kehendak segelintir followers, tetapi pemimpin harus memiliki agenda sendiri yang memenuhi agenda para follower dalam jumlah yang lebih luas.

Nah, dalam kaitan dengan itu, menjadi refleksi penting bagi Jefri Riwu Kore ialah apakah bantuan rumah melalui bedah rumah itu sebagai kewajiban pemerintah ataukah sebagai kebaikan pribadi? Pertanyaan lanjutannya, apakah bedah rumah orang miskin itu merupakan representasi kepentingan politik Pemerintah Kota Kupang ataukah representasi kepentingan pribadi hanya supaya dianggap atau diduga sebagai rezim yang baik?

Jangan pernah mengira berbuat baik itu sebagai hal baik bagi imajinasi politik masyarakat urban, karena jangan-jangan bantuan bedah rumah itu memang pasti baik, tetapi mungkin belum yang utama dan pertama. Masyarakat kota ada yang menjadi miskin mungkin karena konstruksi kebijakan publiknya yang miskin imajinasi kemakmuran masyarakat kota.

Namun, Vivien Lowdens & Steve Leach (2004) pendekatan yang dipimpin oleh struktur pemerintah belum menghasilkan ‘tipe ideal’ kepemimpinan politik lokalnya. Interaksi konstitusi, konteks dan kemampuan menghasilkan pengalaman kepemimpinan politik yang beragam dan pola perubahan dan kontinuitas yang tidak merata. Upaya reformasi di masa depan harus kurang berkonsentrasi pada spesifikasi dan penerapan struktur formal dan lebih pada memfasilitasi proses lokal pembangunan institusi.

Begitulah.