Andre dan Ralan Dua Bocah Pejuang Rupiah di Jalan Piet A Tallo

  • Bagikan
heh[1]
Redaktur humaniora detakpasifik.com, Kristo LON, saat berbicara bersama Andre dan Ralan di pinggir jalan Piet A. Tallo. (Foto: detakpasifik).

Kupang, detakpasifik.com – Hari telah beranjak senja ketika pekan lalu, dua anak berusia 12 dan 13 tahun kembali ke Jl. Piet A. Tallo di bilangan Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, tak jauh dari kampus Undana.

Mereka melangkah dengan kaki mungil di aspal panas, di bawah terik mentari. Dua anak manusia yang baru seumur jagung dipaksa keadaan bertarung menggantang nasib demi kelangsungan hidup keluarganya.

Bermodalkan jagung rebus yang dibeli ibunya di pasar, kedua bocah laki-laki ini bergegas menuju tempat penjualan. Mereka menjual jagung, di tempat yang tidak biasa, di tepi lintasan jalan Piet A. Tallo tepi gereja Marturia tak jauh dari penjara.

Jurnalis detakpasifik.com seminggu belakangan memantau aktivitas dua anak yang masih sekolah di SDN Bimoku. Praktis, selepas sekolah dua kakak beradik Andre (13 th) dan Ralan (12 th) tak pernah menikmati masa bermain sebagaimana biasa dialami kebanyakan anak orang mampu.

Begitulah, rutinitas kedua kakak beradik itu, saban  hari selama musim jagung tiba, keduanya pergi ke tempat penjualan. Bagi mereka, trotoar di tepi lintasan jalan raya Piet A. Tallo itu adalah tempat penentu untuk merajut takdir menyambung sejarah nasib di hari esok.

Saban hari, usai makan siang, kedua anak kecil itu berangkat dari kamar kos di Lasiana. Mereka pergi ke tempat penjualan, diantar seorang dewasa. Tetapi ayah kedua anak ini sepertinya merestui pilihan itu. Sang ayah menanti keduanya di bawah naungan pohon belukar depan gereja Marturia tak jauh dari situ. Ayahnya adalah seorang buruh bangunan. Tetapi, selama badai pandemik Covid-19, sang ayah tak lagi mendapat orderan. Terpaksa, dua anak ini dikaryakan karena tak ada jalan lain selain menggantang nasib di terpa kemiskinan akut.

Andre (13 th) dan Ralan (12 th) memikul wadah penyimpan jagung rebus. Dua anak kecil ini, tidak merasakan masa kanak-kanak penuh jenaka dan bermain. Tetapi tidak.

img 20210315 171808[2]
Kristo LON, redaktur humaniora detakpasifik.com saat bercerita bersama Andre dan Ralan. (Foto: detakpasifik).
Meski dibakar terik mentari pukul 15.00 petang, tetapi keduanya terus berperang dengan keadaan karena harus melawan nasib yang tidak pernah mereka pilih.

Jalan Piet A. Tallo, Kota Kupang, tempat dimana mereka beradu nasib dan meraih rejeki dengan sejuta harapan, menjadi saksi bisu tatkala jagung tak laku terjual.

Tak dipungkiri, memang, kadang mereka bernasib sial. Jagung tak laku. Mereka pulang dengan tangan hampa, memikul jagung yang masih utuh tak terjual. Tetapi adik kakak ini tidak memiliki penilaian, tak memiliki evaluasi, kecuali memikul jagung yang tengah dingin digerus air hujan yang menerpa keduanya.

Sejak dini mereka mengetahui arti kata kecewa, ketika jualan tak laku terjual. Itu sudah menjadi nasib. Di trotoar, tepi jalan Piet A. Tallo Kota Kupang, baginya merupakan tempat strategis untuk berjualan. Mengapa? Karena dekat Anjungan Tunai Mandiri BRI dan BNI. Jaraknya kurang lebih 50 meter, dari lokasi mereka berjualan. Bagi mereka pilihan tempat jualan jagung rebus di tempat itu, masuk akal karena di dua ATM itu paling ramai disinggahi oleh pemegang duit. Spekulasinya jelas, siapa tahu setelah mengambil duit di ATM konsumen memiliki minat membeli jagung jualannya.

“Saya dan adik saya mulai jualan sejak adanya virus corona, karena sejak itu ayah kami tidak lagi bekerja,” ungkap Andre (13 th) menjawab pertanyaan detakpasifik.com di lokasi julan, (15/3/2021), sore. Hal senada diakui Ralan (12 th). Dia berjam-jam berada di bawah terik matahari.

“Kami datang setelah makan siang. Kadang-kadang jam 12.00 kami berangkat dari rumah di Lasiana, dan pulang jam 21.00 malam,” ujar Ralan (12) tahun.

Keringat bagai air hujan sudah teramat kerap mengalir tetapi tidak mengubah sedikit pun tekad keduanya. Mesti keduanya bertarung melawan getir kelaparan tetapi tugas menjual jagung harus terus dilakoni lantaran di rumah masih menanti hasil jualan  mereka untuk meneruskan asap dapur.

Diakui keduanya, cara yang tetap mereka lakukan dengan duduk berjongkok, sambil berteriak kepada yang melintas: “Jagung…jagung…,”

Jika hujan tiba, kedua adik kakak ini segera berteduh di bawah atap dua ATM tadi. Sementara jagung jualannya tetap di tempat, karena mereka memantau dari jauh.

Jika malam telah rebah dan jagung tak kunjung laku, kedua anak ini pulang sambil merunduk. Bagi kedua adik kakak ini, yang mereka lakukan adalah salah satu pekerjaan membantu orangtua mereka.

“Ini kemauan kami, kami mau membantu orangtua kami,” ujar keduanya. Meski kesehariannya bergelut menjual jagung, tetapi toh mereka tidak berkecil hati. Teman-teman seusianya selalu dimanjain oleh kedua orang tuanya, tidak membuat mereka berkecil hati. Diakui, pilihan nasib memang belum beruntung ke keluarganya.

Hasil jual jagung, kadang hanya laku satu bulir Rp 5.000. Tidak masalah, yang penting ada yang laku. Pendapatan yang kecil tidak menjadi masalah bagi mereka.

“Kami memang sedih kalau jagungnya tidak laku. Terpaksa kami makan sendiri, daripada dibuang,” ungkap Andre.

Andre kini di bangku sekolah dasar, kelas 6. Sedangkan Ralan, kelas 3. Kedua adik kakak ini menempuh pendidikan Sekolah Dasar Negeri Bimoku. Andre dan Ralan memiliki cita-cita seperti layaknya anak-anak pada umumnya.

Ralan, si kecil yang pantang menyerah itu bercita-cita menjadi seorang TNI. Beda dengan si kakak, Andre. Dia bercita-cita menjadi Polisi.

“Aku mau menjadi tentara,’” kata Ralan. “Aku mau menjadi Polisi,” seru Andre.

Ibu kedua anak ini adalah seorang penjual sayur keliling di bilangan Lasiana. Tetapi, sekarang ini fokus rebus jagung. Sedangkan ayah adalah  buruh harian, kuli bangunan. Bahkan, ceritera Andre, kadang ibu bekerja sebagai pembantu ibu rumah tangga, dan kerja serabutan mengais rupiah bekerja di kebun orang.

Semenjak munculnya pandemik virus corona, sang ayah sebagai tulang punggung keluarga, harus  menerima kenyataan pahit ketika kehilangan perkerjaan lantaran tak ada lagi orderan.

“Sejak saat itu kami memutuskan untuk mencari jagung dan menjualnya. Awalnya kami tak melibatkan mereka untuk menjual jagung. Akan tetapi mereka mau sendiri dan memaksa untuk ikut menjual,” ungkap Yohanes Warakaka (42 th), ayah Andre dan Ralan.

Yohanes sangat menyadari bahwa mempekerjakan anak di bawah umur itu, sebenarnya melanggar hukum. Tetapi mau bilang apa. Nasib buruk menimpa keluarga ini. Karena nasib buruk itulah Andre dan Ralan justru melamar diri ikut terlibat menjual jagung rebus.

“Saya pasrah dan berharap semoga kelak anak-anakku bisa mencari uang dengan cara yang lebih baik,” kata Yohanes sambil merunduk. Kiranya hari esok akan cerah. (Kristo LON)

 

  • Bagikan