Sepantasnya Kita Lebih Banyak Bertanya: Apa Sebab?

img 20230106 wa0004
Pater Kons Beo, SVD. Dok. Pribadi.

“Janganlah bersedih jika orang tidak mengenalmu: bersedihlah jika kau tak kenal manusia…” – Konfucius, Filsuf Cina, 551 – 479 SM.

Di kisah lain? Teringat lagi gaya berkisah seseorang yang begitu berbangga dan sekian percaya diri di hadapan sekian banyak orang, “Tadi tu sa su sikat dia tidak ada sisa memang! Mulut takacing. Tidak berkotek memang!”

Oleh P. Kons Beo, SVD

Manusia: hati seluas samudra – sebentangan langit

Teringat lagi ketika masih di ruang kuliah STIKES St Paulus – Ruteng. Saat bicara tentang ciri-ciri kecerdasan spiritual (SQ). Satu dari sekian litania ciri kecerdasan spiritual itu adalah kecenderungan untuk lebih banyak bertanya: “Apa Sebab?” Katanya, bertanya: “Mengapa” itu selalu lebih mulia ketimbang untuk cepat “menyatakan dan menegaskan” tentang sesuatu atau apalagi tentang seseorang!

Manusia, ya katakanlah sesama dan bahkan diri sendiri, adalah kisah dan pribadi yang ‘terbuka dan luas’ dalam pemaknaannya. Di sudut hati paling dalam saja, tak pernah ada satu kepastian yang jadi pegangan. Dalam cakap harian sering terucap kalimat berirama: “Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu…?”

Setiap orang adalah pribadi yang variatif dan kaya. Terhadap seseorang kita tak dapat menyelami seutuhnya apalagi sesempurnanya. Kesalingan antar manusia hanyalah sebatas pengetahuan yang ‘tak lengkap’. Hanya dipenuhi dengan banyak ‘sangka dan berbagai dugaan yang tercecer’.

Penjara tafsiran

Selebihnya? Itu hanyalah tafsiran sana-sini. Itu sekadar menangkap sederhana apa yang dimaksudkan oleh Friedrich Nietzsche. Bahwa pemahaman tidak lebih lebih dari sebatas interpretasi. Terdapat pula opini yang paparkan seperti apa ‘sosok seseorang itu’.

Manusia adalah rekam jejak yang dipegang sesamanya. Yang selanjutnya bisa dipagar mati dalam keyakinan pribadi. Berimbas pada sikap batin bahkan pada sikap lahir sebagai reaksi terhadap sosok seseorang itu.

Akan tetapi, tidakkah terdapat ‘kekeliruan, kesalahan atau bahkan ketersesatan’ mengenai seseorang yang telah dipagar mati dalam keyakinan itu?  “Ternyata” atau “Padahalnya” sering jadi ungkapan spontan dari ‘kenyataan kekeliruan itu’.

Padahalnya…

Yang semula diyakini ‘baik, benar santun dan meyakinkan’ pada titiknya bisa berujung pada “ternyata” atau “padahalnya” berseberangan atau meleset jauh dari nilai yang diyakini itu. Yang tak sesuai dengan kenyataannya.

Pada titik sebaliknya, yang ‘dipastikan’ bejat, huru hara, sesat, dengan segala litania minus-negatifnya, sering bisa menjadi ‘jawaban pas yang tak terduga’. Bagaimanapun, semudah itu kah di antara manusia sendiri bisa segampang untuk bergeser dari kepastian tentang sesamanya?

Baik, benar, jujur, solider, tanggung jawab, saleh serta sekian banyak bobot nilai positif sungguh adalah positif pemaknaannya dalam nilai itu sendiri. Namun, saat dihubungkan pada sosok seseorang, nilai-nilai itu bisa menjadi ‘kabur-kabur, samar dan terlindung’.

Klik dan baca juga:  Rembulan Menangis: Di Antara Titik-titik Air Mata Mama Rosti dan Ibu Putri Candrawathi

Tergantung siapa dan dari mana?

Ambil contoh sederhana saja. Untuk ‘yang di sana’ si A bisa berkelimpahan dalam segala diktum positif tentangnya. Tetapi yang positif seperti itu ‘tidak untuk yang di sini’’. Sebab, untuk di sini, si A itu sudah tertatap tumpah ruah dalam sisi polutif, degradatif serta peyoratif.

Hasil fit and proper test bisa ‘pastikan’ sederetan kelayakan atas dasar barisan nilai-nilai positif itu. Namun, ‘baik, benar, saleh atau layak’ sering jadi ‘buah manis’ dari upaya pengagungan dengan cara apa pun demi seseorang tertentu.

Terhadap seseorang tertentu terdapat lukisan-lukisan semanis madu yang lancar dibentangkan. Sementara tentang seseorang yang lain, gambaran sepahit empedu bisa ditiup deras mengalir ke sana-kemari. Hal ini, dalam tataran pragmatis-eksperiensal, bisa dipahami (namun tidak boleh dibenarkan). Mengapakah demikian?

Ada banyak faktor yang berpengaruh di balik semuanya. Manusia itu bukanlah ‘persona dan peristiwa yang mutlak tertutup bagi apa dan siapa pun’. Artinya, manusia itu selalu kaya dalam aneka latarnya. Namun, kelompok manusia sering, misalnya, terjebak dalam apa yang disebut rawa-rawa kesesatan menilai seseorang.

Perangkap etnosentrisme (bangsa, suku sebagai pusat)

Kita bisa saja tetap semangat berdendang, “Jangan kau salah menilai ku”, tetapi alam dunia sering tetap saja guruh gemuruh dalam salah menilai. “Mo bilang apa sudah?” Lalu, bagaimana hal ini bisa dipahami ‘ala kadarnya?’ Tentu, ada banyak hal yang berpengaruh. Kita sebut saja satu di antaranya, adalah faktor etnosentrisme.

Etnosentrisme berkenaan selalu dengan sudut pandang. Terarah pada “kelompok kultural lain, kebangsaan dan etnis lain, dari sudut pandang etnis, kebangsaan atau kultur pengamat” (Shiraev & Levy, 2016). Sayangnya, etnosentrisme selalu memperkecil cara dan isi pikiran kita mengenai orang dari budaya lain, bangsa lain atau kelompok sosial yang ‘bukan kita’.

Tak ditampik kenyataan bahwa setiap kita, lahir dan berkembang hidup dalam tataran budaya yang khas. Pun dalam cara berelasi atas dasar segala macam kekayaan situasinya. Saat kita merasa unik dan bahkan istimewa dalam latar belakang ‘punya kita’, seperti itulah yang juga dialami oleh sesama atau orang lain.

Klik dan baca juga:  Benang Kusut yang Belum Terurai

Syndrom superioritas ethnos?

Sebab itu, setiap kita dituntut untuk membongkar panggung selalu merasa superior pada ‘budaya dan kelompok sendiri’ sembari tanpa beban memperkecil budaya dan kelompok yang lain.

Tentu, hal bukanlah soal gampangan. Mencintai budaya sendiri terkadang disalah-kaprah sebagai pemujaan mutlak pada budaya dan etnis sendiri sambil mengkerdilkan yang lain ‘punya’.

Dalam keseharian, iya dalam tatanan hidup praktis, terdapat kecenderungan berat untuk jadikan diri atau kelompok sendiri sebagai norma. Katakanlah sebagai standar (wajib) bagi yang lain. Dan hal ini semakin menebal dan menjadi-jadi dalam ‘mitos diri atau kelompok’ yang ‘serba wah, unggulan dan luar biasa’.

Dalam kerangka seperti ini sungguh mudah bagi seseorang atau kelompok orang untuk mengangkat diri sendiri sebagai penentu, pengendali, penguasa bahkan hingga sebagai jaksa dan penghakim terhadap yang lain. Terhadap yang bukan  se-golongan, se-kaum atau pun se-kelompok.

Pressure group: kelompok tanpa solusi

Tidakkah sering terhimpun apa disebut pressure group (kelompok penekan)? Inilah grup yang sering bikin onar, suka ribut, rajin protes, muka asam dan muka bengkak. Hanya karena cita-cita, hasrat dan gejolak ambisi tak kesampaian.

Inilah kelompok yang rajin dan gemar mengeluh ini-itu namun buta total dalam solusinya (jalan keluar). ‘Barisan Sakit Hati’ bisa termasuk dalam kelompok ini. Pressure group mudah terhubung dengan perasaan senasib yang sungguh malang. Yang dipertebal lagi dengan aroma solidaritas negatif!

Dalam dunia yang semakin berkembang, sesungguhnya, perjumpaan dan inter-aksi antar manusia telah jadi kelumrahan. Mobilitas (pergerakan) manusia semakin sulit terbedung. Hal seperti ini adalah situasi dan suasana teramat penting darinya manusia belajar terbuka dalam wawasan. Dalam apa yang disebut ‘isi dan cara berpikir meluas’ yang berpengaruh pada cara bersikap dan bertindak.

Di keseharian hidup yang nyata?

Tetapi, mari kembali pada dinamika harian kehidupan yang nyata. Terdapat hal sederhana yang bisa memperluas jangkauan kita dalam pengenalan akan sesama! Semuanya demi mendekati dan memahami sesama itu dengan segala latar dan pergumulan yang dialaminya.

Kata si bijak, “Anda sungguh miliki kecerdasan spiritual, ketika Anda lebih cenderung untuk dekati dan sebisanya lembut dan tulus bertanya: apa sebab atau mengapa?’ Di situ, selalu ada kemungkinkan untuk dapatkan jawaban personal dan sepenuh hati.

Klik dan baca juga:  Jalan Pulang Memang Harus Kita Lalui

Sesama yang ditanya tentu akan merasa ditempatkan pada posisi subjek. Katakan sebagai subjek naratif yang berkisah tentang liku-liku kesuraman hidup, atau apa pun pergumulan yang dialami. Di situlah terjadi perjumpaan saling mendengarkan dan membebaskan. Satu relasi subjek – subjek, Ich – Du (Aku – Engkau) yang setara dan sejajar bila diringkas seadanya dari pikiran Martin Buber, si filsuf Jerman kelahiran Austria.

Mari hilangkan kegemaran menyatakan tentang orang lain

Tetapi, lihatlah kisah baku ribut antar tetangga, misalnya. Pengetahuan kita akan tetangga hanya sebatas curiga, namun kita sendirilah yang sudah pastikan tentang tetangga! Beban rumusan bahasa percakapan harian, kata seorang pengkhotbah penuh simpatik, sering dirakit, “Sudah dengarkah? Saya curiga: pasti!”

Kita kehilangan aura berbahasa yang santun, yang tulus, yang mencerahkan, yang mengajak, yang mengingatkan, yang membesarkan hati dan terlebih kita kehilangan kata-kata yang kembali memberikan harapan!

Di kisah lain? Teringat lagi gaya berkisah seseorang yang begitu berbangga dan sekian percaya diri di hadapan sekian banyak orang, “Tadi tu sa su sikat dia tidak ada sisa memang! Mulut takacing. Tidak berkotek memang!”

Wah, masih saja terdapat orang yang selalu bikin diri seram, tajam di lidah, dan hebat namun merasa diri  ‘pemenang’. Sebabnya? Itu tadi, “Rasa bangga sudah berhasil bikin sesamanya tak berkutik….”

Akhirnya

Maka, sekali lagi, sepantasnya kita buka wawasan kita tentang sesama dengan segala latar kisahnya. Sebab di situ, selalu ada jawaban luas yang kita dapati. Di situ pun, kita tidak terjebak lagi dalam ‘tahu sambil lalu tentang orang lain’.

Tetapi bahwa kita sungguh mengenal dan memahami seseorang di dalam segala keunikan, keistimewaan, dan dalam segala suka dan duka yang dialaminya! Hanya dengan itu, kita sanggup untuk ‘mendekapnya sebagai saudara-saudari dengan sepenuh hati’.

 

Verbo Dei Amorem Spiranti

Facebook Comments Box