Angels Unawares: Kemanakah Arah Perahu?

life belt 498453 960 720
Ilustrasi Pixabay.

“Saya tidak pernah takut akan hari esok, sebab saya telah melihat hari kemarin dan saya sungguh mencintai hari ini” – William Allen White, editor-politikus, Amerika, 1868-1944.

Oleh P. Kons Beo, SVD

Ada yang mesti ditangkap

Biduk perunggu, Angels Unawares, memang punya tarik tersendiri. Ikon esentrik, karya Timothy Schmalz, seniman Kanada itu, ditempatkan di salah satu titik pinggiran piazza di San Pietro, Roma. Paus Fransiskus resmikan karya monumental itu demi perayaan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke 105, pada 29 September 2019.

Sebenarnya, karya itu terlihat biasa saja. Ia cuma punya ciri warna tunggal. Hitam kecoklatan. Walau demikian, setidaknya, ia telah mengundang minat para peziarah. Sempatkan diri untuk berpotret sejenak. Bagaimanapun, pada keseluruhan karya itu, ada yang mesti dikontemplasikan. Tak boleh terkesan ‘kosong’. Hampa tak berisi begitu saja.

Angels Unawares sepantasnya ditangkap bagai satu panorama itinerario ecclesiale. Berdaya penuh harapan. Ia gambarkan hidup manusia penuh dinamis. Dalam satu lintasan panjang perjalanan. Rupa-rupa wajah yang terukir di situ. Laki-perempuan, tua-muda, remaja dan anak, bercampur. Dalam tatapan tak menentu. Namun, semuanya tetap gelorakan satu nada harapan di dalam dada.

Kisah-kisah yang terluka

Sungguh tak mudah lepaskan segala kisah keasalan dan tanah kelahiran. Sebab, di situlah aura kehidupan tertanam dalam. Dipintal dalam kisah-kisah penuh afektif-emosional. Sayangnya, home sweet home, ‘rumah yang adalah tempat di mana hati berada’ telah terkoyak. Disayat oleh ‘tangan-tangan berdarah’. Penuh nafsu. Keserakahan adalah narasi tak pernah puas di banyak lini. There is no place like home, kini, harus ditatap dengan penuh air mata duka.

Bila ditafsir lebih jauh, tidakkah hal seperti itulah yang dilukiskan pula, misalnya, dalam Root Shock (Guncangan Akar)? Di situ, Mindy Thompson Fullilove, dengan gamblang lukiskan ‘tercabutnya akar-akar terdalam hidup kaum kulit hitam di Amerika.’

Demi tata kota, segalanya digusur. Dibuat jadi rata tanah. Tak hanya rumah fisik yang terseruduk, bahkan lebih dalam dari itu, ikatan emosional penuh kekeluargaan dan kekariban jadi berantakan. Tercerai-berai.

Klik dan baca juga:  Yusuf ke Mesir: Skenario Perdagangan Manusia?

Ketika yang tersisa hanyalah air mata kegetiran

Hidup penuh girang, spontan dan polos sudah tercedok. Diganti oleh hidup penuh trauma. Fullilove lukiskan semuanya penuh ekspresi menyayat, “kepercayaan keropos, kecemasan bertambah, hubungan jadi tak stabil, sumber daya sosial, emosional dan keuangan rusak.”

Root Shock berimbas pula pada keadaan “depresi, serangan jantung, mudah marah, mengomel…” Begitulah ujung dari satu keadaan tanpa pegangan dan jaminan. Saat “dunia mendadak hilang: rumah tempat sungguh nyaman kini menjadi tidak jelas.” Dunia, kini, tak lain adalah alam keterasingan dan kesepian.

Dalam ketidakmenentuan situasi ini, sebenarnya apa yang hendak direnungkan? Apa yang mesti ditawarkan sebagai sandaran kekuatan batin? Gianluca Gotto, misalnya, sepertinya beri satu jalur nan terang dalam ‘Succede sempre qualcosa di meraviglioso’.

Harapan dan kerinduan yang tak pernah pudar

Iya, ‘sesuatu yang luar biasa selalu saja terjadi dalam hidup ini.’ Kira-kira seperti itu isi singkat novelnya yang ‘tak singkat‘ itu. Hidup selalu mengalir! Namun, selalu ada yang sesuatu luar biasa yang mesti ditangkap. Hidup adalah lapisan dari banyak cerita. Dan setiap kita pasti sanggup temukan nyala ilahi yang terpancar dari dalamnya.

Dalam teropong Angels Anawares, hidup ini sungguh sebuah ‘pelayaran’. Arung samudra adalah jalan hidup setiap kita. Ada yang pahit, asing, mencekam, menikam rasa, serta aneka ketaknyamanan yang memaksa kita untuk berhijrah. Kita tercabut dari segala sesuatu yang telah dibangun dan dirawat bersama. Kita tak mungkin lagi ‘untuk selamanya di sini.’ Sebab itu kita terpaksa berkelana. Iya, lebih tepatnya dipaksa untuk pergi.

Angels Anawares adalah muara dari kisah penuh rintih. Namun, itulah jalan yang mesti diambil. Dia ibarat jembatan apung yang hubungkan dua dunia, ya dua kenyataan! ‘Jembatan apung’ itu ingin seberangkan manusia ke satu titik pengharapan. Lewati samudra luas dalam kepasrahan pula.

Klik dan baca juga:  Sekadar Menimbang Sekolah Jam 5 Pagi

Hidup itu berisiko…

Bagaimanapun, lautan mesti dialami bagai jalan penyeberangan penuh risiko. Tak ada pilihan jika memang demi teduhkan hati. Berharap di suatu saat nanti, bakal terlihat dan tiba di tanah harapan baru. Yang akan ditata jadi tempat tumpuhan suasana hidup baru pula.

Tetapi, tidakkah Angels Anawares kisahkan pula alam hati kita yang terkoyak? Saat kebersamaan ini telah jadi retak. Ketika rasa kasih sayang tercabut dari kedalaman batin. Ketika setiap kita sebenarnya hanyalah sebatas satu bagian kosong dari hitungan ‘tumpukan jumlah’.

Rumah asal dan kekitaan ini mesti ditinggalkan untuk sebuah jarak batin yang kian melebar. Dari keakraban, kepolosan, penuh spontan dan ceriah, semuanya nyaris hilang. Telah terampas oleh satu refrein suram dan mencekam. Itulah rasa hati penuh benci. Yang menyelinap masuk dan sungguh merusakkan segalanya.

Ketika semuanya tak seperti dulu lagi

Sepertinya kita tak sanggup untuk ‘tertawa bercanda seperti dulu lagi.’ “Kelakar sudah diusir pergi,” begitulah curhat dari seorang sahabat. Katanya lagi, “Sebab kita kini lebih suka merawat virus-virus yang hanya bikin kita semakin jauh dan terus menjauh.”

Setiap kita sudah punya rasa pahit di sanubari. Merasa semakin melebar dan longgar dalam kekariban ini. Kebersamaan dan rumah telah jadi sebatas nostalgia. Ia bukan lagi jadi pengalaman penuh tawa tempias tak terbendung. Saling merindu telah pupus.

Sebab, itu tadi, rasa benci terlalu menggumpal. Ia tak beri ruang lagi sedikitpun untuk satu alam katarsis. Yang ‘itu hari punya’ dialami sekadar candaan maen gila, kini sudah ditafsir penuh serius dan sungguh memberatkan.

Tetapi, benarkah bahwa kita sungguh tak punya harapan lagi sedikit pun? Untuk kembali berbenah demi masuk ke satu alam baru? Agar bisa mengalami kembali segala hilang yang telah disenyapkan? Ada yang mesti dirumuskan ulang sebagai kekuatan batin. Itulah yang disebut kemampuan untuk pulang.

Mari kembali pada Angels Unawares. Paus Fransiskus sudah ingatkan, “…ini bukan hanya penyebab migran yang dipertaruhkan: ini bukan tentang mereka, tetapi tentang kita semua, dan tentang masa kini dan masa depan keluarga manusia….”

Kita memang harus pulang

Klik dan baca juga:  Keyakinan Keras Kepala dan Konsekuensi Kesalingan dalam Sikap

Noi siamo partenti….” Kita adalah insan pejalan, homo viator, yang bergerak pergi. Namun, pada saat yang sama, kita juga tengah lakukan perjalanan pulang. Sebab itulah, hidup tetap isyaratkan penuh tegas satu pengharapan. Tak seterusnya kita pergi. Selalu ada rindu pulang yang melengkapkannya dengan suasana baru.

Si bijak sungguh menyentil hati kita, “Di mana pun kita berada, bagaimanapun bingung dan berantaknya diri kita, di situlah titik tolak kita melakukan perjalanan pulang.” Sebab kita telah merasa jengah dengan aroma pesing saling mengasingkan ‘yang bukan-bukan.’

Setiap kita memang punya cerita unik di perjalanan hidup ini. Kita hanya terpanggil untuk saling membalut semuanya dalam cinta, belas kasih dan pengampunan.

Akhirnya…

Di titik ini, petiklah makna di dalam Fix You milik Coldplay, di tahun 2005 silam itu. Demi belajar untuk saling meneguhkan…

“Light will guide you home; and ignite your bones; And I will try to fix you….”

Setidaknya, tetap ada terang dan kekuatan yang menuntun untuk satu jalan pulang ke alam rumah.

whatsapp image 2021 08 11 at 15.06.08
P. Kons Beo, SVD.

Dan kini, barulah kita sadar, bahwa Angels Unawares adalah biduk orientasi hidup baru yang sungguh bermakna. Yang membuat kita dapat tersenyum kembali….

Sebab telah ditemukan kembali arah pelayaran perahu kehidupan ini. Tak hanya untuk seberangkan demi tinggalkan semuanya. Namun, terutama, untuk memperjumpakan kembali. Iya, dalam suasana seperti yang dulu lagi.

 

Verbo Dei Amorem Spiranti

Facebook Comments Box