NTT  

IKAL NTT Terus Menancapkan Spirit Kebangsaan NKRI untuk Para Milenial

Pengurus IKAL Lemhannas melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur NTT, Dr. Josef A. Nae Soi, di ruang kerja Kantor Gubernur di Jl. El Tari Kupang, Selasa, 18 Juli 2023. Foto/Biroapmntt.

Kupang, detakpasifik.com – Dewan Pengurus Daerah Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2021-2026 dipastikan akan terus menerus menancapkan spirit kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia kepada seluruh lapisan masyarakat. Utamanya kepada masyarakat milenial.

Hal itu niscaya diperlukan karena ditengarai banyak kalangan milenial yang belum memahami makna pentingnya kebangsaan Indonesia dan perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terutama berbagai gatra inti yang terkait dengan relasi sosial politik dan ekonomi di tanah air.

Ketua Pengurus Daerah IKAL Lemhannas Provinsi NTT, Dr. RD. Rofinus Neto Wuli, S.Fil., M.Si (Han) mengemukakan hal tersebut tatkala para pengurus IKAL Lemhannas melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur NTT, Dr. Josef A. Nae Soi, di ruang kerja Kantor Gubernur di Jl. El Tari Kupang, Selasa, 18 Juli 2023. Wakil Gubernur NTT, didampingi Kepala Badan Kesbangpolinmas NTT, Drs. Yohanes Oktavianus.

Mendampingi Ketua IKAL Lemhannas NTT, para pengurus antara lain, Wakil Ketua I, Dr. Thomas Ola Langodai, M.Si, Ketua Bidang Advokasi, Pendidikan dan Pengkajian, Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H, Bidang Pengabdian Masyarakat dan Kekeluargaan, Deni Salean, dan Ketua Bidang Informasi, Dokumentasi dan Publikasi, Pius Rengka.

Klik dan baca juga:  Wali Kota Kupang Menurut Status Terdengar

Baca juga:

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi: Saya Membaca Maka Saya Tahu

Buku Falsafah Hidup Viktor Laiskodat: Ide, Gagasan dan Sikap Batin

Romo Rofinus mensinyalir bahwa pada gejalanya, kaum milenial kurang memahami makna pentingnya kebangsaan Indonesia dan perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka umumnya tidak memahami latar sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia hingga mencapai puncak dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mencermati fenomena itu, maka IKAL Lemhannas NTT menyasar sosialisasi dan juga pembelajaran kebangsaan kepada kaum milenial. Kelompok ini sangat rentan terhadap pengaruh globalisasi informasi dan ideologi politik yang masif di tanah air yang sanggup merelativisasi ideologi kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. IKAL Lemhannas NTT bertekad menyuarakan nilai-nilai bela bangsa itu sekaligus melakukan pelatihan dan pendidikan utamanya kepada kaum milenial dalam beberapa waktu ke depan.

Klik dan baca juga:  Gubernur NTT Menyerukan PSSI Dibangun dengan Paradigma Peradaban Baru

Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur NTT, Dr. Josef A. Nai Soi menegaskan bahwa pola sosialisasi atau pendidikan kepada kaum milenial haruslah dengan pola komunikasi yang sensitif dengan kultur mereka.

“Pola edukasi haruslah penuh kreasi yang cair, riang gembira, sehingga nilai-nilai kebangsaan dan makna pentingnya NKRI itu masuk di kepala mereka dan dapat dihayati dengan baik,” ujar Wagub Josef yang juga bertindak sebagai Ketua Dewan Penasihat IKAL Lemhannas NTT.

Wakil Gubernur NTT, Dr. Josef A. Nai Soi mengingatkan, pola komunikasi, pola edukasi dan pembelajaran kebangsaan kepada kaum milenial sangat berbeda secara ekstrem dengan pola komunikasi dan edukasi di periode 1970-an. Pendidikan nilai dan edukasi kebangsaan sesungguhnya bukanlah sebuah cabang dari ilmu pengetahuan sosial dalam maknanya secara ketat, melainkan edukasi dan pola komunikasi yang disampaikan itu sebagai sebuah seni tentang bagaimana mempertahankan negara.

Klik dan baca juga:  Tiga Tarian Tradisional Manggarai Sambut Tamu KTT ASEAN di Labuan Bajo

Politisi kaliber nasional ini, mengingatkan agar IKAL Lemhannas NTT, mestinya mulai menjelaskan atau berceritera tentang perjuangan sumpah pemuda 1928, tetapi tetap dengan mekanisme yang jenaka, fun dan menyenangkan.

Anak-nak muda sekarang tampaknya tidak mau berpikir rumit tentang sejarah. Karena itu pola komunikasinya haruslah yang menyenangkan agar apa yang dimaksudkan dapat dicerna anak-anak. Dengan kata lain, metode komunikasi pelatihan dan pendidikan harus lebih kontekstual dengan situasi dan kultur kaum milenial.

 

(dp/pr)

Facebook Comments Box