Deklarasi Kesatuan Mahasiswa Subetnik Lelak Manggarai Kupang, Dibentuk Demi Kompetisi Global

dsc 0547
Dewan Penasihat bersama Tim Inisiator dan Badan Pengurus TAMPIL Kupang. Foto/Saf.

Banyak kelompok profesional berasal dari daerah ini yang bekerja di berbagai bidang pekerjaan. Bahkan ada yang pernah menjadi profesional penting di jajaran pimpinan di perusahaan Gudang Garam, di grup bank, dan ada pula yang menjadi dosen dan periset serta banyak pula di antaranya yang bekerja sebagai pastor dan jurnalis.

detakpasifik.comKetua Dewan Penasihat Kesatuan Mahasiswa dan Pelajar Lelak (TAMPIL) Manggarai, di Kota Kupang, Frans Dj Tulung, S.H, menyerukan kepada seluruh lapisan pelajar dan mahasiswa asal Kecamatan Lelak, Manggarai di Kupang, agar semangat utama deklarasi pembentukan kesatuan mahasiswa subetnik harus dimaknai sebagai salah satu bentuk latihan kepemimpinan dan berorganisasi, tetapi sekaligus deklarasi ini dalam kerangka semangat kompetisi intelektual global yang fenomenal belakangan ini.

Penegasan itu disampaikan Frans Dj Tulung, usai seremonial pendeklarasian pengurus Kesatuan Mahasiswa dan Pelajar Lelak di Kupang, yang dilangsungkan di aula utama biara Frateran Bunda Hati Kudus (BHK) di Oesapa, Kupang, Sabtu (15/1/2022). Deklarasi pembentukan kesatuan mahasiswa subetnik ini didahului dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Pater Alfons yang berasal dari Kecamatan Lelak, Manggarai, Flores.

Di depan 75 mahasiswa dan tokoh senior asal Kecamatan Lelak Manggarai, Kota Kupang itu, pengacara senior ini menyatakan, organisasi yang berlatarbelakang subetnik seperti TAMPIL itu adalah fenomena lumrah dalam masyarakat diaspora (perantauan). Tetapi fenomena ini harus bermakna kontributif ketika diletakkan dalam orientasi untuk sedikitnya tiga hal utama.

Klik dan baca juga:  Dilema Politisi dan Perilaku Suporter Dungu

Pertama, para mahasiswa harus menjadikan organisasi subetnik kedaerahan sebagai ajang latihan berorganisasi. Di dalam organisasi, setiap anggota belajar memahami dan mengerti pola interaksi lintas latar belakang dari setiap anggota. Karena setiap anggota pasti tidak datang dari latar belakang sejarah dan pengetahuan yang sama. Para anggota organisasi datang dari latar belakang studi yang berbeda, kemampuan intelektual berbeda, dan pengalaman sejarah hidup berbeda pula. Di dalam organisasi itulah para anggota organisasi saling belajar dan saling bertransformasi.

“Kalian harus saling belajar, saling menimba pengetahuan, dan saling mendewasakan diri sambil memahami konteks dan konten sosial  di tengah medan persaingan global yang sangat kompetitif,” ujarnya.

Kedua, para anggota organisasi subetnik harus melatih diri berkompetisi secara nalar, mengedepankan akal sehat, dengan basis ilmu pengetahuan yang diperoleh di kampus atau dari sumber lain yang dapat diakses. Dunia sudah sangat terbuka dan membuka diri untuk dicermati dengan akal sehat dan daya nalar yang tinggi.

Ketiga, para anggota organisasi saling rela mengatur waktu dari rentang waktu 24 jam sehari untuk belajar di luar kampus sebagai modal bersosialisasi dan berinteraksi untuk masa depan yang kian kompetitif.

Pengacara jujur dan cerdas ini menyebutkan, masa kini adalah masa padat informasi. Tetapi para aktivis organisasi harus tahu memilih dan memilah mana saja informasi yang bermanfaat bagi kepentingan diri masing-masing. Untuk mencapai ke level penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi dan dalam, tidak mungkin dilalui dengan cara-cara biasa atau dengan cara santai.

Klik dan baca juga:  Atas Nama Rakyat Dia Ikut Melarat

Secara historis, kata mantan anggota DPRD NTT ini, para intelektual asal Lelak, memiliki kompetensi yang handal di berbagai bidang kajian keilmuan. Mereka itu sudah menyebar ke berbagai daerah di tanah air, bahkan lainnya mengembara di luar negeri karena tugas. Banyak pula kelompok profesional berasal dari daerah ini yang bekerja di berbagai bidang pekerjaan. Bahkan ada yang pernah menjadi profesional penting di jajaran pimpinan di perusahaan Gudang Garam, di grup bank, dan ada pula yang menjadi dosen dan periset serta banyak pula di antaranya yang bekerja sebagai pastor dan jurnalis.

Tidak mungkin orang-orang ini bodoh. Tidak mungkin pula mereka-mereka ini tanpa mengalami tantangan ujian kehidupan yang berat karena wilayah Kecamatan Lelak dan sekitarnya di Manggarai tidak ditakdirkan sebagai wilayah subur makmur sebagaimana daerah lain di Manggarai Flores.

Tanah di wilayah Kecamatan Lelak adalah wilayah kurang beruntung. Tetapi, untunglah dari tempat itu banyak intelektual yang telah mengembara ke berbagai tempat di tanah air, termasuk di Kupang. Karena itu, jangan sia-siakan waktu hanya untuk urusan yang tidak ada manfaatnya bagi masa depan. Jadi belajar, belajar dan belajar serta berlatih dan berlatih. “Jangan takut bertanya, dan jangan takut pula berbeda pendapat karena itu ajang latihan untuk mengasah intelektual,” ujar Frans Tulung.

Klik dan baca juga:  Menteri Erick Thohir dan Gubernur NTT Berkomitmen Membangun Labuan Bajo

Pada kesempatan yang sama Pius Rengka mengingatkan fenomena kecenderungan globalisasi ekonomi setelah era globalisasi agama dan ideologi di dunia. Diingatkan, ada tanda-tanda bahwa ekonomi global tidak lagi berarus-utama di Kawasan Atlantik di bawah kendali Amerika dan sekutu-sekutu bisnisnya, tetapi cenderung mengalir ke Kawasan Pasifik di bawah pengaruh China dan negara-negara belahan selatan, termasuk Indonesia.

Bahkan ikatan solidaritas Melanesia tampak kian bertumbuh dan membentuk lingkaran politik romantisme yang kian menguat. Terkait dengan itu, posisi Indonesia dan terutama posisi Provinsi NTT, menjadi sangat critical jika tidak disadari oleh pemerintah atau penduduknya. Untuk itu, para mahasiswa wajib mengetahui gejala ini agar mahasiswa sanggup mengikuti gelombang perubahan itu secara sadar agar tidak hanyut tanpa kesadaran manusiawi.

Kesatuan mahasiswa Lelak ini dipimpin oleh Modesta Olimpia Nahul (22). Desta, begitu ia disapa, kini menempuh pendidikan kimia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana Kupang. Dalam satu tahun kepengurusan, Desta, mahasiswa semester 6 itu akan didampingi Sekretaris Anjelo Nurdin (21) yang juga berkuliah di FKIP Undana Kupang dengan konsentrasi pada pendidikan geografi.

 

 

(dp/pr)