Bank NTT Sebagai Agen Perubahan Sosial Pedesaan di NTT

whatsapp image 2022 09 19 at 12.28.06
Pius Rengka dan Lavny Manesi, tim juri Bank NTT untuk kepentingan Festival Desa Binaan Bank NTT disambut kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Hekang Dite di Desa Kajong, Kecamatan Reo Barat, Kabupaten Manggarai.

Kredit Merdeka bebas agunan, bebas bunga dan terutama bebas dari cakar tajam para lintah darat seperti kaum rentenir pembelenggu para petani dan kelompok usaha kecil menengah di desa.

Catatan Pius Rengka

Development is the new name for peace (Paus Paulus, Populorum Progressio).

Tahun 2022, saya menelusuri 25 Desa Binaan Bank NTT. Dua puluh lima Desa Binaan Bank NTT itu masing-masing 5 di Kabupaten Kupang, 5 di Kabupaten Belu, 5 di Kabupaten Ngada, 5 di Kabupaten Manggarai Timur, dan 5 di Kabupaten Manggarai. Saya berkesempatan melakukan penelusuran karena saya salah satu dari tim juri Festival Desa Binaan Bank NTT tahun 2022.

Setelah dicermati dan direfleksikan ziarah penelusuran itu, saya tiba pada satu kesan yang membenarkan tesis umum bahwa pembangunan pedesaan di seluruh dunia menjadi inti pembangunan negara. Atau pembangunan negara seharusnya dimulai dari desa. Jika desa maju, maka kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara pun ikut maju. Betapa tidak.

Tema kemiskinan, telah digarap di hampir semua negara dunia ketiga. Umumnya, tema ini dibicarakan oleh elite negara. Lokasi tempat banyak manusia miskin itu ada di pedesaan. Tetapi, amatlah jarang, misalnya, kemiskinan itu dibahas bersama dengan kaum yang mengalami kemiskinan itu sendiri. Kaum miskin seolah sebuah entitas isolatif dari realitas negara.

Bahkan kaum miskin dikesankan hanya menjadi objek garapan dari proyek-proyek bantuan asing yang lebih banyak menguntungkan para pengelola proyek.

Memang ada beberapa pengecualian konteks, misalnya, kemiskinan di Bombay India, dialami masyarakat perkotaan. Bahkan terminologi kemiskinan tidak hanya dialamatkan kepada warga miskin di kampung negara-negara dunia ketiga, tetapi juga warga miskin sebagian kecil adalah warga kota di negara seperti Belanda.

Perbedaannya ialah, orang miskin di Bombay mengais makanan di tong-tong sampah demi melangsungkan kehidupan domestiknya, sedangkan orang miskin di Belanda memiliki makanan di kulkas.

Baca juga:

Dengan demikian, tema kemiskinan telah dibahas berulangkali di banyak tempat tidak kecuali di NTT. Kemiskinan konkret di NTT terjadi di hampir semua desa. Maka, usai kunjungan saya ke 25 desa di Timor dan Flores, saya berkesimpulan bahwa sudahlah sangat tepat jika Bank NTT mengambil wilayah garapan binaannya mulai dari desa. Mengapa?

Pertama, Bank NTT telah mengembangkan misi ekonomi desa melalui program Desa Binaan. Tidak semua desa dijadikan desa binaan. Tetapi desa yang dipilih adalah desa yang dipandang sebagai enclave sosial yang berdaya memberi pengaruh terhadap desa-desa lain sekitarnya.

Diharapkan pengembangan ekonomi dan mobilisasi kemakmuran di desa sentuhan Bank NTT menularkan pengaruh positif terhadap desa-desa sekitar.

Klik dan baca juga:  Hasil Ikan Tangkapan di Dintor Melimpah Tetapi Pasar Sangat Lemah

Kedua, spirit mendasar intervensi Bank NTT diwujudnyatakan melalui program Kredit Merdeka dan Kredit Mikro. Dua jenis kredit ini sangat membantu kelompok usaha kecil menengah. Hal itu tampak melalui geliat ekonomi yang dialami banyak kelompok usaha kecil menengah di semua desa yang dikunjungi.

Sebagai misal, Kelompok Pati Jari di Desa Golo Muntas, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Kelompok Pati Jari terdiri dari 10 anggota yang diketuai Maria Irene Ati Maun (57 th). Kelompok ini berhasil mengembangkan usaha Virgin Coconut Oil (VCO) setelah mendapat intervensi Bank NTT melalui Kredit Merdeka.

Maria Irene Ati Maun mengaku, spirit demokrasi yang mengajarkan kemakmuran itu justru mewujud jika opini datang dari rakyat sendiri, dikerjakan oleh rakyat dan untuk kepentingan rakyat. Ajaran demokrasi itu sangatlah menyata tatkala intervansi Bank NTT di desanya, sejak tahun 2021.

Dia mengaku, kelompoknya memanen rerata Rp55 juta sekali musim produksi. Akibatnya mobilitas ekonomi di Desa Golo Muntas berubah. Berubah tidak hanya karena dikerjakan oleh para pria, tetapi justru dilakukan kaum perempuan. Keterangan Maria Irene Ati dibenarkan Kepala Desa, Ferdinan Dadur (45 th).

Dadur mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada Bank NTT. Program Kredit Merdeka di desanya, berhasil memobilisasi ekonomi dan kemakmuran. Pengalaman berhubungan dengan Bank NTT ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Hal serupa diakui kelompok UMKM Desa Wae Nanga, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai. Kelompok UMKM Mbohang Ara, di bawah kepemimpinan Elfrida Mustica Buana Lalo dan Klaviana Kurnia Miming mengakui peran strategis Bank NTT dalam pengembangan usaha mereka.

Baca juga:

Elfrida berkata, sejak Kredit Merdeka Bank NTT hadir awal tahun 2022, pihaknya melihat, merasakan dan mengalami perubahan, terutama perubahan di dalam konteks mekanisme sistem kerja dan menghargai setiap jenis usaha yang berasal dari potensi lokal yang tersedia di desanya.

Di Desa Wae Nanga, ada kopi robusta, arabika dan halia. Tiga potensi lokal ini dikembangkan maksimal. Dipasarkan dalam bentuk kemasan modern berkat kerja sama dengan Bank NTT.

Kredit Merdeka artinya petani atau peternak mengambil kredit di Bank NTT rerata Rp1-5 juta/orang/anggota kelompok. Kredit Merdeka bebas agunan, bebas bunga dan terutama bebas dari cakar tajam para lintah darat seperti kaum rentenir pembelenggu para petani dan kelompok usaha kecil menengah di desa.

Program Kredit Merdeka ini berhasil. Berhasil karena secara moral dan ideologis Bank NTT membebaskan kaum derita miskin di desa. Sebelumnya, petani, peternak dan kelompok usaha kecil menengah tidak berani kredit di bank. Mereka khawatir rumitnya urusan kredit, apalagi bunga dan agunan dipandang teramat berat.

Klik dan baca juga:  Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi: Saya Membaca Maka Saya Tahu

Tema garapan

Sejarah pembangunan di tanah air (juga di NTT) telah berlangsung lama. Aneka intervesi program dan kegiatan telah jamak terjadi. Seminar diskusi beruntun. Tetapi pembangunan tampaknya tidak sanggup mengatasi realitas kemiskinan di desa.

Penduduk desa tidak banyak berubah. Tetapi, diskursus pembangunan yang menghadirkan para pakar telah digelar di panggung tarung ide para ahli ilmu sosial. Hampir semua jenis ilmu pengetahuan sosial diminta pertanggungjawabannya mengatasi kemiskinan. Termasuk filsafat dan teologi pun diminta untuk terlibat aktif.

Baca juga:

Pembangunan pedesaan telah menjadi isu rawan di kawasan yang patut digarap tuntas. Meski demikian, kemiskinan pedesaan toh tetap eksis. Dana yang digelontorkan untuk mengatasi kemiskinan tidak menyentuh substansi. Bayangan wabah korupsi menyebar hingga desa. Karena itu, diperlukan narasi baru. Juga aksi baru mengatasi kemiskinan desa.

Tercatat bahwa Konsensus Washington tentang Pangan, Pertanian, dan Pembangunan Pedesaan (Ashley, C. and Maxwell, S., 2001) adalah salah satu pertemuan akbar yang digelar untuk mengatasi kemiskinan itu.

Disebutkan, daerah pedesaan sedang berubah, terutama yang berkaitan dengan demografi, diversifikasi, dan penguatan hubungan ekonomi nasional dan global. Isu-isu kunci meliputi: pertanian sebagai mesin pembangunan pedesaan; kelangsungan masa depan pertanian kecil; potensi ekonomi pedesaan non pertanian; tantangan pemikiran baru tentang kemiskinan, partisipasi dan tata kelola; dan masalah implementasi.

Wajah kemiskinan global yang dilukiskan begitu seram dalam pertemuan itu sepertinya menampak riil di wajah lokal di sini dan kini. Sejarah bantuan ke desa, memang bukan baru berlangsung sekarang. Sejarah bantuan desa pun telah menjadi isu global.

Bantuan program pembangunan Dunia Ketiga, misalnya, telah menjadi bagian dari pembelajaran holistik sebagai desain proses yang  melawan cetak biru yang diamanatkan secara birokratis. Bank Dunia memperkirakan, hampir 800 juta orang, atau kira-kira 40 persen penduduk negara berkembang, masih hidup dalam kemiskinan absolut.

Studi menunjukkan, dalam banyak hal orang miskin tidak diuntungkan—mereka mungkin menderita kerugian mutlak— selama masa-masa awal tahapan pembangunan nasional (Korten, D.C., 1980).  Memang benar, ada kisah sukses bantuan lembaga-lembaga internasional. Misalnya, kisah sukses yang dialami desa Arsi di Ethiopia ketika Swedish International Development Authority (SIDA) memberi bantuan yang mengintegrasikan program mereka dalam projek pembangunan di Ethiopia (Dejene, A., 2019).

Pengalaman di pedesaan Bangladesh pun dihadapkan pada masalah kemiskinan, pengangguran, buta huruf, malnutrisi, dan tingkat kesuburan, kematian, dan pertumbuhan populasi yang tinggi. Tetapi, dari pengalaman Bangladesh kita menemukan keberhasilan dan kegagalan dalam upaya mencapai partisipasi rakyat di tingkat akar rumput dari beberapa program pembangunan pedesaan.

Klik dan baca juga:  Gempuran Program TJPS di Sumba Barat Daya Kian Meluas

Program pembangunan pedesaan telah dilakukan bertahun-tahun di daerah miskin di Bangladesh. Tetapi, menjelang akhir pemerintahan Inggris di subbenua India, beberapa individu, khususnya pegawai negeri yang tergabung dalam Layanan Sipil India, tertarik mempromosikan gagasan pembangunan pedesaan dengan pengembangan industri pertanian desa. Setelah pembentukan Pakistan pada tahun 1947, butuh tujuh tahun sebelum program pembangunan pedesaan terorganisir melembaga, yang dikenal Pengembangan Industri Pertanian Desa.

Baca juga:

Akademi Pembangunan Pedesaan Comilla pada pertengahan 1960-an memberikan strategi, berdasarkan kegiatan percontohan eksperimental dalam pembangunan pedesaan, yang dilakukan kaum akademia di Comllla Kotwail Thana (Khan, M.M., 2019)

Menengok pengalaman negara miskin di belahan lain dunia ini, saya menyarankan agar pembinaan dan pengawalan Desa Binaan Bank NTT tak hanya selesai saat adanya Festival Desa Binaan Bank NTT. Pembinaan dan pengawalan, juga dilakukan kontinu, sistematis dan masif terutama kepada kelompok UMKM di semua Desa Binaan Bank NTT, apa pun mungkin tantangan dan hambatan yang dialami.

Setiap hambatan dan tantangan, justru membuahkan elan vital yang membebaskan. Karena Bank NTT telah menjadi sahabat kaum terpinggirkan. Bank NTT di bawah kepemimpinan Alex Riwu Kaho mengukuhkan kebenaran pameo agung Amicus optima vitae possession — Sahabat adalah kekayaan yang paling baik dalam kehidupan.

Baca juga: Desa Fatumonas Bersama Bank NTT Kembangkan Aneka Potensi Lokal

Hal itu niscaya faktual karena faktanya memang membuktikan, ekonomi petani dan peternak di Desa Binaan Bank NTT, tampak perlahan merangkak naik. Data perangkum kebenaran pendapatan asli desa, memang belum sempurna didokumentasi karena problem kapasitas administratur desa. Tetapi lukisan tentang aneka jenis bantuan ke desa dicatat tak hanya oleh lembaga negara, juga dicatat lembaga non negara, seperti Bank NTT.

Maka prinsip binaan dan bantuan sosial yaitu to help people to help themselves niscaya ikut mengubah realitas miskin NTT menjadi makmur. Dengan demikian, realitas pembinaan Desa Binaan Bank NTT menjadi selfevidence bahwa Bank NTT telah bertindak dan fungsional sebagai agent of social change bagi masyarakat pedesaan di NTT.

Begitulah.

 

 

Facebook Comments Box