Menyoal Model Pembelajaran di Sekolah

Eka Nur Hanifah.

Tiap ahli memberi arti yang berbeda tentang model pengajaran. Perbedaan arti tersebut disebabkan oleh pemberian tekanan utama pada guru, siswa, bahan pengajaran, atau hubungan antar unsur tersebut.

Oleh Eka Nur Hanifah, Mahasiswa PPG Prajabatan BK-FKIP di UKSW Salatiga

Banyak ahli yang menyusun model pengajaran. Model-model pengajaran disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Ada ahli yang menyusun model mengajar berdasarkan prinsip pendidikan, teori psikologi, sosiologi, psikiatri, analisis sistem, atau sudut pandang yang lain (Joyce dan Weil 1980). Joyce dan Weil mempelajari model-model pengajaran para ahli tersebut dan menghimpunnya menjadi empat kelompok model pengajaran. Model pengajaran Joyce dan Weil merupakan pola umum perilaku mengajar dan perilaku belajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Tiap ahli memberi arti yang berbeda tentang model pengajaran. Perbedaan arti tersebut disebabkan oleh pemberian tekanan utama pada guru, siswa, bahan pengajaran, atau hubungan antar unsur tersebut. Model pengajaran yang diuraikan adalah model pengajaran Joyce dan Weil. Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan berikut:

(i) model Joyce dan Weil meletakkan tekanan yang seimbang pada guru dan siswa; dalam kegiatan mengajar dan belajar maka kedua pelaku harus sama-sama aktif, artinya guru mengajar dan siswa belajar tentang bahan pengajaran, (ii) model Joyce dan Weil dapat didemontrasikan dan dapat dipelajari dalam waktu singkat, dan (iii) model Joyce dan Weil dapat dijadikan bekal calon guru untuk membangun model pengajaran sendiri dan kemudian dapat mempelajari pengetahuan tentang model tersebut tentang model berpikir induktif secara teoritis. Kemudian ia dapat berlatih mengajar dengan model tersebut. Setelah ia menjadi guru, ia mengembangkan model berpikir induktif berdasarkan pengalaman sendiri.

Joyce dan Weil berpendapat bahwa model pengajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (suatu rencana pelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pengajaran, dan membimbing pengajaran di kelas atau yang lain (Joyce dan Weil, 1980:1).

Model pengajaran Joyce dan Weil dihimpun dari model-model pengajaran susunan para ahli. Model pengajaran tersebut disusun berdasarkan prinsip atau teori, seperti prinsip pendidikan atau teori belajar. Model pengajaran disusun untuk mencapai tujuan pengajaran. Model pengajaran Joyce dan Weil memberi tekanan yang seimbang pada guru dan siswa dalam perilaku pengajaran dan belajar. Oleh karena itu model pengajaran Joyce dan Weil juga disebut sebagai model belajar-mengajar.

Klik dan baca juga:  UKSW Menjadi Entrepreneurship Research University

Model belajar-mengajar disusun mencapai tujuan pengajaran tertentu. Model belajar-mengajar susunan para ahli ada bermacam-macam. Meskipun demikian model belajar-mengajar tersebut memiliki ciri-ciri yang menonjol sebagai berikut:

  1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh model latihan inkuiri disusun oleh Richard Suchman. Model tersebut berguna untu mengembangkan penalaran menurut cara-cara penelitian ilmiah. Model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
  2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu. Misalnya model berpikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berpikir induktif.
  3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Misalnya model synectics disusun oleh William Gordon. Model synectics dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pengajaran mengarang.
  4. Memiliki perangkat bagian model yang dinamakan (i) urutan langkah pengajaran (Joyce dan Weil menyebut urutan itu dengan istilah syntax); (ii) prinsip reaksi; (iii) sistem sosial; dan (iv) sistem pendukung. Keempat bagian model ini merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan sesuatu model pengajaran:
  • Urutan langkah pengajaran adalah fase-fase atau tahap-tahap yang harus dilakukan oleh guru bila ia menggunakan model pengajaran tertentu. Misalnya model yang menggunakan pendekatan deduktif akan menggunakan urutan yang berbeda dengan model yang menggunakan pendekatan induktif.
  • Prinsip reaksi adalah pola perilaku guru dalam memberikan reaksi terhadap perilaku siswa dalam belajar. Prinsip reaksi ini melukiskan cara guru memandang dan mereaksi perilaku siswa. Sebagai ilustrasi adakalanya guru memberi contoh perilaku sebab guru menilai perilaku siswa masih keliru.
  • Sistem sosial adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat mempelajari bahan pengajaran. Ada tiga macam sistem sosial yang diberi nama struktur tinggi, struktur menengah, dan struktur rendah. Pola hubungan tinggi bila guru menjadi pemegang kendali situasi belajar. Misalnya, guru memonopoli kegiatan belajar di kelas dengan menggunakan metode ceramah sepanjang jam pelajaran. Pola hubungan menengah bila guru berperan sederajat dengan siswa. Misalnya, guru mendorong siswa untuk memecahkan masalah sendiri. Dalam hal ini ada hal yang dipecahkan oleh guru, dan ada hal yang dipecahkan oleh siswa sendiri. Pola hubungan rendah bila guru memberi kebebasan pada siswa untuk belajar, misalnya, guru memberi kebebasan kepada siswa untuk mengatur urutan langkah-langkah pemecahan masalah. Pemberian kebebasan tersebut bermaksud mendidik kemandirian siswa dalam memecahkan masalah. Sistem sosial dengan pola hubungan tinggi sejalan dengan semboyan pendidikan “ing ngarsa sung tuladha”. Sistem sosial dengan pola hubungan menengah sejalan dengan “ing madya mangun karsa”. Sedangkan sistem sosial dengan pola hubungan rendah sejalan dengan “tut wuri handayani”.
  • Sistem pendukung adalah penunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Sebagai contoh, guru menyediakan atlas, peta sejarah Perang Dunia II, dokumen, uang Jepang dan ORI (Uang Republik Indonesia tahun awal kemerdekaan), surat kabar dan majalah tahun 45-an, buku sejarah, dan narasumber untuk melukiskan kisah proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia pada tahun 1945.
Klik dan baca juga:  Profesi Konselor: Stres atau Tidak?

Keempat bagian model ini dikemukakan dalam setiap model pengajaran Joyce dan Weil. Keempat bagian ini merupakan pedoman praktis bagi siapa yang berlatih terampil mengajar dengan model tertentu.

  1. Memiliki dampak sebagian terapan model pengajaran. Dampak model pengajaran ada dua macam, yaitu (1) dampak pengajaran (instructional effects), dan (ii) dampak pengiring (nurturant effects). Dampak pengajaran adalah hasil belajar yang dapat diukur secara langsung. Misalnya, siswa kelas satu belajar menjumlah dengan bilangan “1 sampai 9”. Contoh penjumlahan “5+4=..”, “6+3=..”, “7+2=..”, dan sebagainya.

Hasil belajar penjumlahan tersebut dapat dievaluasi secara langsung. Dampak pengiring adalah hasil belajar jangka panjang, bersifat tidak langsung, dan muncul sebagai akibat adanya tantangan di sekitar. Contohnya, siswa menjadi gemar belajar matematika sebab siswa selalu memperoleh angka tinggi di rapor. Siswa memperoleh pengalaman harga diri terhormat, oleh karena itu ia pada saat belajar di SMA berkeinginan memasuki fakultas teknik.

Klik dan baca juga:  Ekonomi Kerakyatan Sebagai Aktivitas Budaya

Tiap model pengajaran mengemukakan tujuan pendidikan atau misi pendidikan, dasar teori belajar, urutan langkah pengajaran, prinsip reaksi, pola hubungan guru siswa, penunjang keberhasilan, dan dampak model. Hal yang ditampilkan teori model pengajaran tersebut merupakan bahan pertimbangan guru untuk merancang kegiatan belajar-mengajar.

Setelah mempelajari ciri-ciri tiap model pengajaran Joyce dan Weil timbullah pertanyaan praktis sebagai berikut: “Bagaimana memilih dan merancang kegiatan belajar-mengajar dengan menggunakan model pengajaran Joyce dan Weil? Hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru adalah sebagai berikut.

  1. Mempelajari bahasan yang tertera dalam pokok bahasan atau subpokok bahasan dalam kurikulum.
  2. Mempelajari bahan pengajaran yang dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan keterampilan yang terkait dengan bahasan tersebut di atas.
  3. Mempelajari secara seksama tujuan yang akan dicapai dengan bahan pengajaran tersebut di atas.
  4. Mempelajari secara seksama ciri-ciri model pengajaran Joyce dan Weil yang akan digunakan. Hal yang dipelajari adalah (i) tujuan pendidikan yang akan dicapai dengan model, (ii) urutan langkah pengajaran, pola reaksi guru, pola hubungan guru siswa, dan penunjang keberhasilan (iii) dampak pengajaran dan dampak pengiring model.
  5. Membandingkan hal-hal berikut: (i) apakah tujuan pendidikan dalam kurikulum sesuai dengan tujuan pendidikan pada model pengajaran, (ii) apakah guru dapat melakukan urutan langkah mengajar seperti dalam model; apakah guru bersedia mengubah kebiasaan pengajarannya menjadi hubungan pola reaksi model; apakah guru dapat mengubah hubungan dengan siswa menjadi pola hubungan model; dapatkah guru menyediakan penunjang keberhasilan mengajar, (iii) apakah dampak pengiring model sesuai dengan tujuan pendidikan dalam kurikulum? Bila kesesuaian model pengajaran tinggi, maka model pengajar tersebut dapat dipilih. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pengajaran yang dipilihnya.

 

Eka Nur Hanifah tinggal di Bawen, Kabupaten Semarang

Facebook Comments Box