Ekbis  

Dampak Covid-19: Okupansi Hotel di Kota Kupang Anjlok

Kupang, detakpasifik.com – Laju penyebaran Virus Corona (Covid-19) di Kota Kupang tidak bisa dianggap enteng, membuat pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan sosial. Hal ini rupanya berdampak cukup besar terhadap bisnis perhotelan.

Kampianus Wandu, SM Executive Ima Hotel mengatakan dampak merebaknya virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China itu sangat besar bagi bisnis perhotelan di Kota Kupang, hingga membuat okupansi hotel anjlok hingga 5%.

”Okupansi saat ini sangat anjlok. Kami hanya bisa mencapai 5% dari total target 100% bahkan sempat tidak ada tamu sama sekali,” kata Kampianus kepada tim detakpasifik.com, Selasa (16/3/2021).

Baca juga: Jaksa Siap Ajukan Perlawanan Terkait Vonis Bebas Ali Antonius dkk

Pandemi Covid-19 telah membawa dampak yang paling berat yang pernah ada. Pemilik hotel hingga karyawan terpaksa dibentur dengan realita tersebut. Kebijakan berupa pemotongan gaji, pemotongan jam kerja, hingga karyawan harus dirumahkan terpaksa diambil dan diterima.

Food and Beverage Manager Sahid T-More Hotel, Yulidar juga berpendapat yang sama. Hotel hanya beroperasi pada jasa penyewaan kamar.

Klik dan baca juga:  Sekali Lagi Menimbang Penimbang Masa Depan

“Saat ini kami hanya beroperasi pada jasa penyewaan kamar. Jasa restoran dan ballroom sama sekali kosong karena kegiatan meeting dibatasi atau bahkan ditiadakan,” kata Yulidar saat ditemui di Sahid T-More Hotel.

Manager Sahid T-More Hotel, Yulidar (kiri) bersama Redaktur Ekbis detakpasifik.com, Yulin (kanan).

Tren pendapatan dari jasa penyewaan kamar juga tidak menunjukkan kabar baik di sebagian besar hotel di Kota Kupang .

Hotel di Kota Kupang hanya mampu menunjukkan perolehan paling tinggi di level 30% pada masa pandemi ini.

“Untuk mencapai 50% dari total target 100% sangat susah bagi kami. 30% adalah perolehan paling tinggi yang kami peroleh sampai saat ini,” sambungnya.

Hotel berbintang 4 yang terdapat di Kota Kupang juga mengalami hal yang sama dan harus mengambil kebijakan serupa. Hal ini disampaikan oleh Muh Aidil Adha, Front Office Manager Sotis Hotel Kupang saat ditemui detakpasifik.com, Selasa (16/03).

“Untuk saat ini, kami melakukan saving energy, pembatasan hari kerja karyawan, pemberhentian pengoperasionalan fasilitas seperti spa, dan untuk restoran sebagian counternya ditutup. Sedangkan gym akan dibuka jika ada permintaan,” ujarnya.

Klik dan baca juga:  Kasus Covid-19 di Nusa Tenggara Timur Bertambah 96 Orang

Sementara itu, menurut Sekretaris GM Hotel On The Rock Kupang, Kiky Berek saat dihubungi via WhatsApp menyebutkan ada banyak perubahan aturan jadwal jam kerja karyawan.

“Selama masa pandemi ini, dilakukan pengaturan ulang jadwal jam kerja karyawan dan menerapkan Cleanliness, Healthy, Safety dan Environmental Sustainability (CHSE). Yang dirasa kurang produktif dialihkan ke departemen yang lebih membutuhkan,” katanya.

Kiky mengatakan, strategi promosi giat dilakukan manajemen hotel di situasi pandemi ini.

“Melalui akun media sosial hotel, kami melakukan promosi dengan menginformasikan bahwa kami mempersiapkan welcome drink herbal kepada setiap tamu sebagai penangkal virus, melakukan disinfektan di semua area publik di hotel dan masih banyak lagi yang pada intinya kami mau menunjukkan bahwa kami melakukan pencegahan dan mengikuti protokol kesehatan,” ujar Kiky.

Klik dan baca juga: NTT Jadi Pusat Kekuatan Pasifik

Promosi di travel agent juga terus dilakukan manajemen hotel mulai dari menyediakan paket bulanan hingga menurunkan harga tarif per kamar. Namun, demikian promo-promo tersebut sepertinya sia-sia karena semua aktivitas dibatasi dan semua orang masih dihantui Covid-19.

Klik dan baca juga:  Pria di Ruteng Ditemukan Meninggal Dalam Kamar Kos, Jenazah Ditangani Sesuai Protokol Covid

Komitmen dari karyawan hotel untuk tetap bekerja meski gaji tidak sampai 100% dan pemotongan jam kerja adalah sebuah keberuntungan hingga hotel masih bisa beroperasi sampai saat ini.

Pelaku bisnis hotel di Kota Kupang ini berharap dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, pemerintah mempertimbangkan untuk diizinkan kegiatan meeting dan perjalanan dinas ke dalam maupun ke luar kota seharusnya bisa dilonggarkan, terlebih program vaksinasi telah berjalan di NTT.

 

(laporan redaktur ekbis detakpasifik.com, yulin kurnia)

Facebook Comments Box