Kemendagri Menilai Enam Kabupaten Minus Inovasi di NTT

whatsapp image 2022 04 18 at 22.02.04
Pius Rengka (Dok: Ist)

Catatan Pius Rengka

Tahun silam (16/6/2021), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) merilis daftar daerah yang miskin inovasi alias kurang geliat. Kementerian Dalam Negeri menyebutkan enam kabupaten di NTT termasuk kategori kabupaten minus inovasi.

Enam kabupaten itu, masing-masing, Kabupaten Malaka, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timor Tengah Utara. Mencermati kondisi sedemikian itu, kiranya semua pihak, tak hanya elit politik di kabupaten, menyadari pentingnya kerja kolaborasi lintas sektor dan lintas jenjang jejaring antara kabupaten dan provinsi agar NTT lekas keluar dari kesulitan akut yang sering dialaminya.

Agus Fatoni, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri (Litbang Kemendagri) menyampaikan, terdapat 5 provinsi yang memiliki nilai indeks inovasi terendah. Masing-masing Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Maluku, Kalimantan Timur, dan Gorontalo.

Kelima provinsi tersebut masuk dalam kategori kurang inovatif berdasarkan penilaian Indeks Inovasi Daerah tahun 2020. Sedangkan, 55 kabupaten dan 3 kota tidak dapat dinilai inovasinya (disclaimer).

Hasil penilaian ini disampaikannya pada acara Pembekalan Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri bagi Bupati/Wakil Bupati dan Wali Kota/Wakil Wali Kota Tahun 2021, yang digelar Rabu (16/6/2021) secara virtual.

Fatoni mengatakan, rendahnya skor indeks tersebut dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya dipicu kurang maksimalnya pemda dalam melakukan pelaporan inovasi. Sering kali, pemda tidak memenuhi persyaratan yang diberikan, kendati daerah tersebut sejatinya memiliki berbagai terobosan kebijakan.

“Bisa jadi pemerintah daerah memiliki inovasi yang cukup banyak, tapi tidak dilaporkan atau bisa saja dilaporkan tapi tidak evidence based dan ditunjang data-data pendukung yang ada,” terang Fatoni.

Dia menambahkan, bagi pemda yang memperoleh hasil skor indeks rendah diimbau untuk segera berbenah. Para kepala daerah diminta untuk melakukan langkah strategis dengan jajarannya, yakni dengan mensinergikan perangkat daerah untuk melahirkan inovasi. Di sisi lain, peran dan fungsi litbang daerah harus diperkuat untuk mendukung terobosan kebijakan melalui pengkajian dan penelitian.

“Kolaborasi dengan para aktor inovasi juga wajib dilakukan. Selain itu tiap perangkat daerah harus menumbuhkan budaya inovasi,” tutur Fatoni.

Hasil penilaian Indeks Inovasi Daerah, lanjut Fatoni, dapat menjadi masukan bagi Kemendagri untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadapnya. Penilaian indeks juga diharapkan dapat memotivasi daerah agar senantiasa meningkatkan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kemendagri selalu melakukan evaluasi terhadap penilaian Indeks Inovasi Daerah guna menghasilkan sistem penilaian yang lebih terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Klik dan baca juga:  Akhir Tahun Mencatat Sejarah

Provinsi Nusa Tenggara Timur termasuk salah satu provinsi dengan Skor Indeks Inovasi Terendah (Kurang Inovatif). Sumbangan skor rendah itu disumbangkan oleh beberapa Kabupaten di NTT yang mempengaruhi penentuan peringkat.

Dalam pemeringkatan itu, Fatoni menyebut Kabupaten Malaka di Pulau Timor termasuk yang sangat buruk. Sedangkan Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timor Tengah Utara termasuk rumpun kabupaten dengan inovasi rendah.

Kerja kolaboratif

Mencermati kondisi sedemikian itu, kiranya semua pihak menyadari pentingnya kerja kolaborasi lintas sektor dan lintas jenjang jejaring antara kabupaten dan provinsi, agar NTT lekas keluar dari kesulitan akut yang sering dialaminya sejak lama.

Pengalaman positif di beberapa instansi pemerintah di level provinsi mungkin patut ditiru, ketika satu isu pembangunan dari satu dinas teknis melibatkan banyak pihak lain yang bekerja kolaboratif sebagaimana yang kerap diserukan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi.

Misalnya, tatkala Dinas PUPR Provinsi NTT membangun perbaikan jalan provinsi rusak berat di sejumlah wilayah kabupaten di NTT, yang rusak sangat berat 906 km itu, selalu diserukan Gubernur dan Wakil Gubernur agar dinas-dinas lain terlibat mengambil bagian dalam urusan yang menjadi urusan di dinas masing-masing, seperti Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, Dinas Peternakan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Industri dan Perdagangan serta Dinas Kehutanan.

Kerja kolaboratif itu diperlukan agar satu isu pembangunan tidak hanya dapat dilihat dari berbagai kemungkinan perspektif dan aksi pembangunan menuju perubahan, tetapi juga dapat digempur dari berbagai sektor kepentingan.

Jalan provinsi yang melintas ke Lelogama di Kabupaten Kupang, Pulau Timor, misalnya, kini telah dikerjakan dengan sangat baik. Dulunya, jalan itu ditempuh sedikitnya waktu tempuh 10 jam jalan kaki, setara 4 jam pakai truk.

Pada kondisi jalan provinsi sebaik itu, Dinas Pariwisata Provinsi mengambil inisiatif untuk masuk dengan program membangun destinasi pariwisata di daerah sekitar Lelogama. Kini, Lelogama, perlahan tetapi pasti mulai bergeliat ramai dikunjungi para wisatawan lokal dengan tagline “menikmati kegelapan di tengah hamparan bintang di langit biru”.  Kepala Dinas Pariwisata NTT, Zet Sonny Libing bahkan dengan nada berbangga berkisah tentang betapa indahnya kawasan sekitar Lelogama.

Klik dan baca juga:  Dana 7 Miliar Bereskan Jalan Buruk Rupa Menuju Beamese

Sonny Libing melukiskan suasana udara dingin, hamparan tanah lapang, seolah berada dalam kepungan pelukan deretan berbukit, yang merias kegelapan nan sunyi seolah alam semesta sedang membalut luka batin para pengunjung yang kalut oleh kehidupan rutinitas di kota.

Lelogama, kini tak hanya gampang didatangi para pelancong dari berbagai kota menyusul jalan provinsi yang telah mulus, tetapi Lelogama pun ternyata menyimpan magma energi pariwisata yang indah permai dan unik.

bukit teletabis 2 880x660
Padang Savana Humon atau lebih dikenal dengan Bukit Teletubbies yang terletak di Kecamatan Amfoang Selatan – Lelogama. Foto/pariwisatakabkupang.

Tambahan lagi, tak jauh dari lintasan jalan provinsi, sebuah proyek raksasa akan dibangun. Sebuah bangunan observatorium, yang konon, mungkin salah satu yang terbesar di tanah air. “NTT bakal menjadi wilayah yang dibanjiri wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik. Saya yakin itu,” ujar mantan Kepala Badan Aset NTT dan Mantan Penjabat Sementara Bupati Manggarai itu.

Istilah sainsnya: Observatorium, nama Observatoriumnya: Observatorium Nasional Timau. Teropong raksasa ini digunakan untuk mengamati objek-objek di angkasa/sistem tata surya, termasuk alat untuk mencari exoplanet/planet yang berada di luar tata surya. Apa yang akan/perlu dibangun di wilayah sekitar observatorium ini (desa-desa sekitar Gunung Timau yang meliputi Kecamatan Amfoang Tengah, Amfoang Selatan dan Amfoang Utara? Penginapan (home stay, tempat perkemahan), restoran, tempat rekreasi alam/berkuda, dan fasilitas/infrastruktur penunjang lainnya).

Observatorium ini merupakan yang terbesar atau salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Observatorium ini akan menjadi salah satu objek wisata edukasi yang akan menarik jutaan pengunjung di waktu yang akan datang.

Observatorium atau balai pengamatan adalah sebuah lokasi dengan perlengkapan yang diletakkan secara permanen agar dapat melihat langit dan peristiwa yang berhubungan dengan angkasa.

Menurut sejarah, observatorium bisa sesederhana sextant sampai sekompleks Stonehenge. The New Manual of Seismological Observatory Practice (NMSOP atau “Manual”) adalah inisiatif dari mantan Commission on Practice (CoP) dari Asosiasi Internasional Seismologi dan Fisika Interior Bumi (IASPEI). Pada pertemuannya bersamaan dengan Sidang Umum IASPEI di Wellington, Selandia Baru, Januari 1994, CoP membentuk Kelompok Kerja tentang Manual Praktik Observatorium Seismologi. Peter Bormann setuju untuk memimpin kelompok tersebut.

Konsep pertama untuk NMSOP diajukan pada Sidang Umum Komisi Seismologi Eropa (ESC) IASPEI di Athena, Yunani, September 1994 (Bormann, 1994). Pada pertemuan-pertemuan berikutnya dan melalui korespondensi, anggota Kelompok Kerja ditemukan, dan bersedia menyumbangkan bab-bab utama, bagian topikal atau lampiran pelengkap pada Manual.

Klik dan baca juga:  Pesimisme Politik Tampaknya Meluas Karena Politisi Tampil Kurang Bermutu

Seiring berjalannya waktu, atau waktu telah dihitung telah berlalu, konsepsi orisinal tentang pengorganisasian Manual ini berkembang, sebagai tanggapan terhadap materi yang sebenarnya disediakan penulis. Kepengarangan itu sendiri berubah juga, karena beberapa orang keluar dan pengganti muncul. Ini telah menunda penyelesaian NMSOP. Untuk mendukung NMSOP, Kelompok Kerja Manual menyelenggarakan enam sesi lokakarya terbuka bersama dengan majelis IASPEI dan ESC, dengan presentasi lisan dan poster serta presentasi internet dari situs web Manual yang sedang dikembangkan.

Sejarah Manual dan pendahulunya, kegiatan Kelompok Kerja, serta ruang lingkup, filosofi dan jangkauan yang diharapkan dari NMSOP, diuraikan lebih rinci. Secara total, 40 penulis dan kontributor dari sembilan negara telah berkolaborasi dalam memproduksi 1250 halaman draft baru.

Ditinjau secara ekstensif baik di dalam Kelompok Kerja dan oleh 35 peninjau eksternal dari 10 negara. Oleh karena itu, diharapkan karya para ahli dapat menghasilkan Manual yang dianggap berguna tidak hanya untuk pekerjaan sehari-hari di observatorium seismologi dan pusat analisis data, tetapi juga dapat menarik minat dalam konteks pendidikan yang lebih luas dalam ilmu bumi dan pelatihan di universitas dan sekolah menengah (Bormann, P., 2002).

Kini sejarah alam semesta itu dapat dilacak dan dipahami melalui dan di dalam kawasan Pulau Timor, tatkala nantinya kita berkunjung ke Lelogama.

Lelagoma meski tidak lagi melupakan sejarah sebagai bagian dari sejarah kusam masa silam, tetapi kini Lelogama telah bergeliat bangkit menuju sejahtera setelah dikeroyok aneka program pembangunan Pemerintah Provinsi NTT.

Demi menyambut geliat sejarah perubahan Lelogama, belum lama berselang sebuah persekutuan Lelogama dibentuk. Usai pembentukan itu, para tokohnya kemudian melapor diri ke Gubernur NTT.

Kata kelompok ini, mereka mau terlibat serius untuk semua jenis program pembangunan yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi. Mereka pun mengharapkan dengan sungguh-sungguh agar Pemerintah Kabupaten Kupang, bergerak bersama terlibat dalam penuntasan masalah kabupaten itu.