Gubernur Viktor Dukung Peletakan Kabel Listrik AAPowerLink di Perairan NTT

  • Bagikan
613b712f6da26
Pertemuan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama perwakilan PT Sun Cable Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta. (Dok Biro Administrasi Pimpinan/Kompas)

Kupang, detakpasifik.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat mendukung proyek peletakan kabel listrik bawah laut Australia-Asean Power Link (AAPowerLink). Dukungan itu disampaikan saat audiensi bersama perwakilan PT Sun Cable Indonesia di Churchill Wine & Cigar Bar, Hotel Borobudur pada Kamis (9/9/2021).

Kunjungan itu merupakan tindak lanjut kerja sama -sebelumnya yang telah disepakati oleh Pemerintah Pusat melalui Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Viktor Laiskodat pada kesempatan itu mengatakan persetujuannya dan tidak keberatan atas proyek bentang kabel Australia-Singapura yang direncanakan melintasi perairan laut NTT tepatnya -akan melintang di sisi timur hingga barat Pulau Sumba serta sisi selatan Pulau Sabu Raijua itu.

Dia pun menekankan kepada pihak perusahaan untuk melanjutkan komunikasi bersama perwakilannya guna membahas efek yang akan ditimbulkan.

Klik dan baca juga:  Pemuda di Lembata Dapat Jaket Merah Pemberian Jokowi, Dikenakan Langsung

Selain itu, Gubernur Viktor juga menegaskan kepada pihak perusahaan PT Sun Cable Indonesia agar proyek tersebut dapat memberikan manfaat atas kehadiran mereka di perairan laut NTT.

“Oke, tidak ada masalah. Pasti kita akan dukung, karena saya tahu ini terbaik untuk dunia. Jelas harus ada manfaatnya. Selanjutnya nanti silahkan paparkan ke tim kami karena tentu ada hal-hal yang harus dipertimbangkan dari segi lingkungan dan fungsi laut. Ditinjau juga apa-apa saja yang dapat mempengaruhi dan sebagainya,” jelas Gubernur Viktor.

Sementara itu, Contributor Representatif PT Sun Cable Indonesia, Eric Dito menjelaskan, proyek kabel listrik Australia-Singapura yang mereka garap tetap akan melibatkan daerah di Indonesia. Sebab, proyek pembangkit listrik tenaga surya yang terbentang 12 ribu hektare di Australia itu akan menghubungkan kabel di dua negara tersebut.

Klik dan baca juga:  Kemelut Buka Tutup Laboratorium Biokesmas Provinsi NTT di Tengah Pandemi Covid-19

Ia meyakini, jika proyek tersebut juga akan memberikan manfaat kepada daerah NTT. Pihaknya akan melibatkan berbagai pihak di Indonesia, khususnya sumber daya manusia (SDM) lingkup universitas lokal maupun nasional selama proses kegiatan pra-rekontruksi.

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur, atas dukungannya terhadap proyek ini. Kami sangat mengapresiasi dan menindaklanjuti semua masukan dari bapak terlebih manfaat dari proyek ini untuk kesejahteraan masyarakat NTT,” katanya.

Ke depan, lanjutnya, sesuai harapan Gubernur Viktor, akan maksimalkan semua potensi yang ada di NTT, di mana ada transfer of knowledge serta efek ganda terhadap perekonomian melalui manufaktur dan jasa di Indonesia.

Setelah ini, lanjut Erik, akan dibawa untuk kembali dibahas bersama petinggi PT Sun Cable di Australia, sebelum akhirnya nanti ditentukan kesepakatan dalam bentuk kerja sama. Erik juga meminta waktu kepada Gubernur NTT untuk melanjutkan komunikasi antar keduanya dalam beberapa bulan ke depan.

Klik dan baca juga:  Digitalisasi, Cara Cepat dan Tepat Mengejar Ketertinggalan NTT

Sun Cable

Untuk diketahui, Sun Cable merupakan perusahaan patungan antara raja pertambangan Australia Andrew Forrest dan miliarder teknologi Mike Cannon Brookes.

Rencananya proyek perusahaan energi Sun Cable akan dibangun pada akhir 2024 yang terdiri dari panel surya terbesar di dunia, baterai terbesar dan kabel listrik terpanjang, menyediakan 3GW listrik yang dapat dikirim dan mencukupi untuk menyediakan seperlima dari kebutuhan listrik Singapura.

Kabel listrik sepanjang 3.302 km akan diletakan mulai dari perbatasan ZEE Indonesia-Australia di laut Timor melewati Samudra Hindia, Selat Lombok, Laut Bali, Laut Jawa, Selat Gaspar, Laut Natuna, Selat Riau, sampai ke batas Indonesia Singapura. (dp)

  • Bagikan