Badan Otorita Dorong Pengembangan Desa Agrowisata di Labuan Bajo

Rombongan BOPLBF pose bersama di depan gedung Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.

Kupang, detakpasifik.com – Badan Otorita tengah mendorong pengembangan desa agrowisata di kawasan Labuan Bajo. Kegiatan awal yang dilakukan adalah melakukan studi banding ke kota-kota di Pulau Jawa tentang pengelolaan desa agrowisata yang baik.

Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) akan menjadikan kopi sebagai salah satu sumber daya dalam pengembangan desa wisata di Labuan Bajo. Ini didukung dengan banyaknya jenis kopi unggulan yang dihasilkan petani di wilayah Manggarai.

“BOPLBF saat ini tengah menyiapkan langkah awal dalam pengembangan desa wisata pada segmentasi agrowisata kopi dengan mendorong peningkatan sumber daya manusia melalui program benchmarking,” kata Direktur Utama BOPLBF, Shana Fatima melalui sambungan telepon kepada detakpasifik Sabtu, (27/3/2021).

Baca juga: Kungker Sepekan di Daratan Timor dan Mimpi Besar Victor Bungtilu Laiskodat

Shana mengatakan benchmarking itu dilakukan di sejumlah kota di Pulau Jawa, salah satunya adalah di Magelang, Jawa Tengah. Lembaga yang diajak Shana adalah Asosiasi Petani Kopi Jahe Manggarai (APEKAM), Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), Dinas Pariwasata Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Klik dan baca juga:  API Awards 2020 di Labuan Bajo Digelar dengan Standar Prokes Internasional

Melalui keterangan tertulis, Shana menceritakan agenda pertama di Kota Magelang, para peserta melakukan kunjungan utamanya ke MesaStila Resort yang berada di dalam kawasan kebun kopi seluas 22 hektar. Kebun kopi MesaStila telah ada sejak tahun 1920. Saat itu kebun kopi MesaStila dikenal sebagai kebun kopi Karangrejo. Pemilik awal kebun kopi Karangrejo bernama Gustav van Der Swaan, seorang Indonesia keturunan Belanda.

Klik dan baca juga:  Paradoks Labuan Bajo dan Takdir Rakyat Manggarai Barat

pa

Di kebun ini terdapat empat macam jenis kopi yaitu, kopi robusta, kopi arabika, kopi liberica/exelsa, dan kopi Jawa. Kebun ini melakukan panen kopi satu kali saja dalam setahun.

Selain Magelang, para peserta juga mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Banyuwangi (Jawa Timur), dan Jember (Jawa Timur).

“Kami melakukan benchmarking ke Magelang, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Jember. Diharapkan kegiatan ini menjadi titik awal pengembangan desa wisata, khususnya agrowisata kopi sehingga nantinya akan tercipta pengembangan produk olahan kopi dan atraksi dari agrowisatanya,” kata Shana.

Baca juga: Dampak Covid-19: Okupansi Hotel di Kota Kupang Anjlok

Salah seorang anggota Apekam, Romo Tarsisius Syukur menyampaikan kunjungan ke Pulau Jawa ini merupakan kegiatan studi banding (benchmarking) dalam meningkatkan kualitas SDM para petani kopi, khususnya dalam bidang pengolahan dan budidaya kopi serta strategi pemasaran hasil olahan kopi.

Klik dan baca juga:  Si Komodo, Maskot API Awards 2020 Curi Perhatian Peserta

“Kami ini merupakan gabungan dari berbagai organisasi petani kopi dan jahe yang ada di Manggarai Raya. Kami diundang oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) untuk melaksanakan studi banding di beberapa tempat di Jawa.” Ujar Romo Tarsisius.* (Ib, Che, LON)

 

Facebook Comments Box