Aku Memeluk Tuhanku

whatsapp image 2021 04 24 at 09.50.06
P. Kons Beo, SVD. Foto/dokpri.

Oleh: P. Kons Beo, SVD – Satu Permenungan

Tuhan Yang Kuimani

Ini tentu bukan telaah mendalam tentang Tuhan. Untuk menggapai kedaulatan Tuhan dengan pikiran terbatas, jelas bukan seperti itu maksudnya. Kita tetap teringat kata-kata St Agustinus, “Jika Tuhan sudah dipahami maka Ia bukan Tuhan lagi”. Tetapi, ini sama sekali tak berarti bahwa Tuhan itu sekian jauh di sana dan bahkan terasing di kesenyapan dunia-Nya sendiri.

Selalu ada keyakinan teguh bahwa Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini. Tuhan adalah ‘pelangi indah keseharian hidup manusia’. Tertenun dan terjumpakan dalam berbagai kisah dan aneka peristiwa. Agama apapun gambarkan kisah-kisah mendasar perjumpaan manusia dengan Tuhan. Tuhan ingin dipahami dan digapai. Karena bagaimanapun, kisah komunikasi dan gambaran setiap manusia tentang Tuhan punya dampak pada sikap dan tindakan. Iya, itulah konsep tentang Tuhan yang berpengaruh pada tabiat dan gerak laku manusia.

Baca juga: Mari Pulangkan Agama pada Misteri

Agama-agama tetap bergelora bicara tentang iman. Setidaknya, itulah yang dilukiskan oleh Karen Amstrong (A History of God, 1993). Sering iman dipahami sederhana sebagai aksi atau dinamika penyerahan diri manusia pada Tuhan. Paradigma penyerahan diri itu dibalut dengan kesadaran dasar:  Allah adalah Tuhan pencipta dan penyelenggara kehidupan; dariNya manusia berasal dan saatnya akan kembali kepadaNya.

Kekristenan miliki tesis dasar seperti apa Tuhan itu. “Allah menjadi Manusia” dalam diri Yesus adalah kisah cinta tak terbantahkan. “Jalan turun Allah” menuju dan menjadi manusia menyapa kisah-kisah kemanusiaan sekian nyata. Dalam pribadi Yesus dan seluruh peristiwa hidupNya Allah kesanaan adalah Allah kesinian, dan juga menjadi Allah sekarang ini dan untuk selamanya.

Tuhanku dalam Primat Kasih

Gelora dasar kehadiran Yesus, Putra Allah yang hidup, bertolak dari primat kasih ilahi. Dalam keteduhan, dapat direnungkan dari apa yang diyakini oleh penulis Yohanes, “Begitu besar Kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal…” (Yoh 3:16). Pribadi Yesus itu tergambar telak dalam seluruh perjalanan hidup, ajaran, kata-kata, sikap serta tindakanNya. Dan segalanya bernafaskan Kasih. Apa yang menjadi jalan dan kisah hidup Yesus itulah yang mesti dilanjutkan oleh para murid.

Klik dan baca juga:  Sekadar Menimbang Sekolah Jam 5 Pagi

Bagi kekristenan, kasih itu menjadi cemerlang saat seseorang hidup sebagai anak Allah dan memandang sesama serta hidup bersama sebagai saudara. Impresi kasih jadi sungguh tak terhindarkan. Bukankah kasih adalah alasan dasar untuk satu gerak dan keberadaan para pengikut Kristus? Mandat pastorasi bagi Petrus (juga bagi Gereja semesta) disematkan setelah ia mesti berikrar setia dalam kasih, demi kasih dan terhadap Sang Kasih, yakni Yesus sendiri (cf Yoh 21:15-17).

Baca juga: Baju Agama yang Belum Juga Usang

Bagaimanapun, tak mudahlah untuk hayati kasih sebagaimana diamanatkan Yesus. Gereja yang terluka adalah cerita-cerita para murid Yesus (hingga kini) ‘yang didera dan ditelanjangi’ dalam berbagai cara. Tetapi, mari kita yakin pula bahwa luka-luka Gereja adalah kisah-kisah seram dan suram di dalam tapak-tapak ziarah dan hidup di dalam Gereja itu sendiri, dan bahkan merambah pada bangsa manusia pada umumnya.

Tak Mudah Meniti Jalan Kasih

Namun, ada juga hadangan sengit yang bertumpuh pada arus dunia postmodern yang makin tak terbendung. Gereja, kaum beriman bahkan manusia sejagat terjerembab dalam iklim a-spiritual. Bila disimak selintas dari The Shattered Latern, keadaan seperti itu merantai manusia dalam apa yang disebut ‘narcissism, pragmatism dan unbridled restlessness(Rolheiser, 1994).

Tiga hal itu sungguh memburamkan mata manusia untuk menatap ke langit (Yang Ilahi) dan memandang ke bumi (sesama). Narsisme menjerat manusia untuk hanya sibuk dan berasyikria dengan diri sendiri. Pragmatisme sentralkan atensi manusia hanya pada kerja (pekerjaan), pada segala pencapaian serta pada hasil (produksi). Dalam pada itu, manusia lalu jadi terbebani oleh gelombang kegelisahan yang tak terkendali (ubridled restlessness).

Klik dan baca juga:  Antara Demo dan Manikeisme Jalanan

Bila dipaksa hubungkan ketiga hal itu dengan sukacita Injili, maka kiranya Yesus, Sang Guru Ilahi, telah ingatkan para murid dan para pendengarNya akan betapa pentingnya kemerdekaan dan kebebasan manusia bercitra. Manusia mesti bebas dari keterbelengguan oleh dirinya sendiri. Ia mesti bebas dari perangkap workalcoholic. Manusia mesti lepas merdeka dari rupa-rupa kegelisahan yang membuatnya rambun dalam menemukan celah untuk satu alam katarsis dan konsolasi yang sehat.

Kembali Ke Sang Sabda

Berpusat pada diri sendiri sungguh membahayakan. Dari diri sendiri, seseorang lalu mengukur segalanya. Di situlah lahirlah segala pertarungan memperebutkan popularitas (pujian), fasilitas (kemudahan), cinta serta harta (uang). Dalam pada itu kekuatan dan kekuasaan mesti digapai demi satu jaminan akan segala yang diperjuangkan itu. Yesus ingatkan para murid untuk hadir dan tampil sebagai ‘orang yang dibenarkan Allah’ (cf Luk 18:9-14). Bukan sebagai sebagai orang berada di atas dan mengalahkan orang lain. Bukan sebagai orang suka membenarkan diri sendiri serentak merasa dibenarkan oleh ego.

Yesus bukannya anti kerja (pekerjaan). Tetapi, saat kerja menjadi sentrum, Ia mesti ingatkan bahwa ‘manusia mesti bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kehidupan kekal’ (Yoh 6:27). Segala peras keringat tak semata-mata demi makan-minum. Segala pekerjaan mesti membebaskan manusia untuk menikmati dan mengalami hidup sebagai pemberiaan Tuhan yang indah. Manusia tak boleh terjebak dalam pekerjaan sebagai idolatria tanpa jedah sejenak demi pengudusan saat dan hari Tuhan.

Dan, kisah-kisah Injil itu banyak berbicara tentang ketaknyamanan hati manusia berkaitan dengan relasinya akan yang fana. Lebih banyak dalam pengajaranNya, Yesus berbicara kelekatan hati manusia pada materi atau harta kekayaan. Kegelisahan hati tak terkendali diakibatkan oleh cara berpikir dan bertindak seolah-olah harta kekayaanlah yang menjadi jaminan mutlak kenyamanan hidup. Kata-kata Yesus ini harus menjadi peringatan tegas bagi para murid dan kita sekalian, “Di mana hartamu berada di situ hatimu berada” (Mat 6:21).

Klik dan baca juga:  Dipanggil untuk Menjadi Orang Biasa

Baca juga: Pancasila Rumah Kita

Harta kekayaan serta materi apapun sungguh berguna. Namun ketika ia jadi pokok kegelisahan tak berakhir bagi hati manusia maka ia menjadi halangan serius dalam perjumpaan manusia dengan alam lingkungan, sesama manusia dan Tuhan sendiri. Dan bahkan sayangnya manusia menjadi pesakitan yang terpenjara oleh dirinya sendiri. Mari kita seriusi lagi kata-kata Yesus, Sang Guru, “Berjaga-jagalah dan berwaspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walau seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tak tergantung pada kekayaannya itu” (Luk 12:15).

Kata Akhir

Mari kita kembali lagi pada The Shattered Latern. Rolheiser berkeyakinan bahwa cinta diri berlebihan (narsisme) bisa menjadi sumber dari banyaknya rasa sakit hati (heartaches); fokus tak terkendali pada pekerjaan dan rupa-rupa keberhasilan (pragmatisme) menggiring manusia kepada alam sakit kepala (headaches); sementara variasi kegelisahan tak terkendali (unbridled restlessness) benamkan manusia ke dalam rawa-rawa sulit tidur nyenyak (insomnia). Apa artinya dengan segala yang dimiliki jika hanya mau bertarung dengan pedih perih di di hati, pusing di kepala, serta bolak-balik tidur tak nyaman?

Tentu setiap manusia, dalam kisah pengalaman pribadinya, sanggup melihat dan mendeteksi seperti apa kekuatan dan kerapuhan di jalan hidupnya. Bagi seorang kristen, hidup yang bercitra itu selalu berkarakter relasional: dengan Tuhan, dengan sesama dan alam lingkungan serta dengan dirinya sendiri. Dan keagungan relasi itu selalu ditenun dengan benang-benang kasih sayang. Dan yakinlah kasih itu membebaskan!

Maka, setiap pengikut Kristus selalu terpanggil untuk memeluk Tuhan. Memeluk SabdaNya. Memeluk dalam kasih dan dengan kerinduan yang tak pernah pudar.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro-Roma

 

 

Facebook Comments Box