NTT  

Terkenang Sumba Tengah: Hujan Badai dan Gelombang Menghajar NTT

ilustrasi gelombang tinggi lagiiiiiii
Ilustrasi gelombang.

Catatan Pius Rengka

Sejak pukul 22.45 Wita, Jumat (2/4/2021) hingga Sabtu (3/4/2021) pukul 21.30 hujan badai dan gelombang pasang menghajar Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagian banjir bandang menerjang lalu lintas jalan raya. Luapan air merangsek sejumlah trotoar kota. Air meluap ke segala arah, membawa serta sampah dan rongsokan limbah kota yang dikirim dari rumah penduduk yang belum terurus tuntas.

Tampak beberapa keluarga terpaksa memilih tinggal saja di rumah membatalkan diri untuk tidak mengikuti misa dan perayaan Paskah di gereja-gereja di Kota Kupang.

Informan detakpasifik.com dari berbagai daerah menyebutkan, kawasan pesisir Pulau Sabu, Rote Barat, Kota Kupang Pasir Panjang, Namosain, Lasiana, Malaka Belu Selatan, Timor Tengah Selatan, Belu-Atambua dan sebagian besar daratan Sumba dan Alor mengalami hal serupa. Limpahan air menyusul badai dan gelombang serta hujan tak putus-putus 24 jam. Hingga catatan ini ditulis, belum diperoleh kabar ada korban jiwa atau fasilitas publik yang rontok berantakan.

Sementara itu, dari Ruteng, Manggarai, Flores, informasi yang diperoleh menyebutkan, ibukota Kabupaten Manggarai yang terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut itu bagai kota mati, menyusul terpaan hujan lebat sepanjang malam Jumat kemarin yang disertai badai hingga pagi Sabtu. Hujan badai menghalau banyak tanaman penduduk.

Seorang ibu rumah tangga di Lawir Ruteng, Frida Hanu yang ditanyai detakpasifik.com menyebutkan, hujan dan badai telah menghajar Kota Ruteng. Akibatnya, kota itu mati total. Sepi. Hujan dari pagi ketemu pagi.

“Semua orang memilih tinggal diam saja di rumah. Karenanya, perayaan Paskah kali ini terasa penuh dengan rangkaian rantai uji coba. Tetapi saya percaya, Tuhan menyelenggarakan sesuatu yang terbaik bagi umat manusia,” ujarnya yakin melalui pesan WhatsApp yang dikirim ke detakpasifik.com, Sabtu (3/4/2021) petang. Dirinya dan keluarga masih menjalankan ibadah Paskah di gereja, meski curahan hujan tak pernah surut.

Kabar nyaris serupa datang juga dari kawasan Sulawesi Selatan, Palu, Minahasa dan sebagian Jawa, Bali, dan Mataram. Begitu pun beberapa wilayah di kawasan Timur Indonesia. Laporan serupa dari Moa, Ibukota Kabupaten Maluku Barat Daya dan Saumlaki dari Maluku Tenggara Barat. Dilaporkan, hujan mengguyur sepanjang malam di daerah itu. Belum diperoleh kabar ada bencana berarti di beberapa wilayah tersebut.

Informan detakpasifik.com dari berbagai wilayah di Indonesia melaporkan, dahsyatnya hujan dan badai belakangan ini telah mengalami sejenis anomali musim.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Meteorologi Maritim Tenau belum lama berselang telah meramalkan sebelumnya bahwa di kawasan NTT, Sulawesi dan beberapa daerah lain di Timur Indonesia akan mengalami musim hujan lebat dan angin badai serta gelombang pasang. Siaran itu untuk mengingatkan agar masyarakat awas keadaan.

BMKG Perwakilan NTT seminggu sebelumnya telah menyampaikan peringatan itu melalui siaran warta yang diterima detakpasifik.com empat hari silam. BMKG meminta, agar masyarakat di sekitar wilayah pantai hati-hati dan perlu mawas diri karena badai hujan dan gelombang akan segera menghajar beberapa daerah di NTT.

Klik dan baca juga:  Mengubah Pola Pikir Orang NTT Terhadap Sekolah

Jaringan Perusahaan Listrik Negara, bahkan mengalami mati total seluruh Pulau Timor tiga jam menyusul hujan dan badai yang tidak berhenti.

Di Pelabuhan Tenau dan Bolok Kupang, saat detakpasifik.com memantau, tampak sepi. Tak ada hilir mudik dan olah gerak kapal dan perahu rakyat. Gelombang pasang menghajar seluruh tepian pantai sepanjang kawasan itu. Tampak putih membuih membentur karang di tepian membuncah ke udara.

Di Namosain, Kupang, saksi mata menyebutkan gelombang diperkirakan mencapai 7 meter. Sejumlah perahu nelayan terpaksa diungsikan ke tempat aman dari amukan gelombang. Air laut menerjang dan buih gelombang mencapai menggapai-gapai hingga ke jalan raya. Tampak beberapa rumah penduduk tergenang air laut.

Di Jl. Lalamentik, tak jauh dari Gua Lordes, lorong kali sepanjang daerah aliran sungai tak jauh dari Toko Mitra, air meluap hingga menghajar trotoar jalan. Seorang pria muda pengendara sepeda motor jenis Supra X, terdesak hingga jatuh. Ia dihalau banjir dua meter hingga membentur pohon angsono penghadang. Dia beruntung. Bala bantuan kalangan relawan dadakan di daerah sekitar itu segera datang menolong. Jika tak dibantu, dapat dipastikan pria muda nan malang itu terperosok ke lubang gorong-gorong dan hanyut menghalaunya hingga pantai Oeba.

Hal serupa terjadi di objek wisata Lasiana, dan sekitarnya. Gelombang menghajar hingga melampaui tembok penghadang batas pasir pantai. Dilaporkan, hujan merata di Pulau Timor, Semau, Sumba, Sabu, Rote dan Flores.

Sementara Bendungan Tilong di Kabupaten Kupang, air telah meluap. Banjir kiriman mengalir ke sawah para penduduk sekitar di Tarus. Sebelumnya, bendungan itu menelan korban jiwa setelah korban tak hati-hati meloncat masuk ke tepian bendungan bagian barat.

Gubernur Viktor 5 bulan silam

Lima bulan silam. Persisnya di tepi penghujung November 2020. Kala itu, Gubernur Viktor Laiskodat dengan sangat percaya diri mencanangkan pembukaan sawah di atas hamparan lahan lima ribu hektar dan lahan jagung lima ribu hektar di Sumba Tengah.

Kala itu, dia menyatakan, Sumba Tengah adalah kabupaten termiskin nomor satu dari enam kabupaten miskin di NTT. Pernyataannya itu telah mengundang kritik dan sindiran. Terutama kritik yang mengalir dari pengamat amatir dan politisi. Tetapi, Gubernur Viktor jalan terus.

“Saya tak ada waktu untuk melayani kritik dari subjek yang tidak menyumbang perubahan apa-apa untuk kemakmuran NTT itu,” ujarnya.

Sumba Tengah adalah daerah penyumbang kemiskinan nomor satu. Tak hanya penyumbang kemiskinan NTT, tetapi juga penyumbang besaran angka kemiskinan untuk Indonesia. NTT adalah satu dari tiga provinsi termiskin di Indonesia.

Klik dan baca juga:  Agus Supratman, Camat Penggerak TJPS di Lamba Leda Flores

Karenanya, di Sumba Tengah, ujar gubernur kala itu, harus ada terapi khusus. Terapi khusus yang sungguh-sungguh dan fokus, agar masyarakat Sumba segera keluar dari lilitan kemiskinan akut.

Waktu itu, banyak orang ragu. Bahkan tak percaya. Termasuk saya. Alasannya cukup terang. Bagaimana mungkin Sumba Tengah yang dikenal luas sangat kekurangan hujan dan air itu dapat menghidupkan jagung dan padi sawah?

Keraguan itu, tak hanya terang benderang, tetapi juga masuk akal. Pengalaman berpuluh tahun sebelumnya, Sumba Tengah hanya dikenal sebagai salah satu daerah super kering. Hidup harian kalangan tertentu di situ, kadang hanya mengandalkan hasil curian. Hewan diembat dan perampokan pun bukan ceritera langka. Baku bunuh semacam salah satu jenis cabang olahraga.

Sumba Tengah, konon katanya, adalah daerah penyumbang maling hewan sepanjang sejarah. Bahkan paling banyak. Belakangan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat kemudian, dengan cara khas bertindak tegas. Dia menjadikan kawasan hutan belantara di daerah itu sebagai lokasi atau ajang latihan militer (tentara). Sejenis latihan perang. Senjata laras panjang dipasok ke sana untuk menggenapi latihan tembak dalam barisan pohon-pohon hutan belantara.

Instruksinya terang benderang nan jelas. “Tembak saja objek yang tidak dikenal yang berkeliaran di dalam kawasan hutan Sumba Tengah. Kerbau, babi hutan ditembak saja atau apa pun yang diduga bukan peserta latihan perang. Siapa tahu ada musuh infiltran atau babi hutan,” ujarnya.

Belakangan diketahui bahwa seruan itu adalah taktik strategis psywar untuk mengusir para maling yang bersembunyi dan menyembunyikan hasil jarahannya di dalam hutan belantara. Tak ayal lagi, taktik ini jitu. Psywar membuahkan hasil sungguh optimal. Para maling hewan akhirnya kabur berhamburan meluber keluar hutan. Lainnya berhasil diringkus dan ditangkap.

Tak berapa lama setelah seruan latihan perang di dalam hutan itu, 6 maling kesohor diseret ke pengadilan dan diadili. Tiga di antaranya dihukum penjara dan dipenjarakan di Nusakambangan, Jawa Tengah.

1608129568
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat. (Foto: detikcom).

Namun, poin pentingnya ialah Sumba Tengah harus diurus serius. Lima bulan silam, bahkan sebelumnya, Gubernur Viktor Laiskodat dicibir banyak kalangan lantaran seruannya itu. Mereka menyebutkan, ini gubernur sungguh kasar, tak menjaga ujarannya. Apalagi ingin menjadikan Sumba Tengah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mengalir dari sektor pertanian. Aneh!

Terkesan bahwa ujaran Viktor Laiskodat sekadar isapan jempol belaka. Hanya omong doang, kata orang Jakarta. Bahkan ada di antara para pengamat semi amatir di NTT, menyebutkan ini gubernur agak nekad tatkala membuka lahan sawah dan jagung di hamparan 10 ribu hektar. Itu omong kosong dan omong besar saja.

Kritikan itu masuk akal, lantaran Sumba Tengah memang bukan wilayah penyimpan sebaran air yang hebat. Apalagi Sumba Tengah dikenal sebagai salah satu wilayah minus hujan di NTT. Bahkan Pulau Sumba adalah satu dari tiga pulau terpanas dan kering kerontang di Indonesia, selain Timor dan Sabu.

Klik dan baca juga:  Pemuda di Lembata Dapat Jaket Merah Pemberian Jokowi, Dikenakan Langsung

Lima bulan silam, ketika Sumba Tengah dicanangkan sebagai pusat pembangunan pertanian, Gubernur NTT, semacam berspekulasi saja berkata: “Bupati lakukan saja apa yang saya minta itu. Segera buka lahan sawah dan jagung. Nanti hujan turun. Hujan akan datang, karena Tuhan menolong saya,” seloroh gubernur kala itu yang disambut tertawa khalayak ramai.

Terus terang, saya pun diam-diam tidak yakin begitu saja, karena tak ada lagi sejarah mukjizat di abad ini. Keraguan saya itu, saya gugat terus-menerus, ketika ada waktu luang. Tetapi, Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, selalu menjawab hal yang sama.

“Yakin saja. Hujan akan datang berlimpah tahun ini. Percaya saya. Sawah padi serta jagung di Sumba Tengah akan berhasil tumbuh. Lihat saja nanti,” ujarnya meyakinkan. Tetapi, sungguh mati, saya tetap tidak percaya. Tetapi, saya tidak percaya diam-diam dalam hati saja.

Namun, sikap saya dan beberapa orang yang saya kenal berubah, tatkala hujan itu mulai datang dengan curahan yang berlimpah. Saya teringat ucapan berulang Viktor Laiskodat, lima bulan silam. “Tuhan pasti tolong kita. Tuhan sayang saya. Tuhan kasih kita hujan,” begitu selalu yang dikatakannya tiapkali berbicara soal Sumba Tengah.

Dengan melihat kenyataan hujan lebat bukan main selama tahun ini, rasanya tak ada alasan untuk tidak percaya. Banjir bandang di mana-mana. Dikhawatirkan, banyak tanaman rakyat dihajar hujan dan badai.

Kembali ke Sumba Tengah. Tangan sejarah mencatat, Presiden Jokowi telah datang ke sana atas undangan gubernur. Presiden berbadan tipis ini disambut rakyat Sumba dengan teriakan histeris, tatkala sendirian melangkah ke tengah sawah di Sumba Tengah. Presiden dielu-elukan penduduk Sumba.

Bupati Sumba Tengah, Paulus Kira, tak pernah dikira tak dapat berbicara banyak. Hanya air matanya memberi tanda ketika air mata Paulus Kira menetes mengungkapkan sejumlah kisah di baliknya. Kira-kira hari ini Paulus Kira akan menyembul senyum simpul.

Meski hari ini hujan badai dan gelombang menghajar NTT, tetapi toh ada tuah yang ada di balik semua petuah kisah ini. NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Adalah Calvin Coolidge (1929), lawyer dan politisi Amerika, pernah berkata, tak ada orang yang menerima kehormatan untuk sesuatu yang pernah ia terima. Kehormatan hanya dianugerahkan kepada orang yang pernah memberi.

Akhirnya, catatan ini ditutup dengan mengutip pepatah ini: Great honours are great burdens – penghargaan yang tinggi adalah beban yang berat.

Sekian.

 

Facebook Comments Box