Yusuf ke Mesir: Skenario Perdagangan Manusia?

Ilustrasi Pixabay.

Di masa kini, manusia telah benar-benar piawai dalam memperdayai sesama. Yang terungkap dalam berbagai modus homo homini lupus -manusia adalah serigala bagi yang lain-. Itulah kisah nyata yang sungguh mengkhawatirkan.

“Kita tidak bisa berputus asa tentang kemanusiaan, karena kita sendiri adalah manusia” – (Albert Einstein, fisikawan teoretis, 1879-1955).

Oleh P. Kons Beo, SVD

Yakub: aura kasih keayahan yang tak mudah

Memang semuanya tak mudah bagi Yakub. Bagaimana ia mesti ‘membagi kasih’ terhadap ke dua belas putranya itu? Dengan cara yang sama dan sama rasa pula? Mari kita komen seadanya aura keayahan Yakub bagi anak-anaknya itu.

Dari empat perempuan yang singgah di jiwa-raga Yakub lahirkan baginya dua belas putra dan seorang putri. Kitab Kejadian–Alkitab, kisahkan secara jelas.

Lea hadirkan Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Zebulon dan seorang putri bernama Dina. Dari Bilha, hamba perempuan Rahel lahirlah Dan, dan Naftali. Lea memberikan Zilpa, hambanya kepada Yakub. Dan dari Zilpa lahirlah Gad dan Asyer. Dan dari Rahel, istri yang dikasihi Yakub lahirlah Yusuf dan Benyamin.

Keluarga Yakub di titik genting

Suasana keluarga Yakub, yang penuh hewan ternak itu, perlahan ada di titik genting. Yusuf, yang sering juga gembalakan ternak bersama-sama para abangnya, saksikan sendiri kerja suramnya para abangnya itu. Dan tak tinggal diam, “Yusuf menyampaikan kepada ayahnya tentang kejahatan saudara-saudaranya” (Kej 37:2).

Alam benci pun perlahan muncul. Mungkinkah para saudara Yusuf itu tak jujur dan penuh mafianya di padang penggembalaan? Entahlah. Yang jelas Yusuf sudah bertutur semuanya pada Yakub, ayah mereka.

Yakub: ayah yang pilih kasih?

Gelora hati panas para saudara Yusuf perlahan menanjak. Ini soal perlakuan Yakub, sebagai ayah, dirasakan timpang. Terlalu fokus rasa kasih sayangnya terhadap Yusuf. Bayangkan saja, “Yakub menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi Yusuf” (Kej 37:3).

Maka ketidakramahan pun tak terhindarkan. Yusuf jadi pribadi yang tak disukai. Dapat dibayangkan hidup Yusuf, dengan kasih sayang dari ayahnya, dan ‘jubah teramat indah’, namun harus dikelilingi oleh rasa benci, iri hati dan segala perlakuan tak ramah (cf Kej 37:4).

Klik dan baca juga:  Ino Assa: Menjadi Kaya Itu Gampang, Tetapi Banyak Orang Lebih Suka Menghayal

Dan kebencian para saudara Yusuf pun memuncak. Kali ini bersinggungan dengan suatu mimpi. Kata Yusuf, “Aku bermimpi pula: tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku” (Kej 37:9). Dan Yusuf pun mesti ditegur Yakub, sang ayah. Sebuah mimpi yang tak beretika. Tak pantas orangtua dan kesebelas saudara mesti menyembahnya “sampai ke tanah” (Kej 37:10).

Skenario ‘darah binatang buas’

Dan pada titiknya momentum pilu harus dialami Yusuf. Entahkah ia akhirnya harus jadi korban satu skenario syarat kebencian? Dikiranya para saudaranya menggembalakan ternak dekat Sikhem, ternyata semuanya ada di daerah Dotan, yang jauh itu. Dan Yusuf pun harus mencarinya ke sana. Dan di Dotan itulah skenario dibangun.

Kita ringkaskan kisahnya, –iya syukurlah bila masih terekam atau telah membaca kisah Yusuf dalam Alkitab. Sebab, bisa saja kisah-kisah film India atau drama-drama Korea lebih digemari anak-anak dan kaum muda ‘zaman now’, ketimbang kisah-kisah Alkitab-.

Tetapi, mari kita lanjut. Yusuf harus dihabisi nyawanya. Jenazahnya mesti dibuang ke dalam sumur. Jubahnya mesti direndam dengan darah hewan buas.

Yakub, sang ayah, mesti dapatkan kabar bahwa anak kesayangannya mati tragis karena terkaman hewan liar. Akan tetapi, skenario itu gagal. Sebab, Ruben, si sulung, tak menghendaki ‘adiknya, Yusuf, saudara semua mereka, untuk diapa-apakan.’ Suara lantang Ruben, “Jangan kita bunuh dia!” (Kej 37:22).

Dan si Yehuda pun bersuara. Tak ada untungnya membunuh saudara dan darah daging kita sendiri. Yang terbaik bagi Yehuda adalah “Mari kita jual dia kepada orang Ismael ini” (kej 37:27).

Dan, kisah Yusuf pada akhir Bab 37 Kitab Kejadian lukiskan betapa pilunya hati Yakub, sang ayah, karena kehilangan anak yang dikasihinya. Yakub bahkan tak ingin dihibur sedikit pun.

Menuju Mesir

Episode Yusuf pun ditutup dengan satu kisah pengasingan. “Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja” (Kej 37:36). Tindakan menjual Yusuf dianggap ‘ada untungnya’ ketimbang harus membunuhnya.

Klik dan baca juga:  Julie Laiskodat Motivasi Generasi Muda Kabupaten Kupang Pentingnya Literasi

Satu pertanyaan mesti hinggap di hati kita. Mengapa Yusuf mesti dijual ke orang asing? Semula ada niat agar Yusuf ‘dihabisi’. Yusuf sungguh beruntung. Masih ada Ruben, kakak sulungnya, yang menyelamatkannya. Beruntung pula ada suara si Yehuda walau Yusuf mesti dilepas ke tangan orang Ismael.

Mungkinkah ini kesalahan Yakub, sang ayah, yang sekian anak-emaskan Yusuf dan abaikan yang lain? ‘Kepemimpinan pilih kasih’ sungguh bangkitkan rasa dengki dan iri hati.

Tinggalkan alam Yakub

Tetapi sungguhkah Yakub sengaja mendandani Yusuf sebagai anak rumah yang dimanja? Dan sementara yang lain mesti peras keringat, berpayah-payah di padang penggembalaan?

Tetapi, pada saatnya, Yusuf mesti ‘dikeluarkan’ dari segala kemewahan perlakuan Yakub, sang ayah. Ia mesti dijual ke orang Median. Dan harus, akhirnya, ‘didagangkan’ ke tangan Potifar, salah seorang pejabat di tanah Mesir.

Namun, apa memang hanya karena rasa cemburu itulah, satu-satunya alasan, yang jadi pemicu? Ataukah memang ada kepentingan tersembunyi di balik tindakan para saudara Yusuf?

Episode suram perdagangan manusia zaman kini?

“Memperdagangkan saudara sendiri?” Satu tindakan keji yang nyata terbaca dalam Alkitab. Namun, tidakkah tragedi kemanusiaan itu tetap berlanjut? Episode suram ‘padang penggembalaan Dotan’ itu bisa jadi simpul dari tragedi kemanusiaan di masa kini pula.

Human trafficking adalah kisah pilu tentang kemanusiaan yang ambruk. Namun, itukah yang disadari serius? Tanah seberang adalah lukisan kisah penuh mewah. Berkelimpahan susu dan madu. Mimpi ‘hujan emas di negeri orang’ telah sulapkan hati penuh gelora untuk beralih lokasi. Menuju tanah terjanji. Akibatnya?

Serasa tak penting apa itu sebuah proses yang benar dan seharusnya dilewati. Tak peduli akan keterampilan apa yang mesti jadi bekal. Kepasrahan diri nampak telah jadi jaminan nyaman. Tak pernah disadari bahwa sekian banyak ‘sumur resapan maut’ yang sesungguhnya telah dikaroseri para pelaku keji dan berbahaya.

Tak pernah kurang kisah getir

Kita tak pernah kurang kisah-kisah penuh getir yang terdengar. Saat teror, ancaman, siksaan serta perbagai tekanan jadi cerita yang telah jamak terendus. Orang telah bertarung ‘cari hidup’ sambil harus gadaikan ‘nafas hidupnya sendiri.’

Klik dan baca juga:  Paradoks Labuan Bajo dan Takdir Rakyat Manggarai Barat

Di masa kini, manusia telah benar-benar piawai dalam memperdayai sesama. Yang terungkap dalam berbagai modus homo homini lupus –manusia adalah serigala bagi yang lain-. Itulah kisah nyata yang sungguh mengkhawatirkan.

Kita pasti terenung jauh. Beda nasib Yusuf bin Yakub, yang berakhir gemilang di tanah Mesir bagi saudara-saudaranya. Situasi sebaliknya, terdapat sekian banyak saudara kita yang ‘terjual mudah’ ke negeri seberang. Dan akhirnya harus kembali pulang tak wajar dalam sunyi selamanya.

Akhir penuh pilu

Mereka tak membawa pulang dari tanah ‘Mesir-perantauan’ sekian banyak peti bukti perjuangan hidup. Yang nyata adalah tubuh dingin dan kaku mereka yang telah ‘dipetimatikan’. Yang akhirnya mesti disambut kaum keluarga dan seisi kampung halaman dengan ratapan menyayat.

Dan mari kita menatap pula ke wilayah ‘tanah penggembalaan, NTT.’ Bukan tak beralasan bila Gabriel Goa, Ketua Dewan/Pembina Padma Indonesia mengklaim bahwa sungguh “NTT: Ladang Subur Perdagangan Orang.”

Cerita NTT tak pernah sepih dari rentetan kisah pahit yang tertenun dalam nestapa perdagangan manusia. Di Januari hingga Senin, 22 Februari 2022 saja telah terjadi 25 kisah kematian perantau NTT. Dan hanya satu di antaranya yang lewati jalur wajar (prosedural).

Human trafficking kiranya telah siratkan daya kerja penuh mata rantai  mafioso. Semuanya berujung pada tragedi kemanusiaan yang sungguh miris. Jika keadaan terus seperti ini, maka kepada apa dan siapa lagi suara berkeluh dan tangisan duka lara ini ditujukan?

Tetapi, setiap kita tak pernah boleh berputus asa, pantang menyerah, apalagi bila harus menutup mata. Demi segala narasi kemanusiaan yang harus bercitra dan bermartabat, kita terpanggil untuk memperjuangkannya.

 

Verbo Dei Amorem Spiranti

Facebook Comments Box