Ada Penghormatan

  • Bagikan
Forum wartawan NTT tengah menggelar kegiatan akbar dan maha penting di Kantor DPRD NTT.

Kupang, detakpasifik.com – Senin, 15 Maret 2021, seperti hari-hari sebelumnya, saya memburu berita di kompleks DPRD NTT. Di sana, memang selain mudah menjumpai makhluk hidup berpikir untuk dijadikan narasumber berita, itu adalah tempat favorit para jurnalis. Mulai dari penulis berita kelas kaliber sampai yang masih “gumuk” (istilah orang Manggarai menjelaskan tentang sesuatu yang baru/baru tumbuh/mekar) dapat dengan mudah dijumpai di lokasi kompleks parlemen ini.

Baca juga: Surat Dari Dapur Redaksi

Di kawasan DPRD NTT juga terdapat sebuah kantin kecil, Kantin Of The Record yang menjadi tempat nongkrong para jurnalis-jurnalis itu. Bila lelah memburu narasumber, kantin kecil ini biasanya menjadi tempat yang pas untuk kembali mengisi perut atau sekedar minum kopi. Tinggal dipesan, kopi segera disajikan Ibu Oca, pemilik kantin.

pa

Mungkin juga karena pemilik kantin ini mengijinkan wartawan untuk bon “makan dulu, nanti kalau sudah ada uang baru bayar,” begitu kalimat yang sering diucapkan Ibu Oca saat melayani pewarta yang lapar namun kantongnya lagi kosong.

Klik dan baca juga:  Aspirasi Peralihan Semau ke Kota Kupang Diserahkan ke DPRD NTT
Beberapa jurnalis sedang merampungkan berita sambil menyeruput kopi di Kantin Of The Record.

Untuk hari ini, saya sepertinya agak lebih awal tiba di kantin Ibu Oca ini. Pewarta yang lain mungkin masih sibuk dengan agenda liputannya masing-masing.

“Kopi?,” Tanya Ibu Oca sambil mendekati tempat saya duduk. “Iyaa,” sahutku, memberi persetujuan atas tawarannya itu. Untuk urusan ini, Ibu Oca tahu betul selera kopi saya. Tidak manis, namun juga tidak sepahit kopi yang biasa disajikan sebagian masyarakat Manggarai Timur yang hampir 100% tanpa gula.

Baca juga: Aspirasi Peralihan Semau ke Kota Kupang Diserahkan ke DPRD NTT

Baru saja saya memulai meneguk kopi suguhan Ibu Oca, tiba-tiba ada suara teriakan dari jarak sekira 40 meter. “Woi,,,!!! tak…tak…,” begitu bunyi suara teriakan itu, tidak jelas.

Namun, tidak lama berselang, orang-orang yang berteriak tadi, yang suaranya tidak jelas itu menghampiri saya. Mereka itu adalah senior-senior saya sesama penulis berita. Di antara mereka ada yang menulis di media ternama tanah air.

Klik dan baca juga:  Peduli Stunting, Yeni Veronika Serahkan Bantuan 7 Unit Alat Timbangan Digital Bayi ke Puskesmas Nanu

Baca juga: Pembangunan Infrastruktur di Pulau Semau Luput dari Perhatian Pemerintah

Mereka menepuk pundak saya. Ada yang menjulur lengannya untuk memberi salam. “Selamat ya, untuk rekan-rekan detakpasifik.com,” begitu ucapan mereka. Saya baru paham ternyata suara panggilan yang terdengar tak..tak tadi adalah potongan bunyi suara yang sesungguhnya menyebut kata detak (detakpasifik).

Para jurnalis tengah duduk santai sambil menikmati kopi Ibu Oca.

Pewarta-pewarta itu semakin banyak tiba di warung ini. Mereka yang baru datang langsung menghampiri tempat saya duduk, memberi salam atas lahirnya media detakpasifik.com

Saya bercerita lama dengan para penulis berita ini. Sebenarnya cerita kami lebih menyerupai tanya jawab. Mereka bertanya dan saya menjawab. Mereka silih berganti bertanya. Seketika saya merasa seperti narasumber kunci atas sebuah peristiwa luar biasa yang sedang terjadi di negeri ini.

Klik dan baca juga:  Peduli Stunting, Yeni Veronika Serahkan Bantuan 7 Unit Alat Timbangan Digital Bayi ke Puskesmas Nanu
launcing
Tim detakpasifik berpose (Kika: Yasintus Darman, Pius Rengka, Yulin Kurnia, Chelni Panja, Andry Mulyadi, Irfan Budiman, Juan Pesau, Kristo LON).

Pertanyaan mereka ada yang serius, ada pula yang cukup jenaka. Misalnya pertanyaan yang saya anggap cukup serius adalah siapakah dua perempuan gagah, elok dan sungguh menawan yang terpampang dalam foto tim redaksi detakpasifik.com? Kapan mereka akan datang liput di kompleks DPRD NTT? Heheee.

Pertanyaan kedua adalah bagaimana cerita mulanya sampai penulis sekaliber Pius Rengka menunjuk Juan Pesau dan 6 pemuda/pemudi lainnya melakoni detakpasifik.com?

Berikutnya pertanyaan mereka yang saya tangkap adalah bagaimana ceritanya sampai Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat bisa mau memberikan ucapan selamat atas launching media detakpasifik.com?
Selebihnya saya lupa pertanyaan mereka.

Saya menyimpulkan sendiri atas riuh riahnya teman wartawan terhadap saya hari ini. Singkat saja kesimpulan saya. Mereka menaruh hormat. Mereka tahu detakpasifik.com bisa tumbuh menjadi seperti media daring lainnya di NTT yang lebih dulu telah diperhitungkan.

Ya… kira-kira begitu.* (JP)

  • Bagikan