Akhir Tahun Mencatat Sejarah

  • Bagikan
Pius Rengka.

Perlahan tetapi pasti, sejarah negeri ini dirajut dan disulam oleh tangan-tangan terampil dengan benang-benang sutera harapan bahwa di satu waktu entah sudah dekat atau jauh, Indonesia dan NTT akan bangkit dan sejahtera.

Oleh Pius Rengka

Apa yang dapat dicatat sebagai sejarah di akhir tahun 2021? Sejarah di bidang apa saja? Apakah ada sesuatu yang patut ditautkan dengan pembangunan politik dan ekonomi? Ataukah ada serial kegagalan yang menjadi sejarah kelam di tanah air, terutama di NTT?

Catatan ringkas berikut ini merupakan  sebuah catatan akhir tahun yang mencatat sejarah tentang segala hal yang dapat dirasakan, dilihat dan dimengerti oleh kebanyakan dari kita.

Tahun 2021 adalah tahun amat sangat kelam. Dunia dihajar pandemi Covid-19. Virus ganas itu pertama kali mencuat di Wuhan, China, akhir Agustus 2019.  Sebaran pengaruh Covid-19 melanda dunia dan berlanjut hingga 2021.

Tampaknya, tak seorang jua pun pemimpin di dunia yakin, bahwa Covid-19 segera mereda. Beberapa negara melaksanakan kebijakan lockdown. Para warga negara asing di beberapa negara terpaksa tidak pulang ke negara asal masing-masing karena kebijakan lockdown tersebut. Menyusul wabah Covid-19 itu, dunia berada di ambang krisis multidimensional berkepenjangan.

Pemerintah di belahan mana pun di dunia sibuk mengatasi masalah pandemi Covid-19. Tidak terkecuali negara-negara yang dianggap super kaya, seperti China, Amerika, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Eropa, Timur Tengah dan Australia. Indonesia beberapa kali mengalami pasang surut peringatan, mulai dari lockdown hingga pembatasan mobilisasi horizontal di dalam negeri.

Apa yang segera tampak terjadi? Penerbangan antarkota sepi. Udara Indonesia bersih dari lalu lintas udara. Destinasi pariwisata senyap. Hotel redup. Rumah-rumah makan nyaris mati total. Toko supermarket, mal, ditutup. Ribuan tempat hiburan berlibur tanpa diketahui pasti batas waktu berakhir. Kondisi serupa, juga dialami Provinsi  NTT.

Akibat riil di NTT, antara lain pendapatan daerah terjun bebas. Target pendapatan daerah yang dipatok tinggi di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tidak tercapai karena semua sektor sumber pendapatan baik berupa pajak retribusi tumbang. Antara belanja dan pendapatan timpang jauh. Belanja lebih besar dari pendapatan. Biaya pembangunan di berbagai dinas dan badan merosot tajam karena beberapa program dan kegiatan pembangunan  tidak dapat dikerjakan maksimal.

Dana pembangunan mengalami refocusing demi dua hal. Pertama, anggaran dipakai untuk mengatasi meluasnya Covid-19. Kedua, anggaran dipakai untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah tetap stabil.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi amat kerap tampil di televisi untuk menjelaskan kondisi keuangan negara dan implikasi yang mungkin timbul di semua wilayah provinsi dan kabupaten.

Meski demikian, Sri Mulyani, tetap mengingatkan kepada semua pihak agar disiplin menggunakan anggaran karena rakyat tidak boleh mengalami krisis melampaui batas wajar. Presiden Indonesia, Joko Widodo melalui Menkeu Sri Mulyani meminta agar semua rakyat dan pemerintah mematuhi protokol kesehatan sebagaimana telah ditentukan pemerintah.

Infrastruktur jalan provinsi

Proyek infrastruktur jalan provinsi yang menjadi salah satu program andalan Pemerintah NTT, terus terang, bukan tanpa mengalami gangguan serius. Meski demikian, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Maksi E Nenabu, secara sederhana menyatakan, pengalaman Covid-19 dan badai Seroja 5 April 2021, tidak sedikit pun menyurutkan niat pemerintah untuk menuntaskan pengerjaan infrastruktur jalan provinsi yang dijanjikan gubernur dan wakil gubernur. Disebutkan, jalan provinsi harus tuntas tahun 2022.

Maksi E Nenabu mengakui, janji tenggat waktu agak sedikit meleset dari janji awal bahwa infrastruktur jalan provinsi tuntas akhir tahun 2021. Tetapi, Maksi E Nenabu berani memastikan jalan provinsi akan benar-benar tuntas dikerjakan medio tahun 2022.

Maksi Nenabu menyebutkan, beberapa ruas jalan provinsi yang rusak akibat badai Seroja 5 April 2021, masih terkontrol dalam periode tanggung jawab  pemeliharaan kontraktor sesuai kontrak kerja. Karena itu, para kontraktor masih harus tetap bertanggung jawab untuk menuntaskan pengerjaan jalan sekaligus melakukan perbaikan jalan rusak karena badai Seroja.

Klik dan baca juga:  Indahnya Air Mancur Menari Pertama di Kota Kupang

Kadis PUPR NTT ini menyebutkan, data awal 2019, jalan provinsi berkondisi mantap 1.444 km = 54,5%. Akhir 2019, kondisi mantap 1.743,88 km = 65,8%.

Akhir 2020, mantap 1.857,94 km = 70,11%. Kondisi mantap itu dinilai dari jenis permukaan yang beraspal (HRS), ujar Maksi E Nenabu menambahkan.

Menurut keterangan Maksi E Nenabu, jika kondisi jalan provinsi dilihat dari waktu tempuh rata-rata (WTR), maka sampai dengan tahun  2022,  PUPR sudah menangani 906 km sesuai dengan target road map penanganan jalan dalam kondisi tidak mantap 906 km. Walaupun dengan konstruksi tidak semua aspal (HRS), tetapi kombinasi antara HRS dan GO (grading operation) sebagai lapis perata pada lapisan dasar jalan. Ini untuk menjawab kebutuhan di lapangan yaitu perlu peningkatan waktu tempuh rata-rata agar tidak terlalu lama waktu tempuh dari satu lokasi ke lokasi lain.

Hal itu menurutnya untuk menjawab kebutuhan di lapangan atau kebutuhan masyarakat. Jadi sampai dengan tahun 2022 semua jalan dalam kondisi tidak mantap sudah tuntas ditangani semuanya. Tinggal saja ke depan dana yang ada untuk melanjutkan pengerjaan aspal karena semua sudah GO dan WTR sudah cukup tinggi, 40-50 km/jam, dibanding semula hanya 10-15km/jam.

Berdasarkan progres pengerjaan infrastruktur jalan provinsi itu, Fauzan dari tim Direktorat Jenderal Bina Marga yang melakukan penilaian Pemda dalam penyelenggaraan jalan, menilai Provinsi NTT mendapat status peringkat ke 3 pada kategori pemerintah provinsi dalam kegiatan Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah dalam Penyelenggaraan Jalan. Karena itu, Maksi E Nenabu, diundang menghadiri puncak acara Hari Jalan Tahun 2021 yang diagendakan Senin, 20 Desember pukul 18.30 WIB, di Auditorium Kementerian PUPR. Tingkat pemprov, juara 1 Sulawesi Utara, juara 2 Banten dan juara 3 NTT.

Beberapa pulau remuk

NTT tak hanya ditimpa virus mematikan Covid-19. Tetapi, NTT pun dihajar badai Seroja 5 April 2021. Badai Seroja 5 April 2021 sangat jelas menerjang remuk redam sejumlah proyek yang sedang mekar seperti sawah garam industri di Kabupaten Kupang, kawasan pengembangbiakkan ikan kerapu di perairan Riung dan Semau.

Sedangkan ulah badai Seroja 5 April 2021 mengakibatkan ribuan bangunan rakyat di Pulau Pantar, Adonara dan sebagian besar fasilitas publik di Timor, Sumba Timur, Rote dan Sabu, hancur berantakan. Tak sedikit nyawa manusia melayang.

Melihat dari sangat dekat kondisi kerusakan fasilitas publik dan fasilitas privat yang ditimbulkan badai Seroja 5 April 2021, rasanya, kita seperti sedang berdiri di ambang jurang kehancuran. Melihat kerusakan yang ditimbulkan badai Seroja 5 April 2021 itu, sepertinya dunia kehidupan dan harapan begitu naif.

Tangisan para ibu yang kehilangan anak dan suami sungguh menyayat hati. Melihat rumah penduduk yang ditimbun lumpur dan bongkahan batu wadas, seperti terkesan Tuhan amat jauh dari belas kasihan. Tetapi, kaum optimistik, tetap saja melihat bahwa semua peristiwa, derita dan bencana tak lebih dari cobaan Tuhan Maha Pengada.

Saat bersamaan dengan tangisan pilu para ibu, riuh keluhan dan permintaan rakyat kepada pemerintah agar problem yang dihadapi rakyat harus segera dituntaskan, tidak pernah sepi. Irisan tuntutan, keluhan, dan kritik berhimpitan datang bergelombang. Tetapi, untunglah. Bantuan beberapa elemen masyarakat dari berbagai penjuru tanah air menyembul seiring dengan tumbuhkembangnya kesadaran dan solidaritas dari kalangan sendiri di NTT. Berkat koordinasi dan kerja sama lintas jenjang jejaring struktural dan kultural, implikasi bencana Seroja 5 April 2021 ini, perlahan beranjak pulih, meski belum semuanya tuntas.

Saat bersamaan pun solidaritas dan kesadaran elemen masyarakat tampak kuat ketika beberapa partai politik seperti Nasdem, Golkar, Demokrat dan beberapa elemen partai politik lain terlibat aktif menangani Covid-19 dengan cara ikut terlibat menangani vaksinasi Covid-19 meluas.

Seiring dengan itu, beberapa institusi negara, seperti institusi militer, kepolisian, kejaksaan dan terutama dinas terkait secara tanggung renteng menangani masalah Covid-19 dan Seroja sekaligus, termasuk bantuan penting lembaga-lembaga riset di Kota Kupang dan sejumlah perguruan tinggi di NTT.

Meski serial bantuan vaksinasi yang dikerjakan partai-partai politik itu tidak sepi dari tafsir anasir agenda politik 2024 dan satire sinisme beberapa kalangan terbatas, tetapi toh para sahabat aktivis di partai-partai politik tetap melakukan tugas mereka atas nama kemanusiaan dan solidaritas terhadap panggilan kemanusiaan itu. Mereka pun menahan untuk tidak mengumbar ujaran kebencian dan menaruh di tempat sampah semua diksi negatif atas pemerintah dan elemen sosial politik lain-lain.

Klik dan baca juga:  Deklarasi Kesatuan Mahasiswa Subetnik Lelak Manggarai Kupang, Dibentuk Demi Kompetisi Global

Di tingkat nasional, pemerintah malah disindir terutama dihujam hujatan oleh kelompok garis keras yang tidak ingin pemerintahan Jokowi sukses mengatasi krisis. Kelakuan yang sama seperti menjalar menular hingga ke lapisan bawah, terutama tampak melalui jalur media online dan jaringan media sosial lainnya yang gampang diakses.

Di media sosial dan jalur jaringan media sosial, tampak pula catatan kritis dari kaum bernalar baik agar penanganan Covid-19 dan badai Seroja 5 April 2021 lebih efisien dan efektif. Kelompok kritis akademis ini sanggup menyajikan data dan informasi teraktual demi menawarkan jalan solusi yang terbaik.

Pada situasi kecamuk kerja kemanusiaan dan masukan kritis kaum intelektual, sepertinya ditanggapi sebagian orang dengan selera berbeda. Sebagian lain mudah terpancing masuk ke dalam tebing krisis relasi sosial. Lainnya sigap merajut relasi solidaritas.

Membangun solidaritas dan menjaga kerja sama lintas elemen masyarakat, terkesan seperti kita sedang berlari di jalan bebatuan sambil menggendong periuk tanah yang terisi air panas. Akibatnya, ada saja di antara kita yang mudah terbakar amarah, ada pula yang gampang gemar tersanjung atas prestasi sesaat, dan lainnya lagi mudah lunglai di tengah terik perjuangan total mengatasi masalah.

Meski demikian, beruntunglah, kita semua pun masih mudah dibimbing oleh roh kebaikan yang senantiasa bercahaya di tengah lorong kegelapan relasi, sembari menambal sulam rajutan relasi antarteman, sejawat dan handai tolan.

Para ilmuwan dan akademikus tidak sedikit pun surut dari jenjang peringkat keilmuan ketika mereka memberi masukan dan solusi agar semua pihak lekas bergegas masuk dalam barisan para solutor. Bukan sekadar gampang menyatakan dan menunjuk masalah, melainkan segera bergerak mencari dan menemukan solusi. Karena semua hal gampang dikatakan, tetapi kerap sunyi di tingkat kerja nyata.

Peristiwa-peristiwa seremonial politik pun ditanggapi lebih dewasa. Orasi politik disahuti sebagai obat penenang kemasygulan relasi, sembari doa harapan didaraskan agar setiap orang kembali ke jalan senyap untuk menengok makna peran diri sendiri.

Perlahan tetapi pasti, sejarah negeri ini dirajut dan disulam oleh tangan-tangan terampil dengan benang-benang sutera harapan bahwa di satu waktu entah sudah dekat atau jauh, Indonesia dan NTT akan bangkit dan sejahtera.

Bank NTT

Di NTT misalnya, prestasi Bank NTT di bawah komando Alex Riwu Kaho, telah membukukan diri sebagai bank sehat berprestasi. Tetapi, capaian prestasi itu diiringi gosip dan ceritera minor tentang problem yang melingkar di tubuh Bank NTT.

Tulisan para kritikus pemerhati khusus Bank NTT yang disiram di berbagai media on-line, tidak sepi dari catatan kritis. Dinamika sirkuit kritik dan masukan para pemerhati Bank NTT tampaknya telah sanggup menambah keyakinan kita bahwa NTT tidak pernah kekurangan pemerhati kritis. Karena itu, mimpi menjadikan NTT sebagai kawasan laboratorium demokrasi bukan tanpa alasan kuat. Fakta bahwa Bank NTT telah berlangkah sejauh ini, adalah satu sisi lain yang perlu ditimbang. Tetapi kritik atas reputasi Bank NTT tidak boleh lepas dari kontrol internal. Kiranya, kritik dan prestasi adalah dua hal dalam satu perkara.

Tutup tahun 2021, Bank NTT menggelar media gathering, di Resto Subasuka, Pasir Panjang, Kota Kupang, Kamis (30/12/2021). Pada kesempatan itu, Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho memaparkan kinerja Bank NTT sepanjang 2021.

Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho mengakui, kinerja yang dicapai Bank NTT  tidak terlepas dari  bantuan teman-teman pers yang terus menulis dan kritik sehingga Bank NTT terus berbenah. Tanpa bantuan media, Bank NTT tidak bisa menjadi besar bahkan Bank NTT dapat lupa diri.

Klik dan baca juga:  Digitalisasi, Cara Cepat dan Tepat Mengejar Ketertinggalan NTT

Alex Riwu Kaho, Dirut Bank NTT yang santun dan rendah hati ini, memuji kerja para jurnalis. Pujian itu, tentu saja dialamatkan ke semua pihak. Para  jurnalis kritis yang piawai mencatat catatan kritis agar Bank NTT selalu menjaga kehormatan martabatnya, harus selalu awas pada nalar kritisnya.

Alex Riwu Kaho, tentu saja, tidak berkeja sendirian. Dia memimpin tim besar, termasuk para Komisaris yang kerja siang malam menjaga beleid rakyat NTT. Jurnalis harus tetap setia pada tugas mulianya sebagai pemberi informasi kritis, sekaligus kritis pada setiap informasi yang disajikan ke publik. Karena itu, relasi media massa dengan Bank NTT adalah relasi sahabat yang membangun gugatan kritis demi memuliakan kepentingan rakyat NTT.

Indonesia vs Thailand

Kabar sepakbola di penghujung tahun 2021, berawal kabar baik. Tim sepakbola Indonesia diberitakan makin sehat. Deretan kemenangan yang diraih disusun di lemari sejarah sejak awal tarung tanding dengan tim lain di Kawasan Asia Tenggara.

Kabar kemenangan tim sepakbola Indonesia disambut tempiksorak di mana-mana, seperti kita sedang menghidupi mayat mati suri yang bangkit berdiri tegak di tengah galau sepakbola tanah air. Media massa pun menyambut daftar kemenangan tim sepakbola Indonesia itu dengan glorifikasi yang melampaui ubun-ubun pujian.

Amplifikasi kabar kemenangan disiarkan dan disebarkan, entah dengan viralisasi warta di berbagai grup media sosial, tetapi juga tak henti-henti bola dibahas di tengah pertemuan keluarga. Maka nasib tim sepakbola Indonesia dibahas dengan macam rupa analisa. Hujan pujian terhadap pelatih import dari Korea Selatan pun melambung selangit.

Dunia persepakbolaan di mana-mana, tak hanya tanding lari dan tarung terampil tendang bola sepak, tetapi juga sekaligus kompetisi lincah olah bola dan ujian akal sehat, terutama akal sehat para pemain dan pelatih. Sedangkan para penonton, selain bertugas menaburkan tabiat supporter kerumunan, tetapi juga para pendukung membabi buta membela tanpa melihat sejenak pergi ke ruang kritis pola olah bola di lapangan hijau.

Jika Jepang menyiapkan manusia pesepakbola selama 50 tahun agar pemainnya tangguh di lapangan hijau untuk kelas dunia, setidaknya Indonesia tampil apiklah di pelataran lapangan bola sepak di Asia Tenggara, meski Indonesia telah merdeka lebih dari 50 tahun. Tetapi, rupanya nasib naas datang berkanjang ketika mulai tampak sejak tim Indonesia bertarung melawan Singapura.

Indonesia unggul atas derita Singapura akibat akumulasi kartu merah. Indonesia menang telak di atas lapangan hijau dengan lawan tarung 8 pemain bola Singapura. Di atas puing kegundahan Singapura itulah Indonesia menghadapi musuh optimal Thailand.

Sejak menit awal pertandingan, tampak jelas Indonesia telah kerasukan psywar di media yang diciptakan Thailand. Disebutkan, Indonesia bukan lawan tanding simetris. Di Kawasan Asia, demikian serang psywar itu, Thailand hanya khawatir pada Jepang. Indonesia bukanlah lawan tanding yang patut dibahas serius.

Benar saja. Pada menit kedua, pertandingan babak pertama, Indonesia memikul beban satu gol buah dari permainan tiki taka ala Thailand dari alur bola sisi kanan.

Gemuruh teriakan penonton TV Indonesia berbalik menghujat tim sepakbola Indonesia. Kesebelasan merah putih itu, kian surut ditekan. Lari pontang panting mengatur serangan balasan, tetapi kandas pada penyelesaian akhir.

Benturan tubuh terpental tumbang. Bola atas kalah kelas. Gocekan bola Thailand unggul terampil. Serangan bergelombang seperti badai Seroja 5 April 2021 menerpa pantai teluk Kupang. Gol bertambah. Caci maki penonton seluruh pelosok kampung menyiram tabur di udara Indonesia.

Kini doa harapan dilambungkan ke jagat nirwana, siapa tahu pada pertandingan ulang kedua rejeki berpihak ke pemain tanah air. Hiburan memang selalu datang setelah terlambat. Tetapi, penonton Indonesia mencakar di akal perihal gizi buruk dan rupa jelek politik sepakbola Indonesia. Yang lain diam-diam meninggalkan meja perundingan dan pergi tidur sambil berdesis … Indonesia lemah.

 

(dp)

  • Bagikan